Featured Posts

SANTO YOSEF FREINADEMETZ, SVD

MISIONARIS PERTAMA SVD DI TIONGKOK.


"Janganlah kita lupa akan saudara-saudara kita yang kurang beruntung karena belum mengenal Allah dan tidak memiliki iman kita. Juga hendaknya kita ingat akan misionaris-misionaris yang bekerja di tengah kaum tak beriman. Jika ada seorang yang membutuhkan bantuan doa, itulah misionaris."

(penggalan khotbah Josef Freinademetz pada hari perpisahan sebelum berangkat ke misi di Tiongkok)

 

Dilahirkan pada tanggal 15 April 1852. Orang tuanya Yohann Matthia Freinademetz dan Anna Katharina (kelahiran Algrang dan Sottvalgiarei), mempunyai tiga belas anak. Empat di antaranya meninggal beberapa harai sesudah kelahiran. Bilik yang agak besar dalama rumah mereka - seperti dalam rumah-rumah di pegunungan Alpen - dilapisi dengan kayu, sehingga terasa hangat lebih-lebih dalam bulan - bulan musim dingin. Sebuah monogram Kristus dengan tahun 1848, terlukis pada loteng, menandakan bahwa bilik itu pernah dipugar ketika diadakan perluasan bangunana ini. Di sinilah Freinademetz mengalami kebahagiaan bersama dengan orangtuanya dan saudara-saudarinya. 
Josef Freinademetz berasal dari Oies, sebuah dusun kecil yang menjadi bagian dari desa Badia, dalam lingkungan Abtei di lembah Gader, dan di tengah-tengah pegunungan Dolomites yang indah sekali. Rumah kelahirannya telah menjadi sebuah rumah doa di mana para peziarah dan para turis senang berhenti di sana untuk mengalami saat hening, tenang dan damai. Mereka meletakkan ketegangan-ketegangan, kecemasan-kecemasan dan hal-hal yang menjadi buah pikiran mereka di depan gambar santo ini. Orang-orang setempat amat berdevosi kepada “Ujöp da Oies”, dan kita akan menemukan gambar santo ini di hampir seluruh rumah di Val Badia dan Tyrol Selatan. Setiap gereja paroki di desa ini mempunyai sebuah sudut yang dibaktikan kepada misionaris besar ini. Di Alto Adige ada dua gereja dan beberapa kapel yang memakai namanya. Figur Josef Freinademetz menangkap perhatian dan membangkitkan rasa ingin tahu dari orang-orang yang mengunjungi tempat ini. Daya tarik apa yang begitu kuat yang menyebabkan orang muda yang berusia 27 tahun ini meninggalkan keluarganya dan desanya yang tercinta dan pergi ke Cina tidak pernah kembali lagi ? Ia meninggalkan Val Badia untuk pergi ke Cina pada bulan Maret 1879, dan menjadi jembatan yang menghubungkan desanya yang kecil dengan Cina. Sebuah medali yang dibuat oleh Martin Rainer pada tahun 1991, seorang seniman dan pematung dari Tyrol Selatan menggambarkan identitas misioner Joseph Freinademetz dengan baik. Bagian depan menunjukkan sebuah potret Joseph dengan tulisan : Freinademetz Josephus SVD. Dengan ketrampilan yang besar Martin Rainer membantu kita untuk menangkap karakter dasar dan kehidupan misioner dari Santo kita ini. Josef Freinademetz ditampilkan amat realistis meski dalam gaya seni modern. Seperti yang kita ketahui dari banyak fotonya, dengan segera ia dikenal sebagai seorang yang dewasa, matang, berwajah kurus, lelah karena kerja keras dan kesulitan kehidupan yang menuntut banyak kurban, penyangkalan dan kekurangan. Ia mengenakan pakaian Cina, dapat diidentifikasikan sebagai seorang Cina diantara orang-orang Cina. Di kemudian hari ia akan berkata : Sekarang saya lebih menjadi orang Cina daripada orang Tyrol, dan saya ingin tetap menjadi orang Cina bahkan di surga.
Perasaan-perasaan cintanya dan pengabdiannya kepada mereka yang dipercayakan pada pemeliharaannya membantunya untuk menemukan dan mengagumi kekayaan-kekayaan kebudayaan Cina. Penghargaan bagi orang-orang Cina ini terungkap secara tepat dalam kata-katanya : Bahkan di surga saya ingin tetap menjadi orang Cina.
Di tangannya Josef Freinademetz sedang membawa sebuah kitab yang besar dan di tengah kitab itu terukir sebuah salib yang besar. Secara mengesankan jari-jari tangan kanannya menunjuk kepada kitab yang mengandung Sabda Allah datang kepada kita dalam diri Yesus Kristus yang dikumandangkan dan diwartakan oleh Josef Freinademetz.
Kata-kata dari kitab Ratapan : Kanak-kanak meminta roti, tetapi tak seorangpun yang memberi (Rat. 4:4) berarti kelaparan akan kebenaran dan akan Allah dari begitu banyak orang kafir yang berada di tengah-tengah kegelapan mereka. Kata-kata ini menyentuh hati Joseph Freinademetz secara mendalam, yang sejak sebagai seorang pelajar percaya bahwa ia melihat kanak-kanak ini. Sebagai kanak-kanak kafir di Cina. Ia sendiri merasa terdorong untuk membawa roti Sabda Allah kepada orang-orang kafir yang malang ini dan ia biasa berkata : “Siapa yang dapat lebih malang daripada orang-orang kafir yang malang ini yang tidak mengetahui Pencipta mereka dan yang tidak mempunyai harapan akan hidup kekal ? Maka marilah menolong mereka dengan seluruh kekuatan kita dan kita tidak akan kehilangan sesuatupun".
Bagian belakang dari medali menunjukkan Joseph Freinademetz yang berdiri tegak di atas sebuah kapal di tengah-tengah laut. Pada bagian kiri adalah tepi pantai dengan gereja paroki Badia dan tahun kelahirannya - 1852. Josef Freinademetz dibaptis di gereja di Badia dan merayakan misa perdananya di sana. Di sanalah ia mengucapkan kata-kata perpisahan kepada orang-orang yang dikasihinya. Pada bagian kanan kita melihat tepi pantai yang lain dengan sebuah pagoda orang Cina dan tahun kematiannya - 1908. Santo ini sekali lagi berpakaian sebagai seorang Cina sedang membawa sebuah salib yang besar di tangannya, yang di atasnya dapat dilihat lambang Tritunggal : segitiga dengan mata Allah di bagian tengah. Allah tidak pernah kehilangan pandangan-Nya terhadap misionaris-Nya yang sedang mengadakan perjalanan ke Cina dan di Cina. Tiga tahun setelah kedatangannya di Cina, ia menulis kepada teman dan pendermanya yang terkasih, Franz Thaler : Sekarang, teman yang terkasih, akhirnya Allah yang baik telah menuntunku ke tempat di mana saya begitu menginginkannya, yaitu di mana saya dapat berada sendirian di tengah-tengah orang-orang kafir. Mulai sekarang hidupku akan ada dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, dalam sebuah usaha untuk memenangkan jiwa-jiwa sebanyak mungkin. Oh suatu tujuan yang begitu mengagumkan ! dan Allah memilih untuk memanggilku pada kehidupan ini tanpa jasa sedikitpun dari pihakku. Saya tidak menyesali apapun, kecuali mungkin hal ini, bahwa saya bukanlah misionaris yang baik yang seperti seharusnya. Namun Allah terbiasa berbelaskasihan terhadap kelemahan kita, maka saya tidak berputus asa dan saya mencoba untuk melakukan semampu saya. Hal yang lain saya serahkan kepada Tuhan. Hanya dengan bimbingan dan kekuatan Roh Kudus, Joseph Freinademetz dapat menjadi begitu berhasil. Dibagian kanan segitiga ada sebuah tangan, tangan Allah Bapa seperti Allah sendiri yang menunjuk jalan kepada misionaris-Nya. Tangan Allah selalu diatasnya, dan Joseph Freinademetz seringkali mengalami berkat-berkat yang berkelimpahan yang seringkali diberikan Allah yang baik kepadanya. Josef Freinademetz di atas lautan sedang membawa salib dari desa asalnya ke Cina, dari sebuah daerah orang-orang Kristen ke daerah orang-orang kafir, dari satu benua ke benua lain. Salib di tangannya sangat besar dan ini dimaksudkan oleh sang seniman sebagai tanda kasih Allah yang tak dapat dimengerti. Menerima salib Kristus berarti menerima kasih Allah namun ini juga berarti menerima penderitaan dalam kehidupanku sendiri sehingga saya dapat menjadi jembatan bagi suatu kehidupan yang lebih berkelimpahan di keabadian. Joseph Freinademetz seringkali berbicara tentang berkat salib. Ia membawa salib, namun pada waktu yang sama ia mencari perlindungan di bawah salib sebagai suatu alat perlindungan. Perahu yang rapuh, yang mana ia mendapatkan dirinya sendiri tergantung pada belas kasih ombak lautan, menunjukkan tentang suatu kehidupan misionaris yang berbahaya dan mengingatkan kita bahwa misionaris telah melangkah dari tanah yang kokoh ke suatu dunia yang tak pasti, ke suatu dunia yang berada dalam krisis, di mana hanya imannya yang dapat menopang dan menghiburnya.
Josef Freinademetz membawa injil salib dari satu benua ke benua lain, dari satu budaya ke budaya lain. Ia dikuasai oleh suatu kepastian yang tak dapat digganggu bahwa Allah telah mewahyukan diri-Nya sendiri dalam Yesus Kristus dan karenanya Kristus harus dikumandangkan dan diwartakan seluruh dunia, karena hanya dalam Dia ada keselamatan dan ditemukan hidup kekal.

 

DOA KEPADA SANTO JOSEPH FREINADEMETZ
Bapa di Surga, Engkau telah melimpahi kami rahmat dan berkat-Mu melalui para kudus. Kami bersyukur kepada-Mu karena memilih Santo Joseph Freinademetz, misionaris ulung di Cina, sebagai teladan misi bagi kami. Dialah pendoa ulung tanpa kenal lelah. Doa adalah udara yang dihirupnya dan kegembiraan bagi hidupnya. Doa menggairahkan panggilannya untuk bermisi, kasihnya terhadap sesama yang dijumpai, dan jelmaan kedalaman hidup rohaninya. Dengan perantaraan Santo Joseph Freinademetz, kami mohon dengan sangat kepada-Mu, ya Tuhan, limpahilah rahmat-Mu keatas semua misionaris agar kami dapat menjadi orang-orang yang berdoa dan dapat beradaptasi dengan kebudayaan lain di tempat kami diutus. Terangilah kami untuk menemukan jalan yang Engkau kehendaki kami lewat, dan rencana yang telah Kausiapkan bagi kami. Semoga kami memiliki keberanian seperti Santo Joseph Freinademetz, untuk tetap berlangkah maju, walau banyak tantangan menghadang dalam karya misi, dan tetap setia menghidupi panggilan kami. Kami mohon ini melalui Kristus Tuhan kami. Amin.

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive