top of page

DIAKON: PELAYAN YANG RENDAH HATI

Rahasia kekuatan seorang murid Yesus adalah mengabdi dengan rendah hati di tempat yang paling rendah. Menjadi diakon berarti menjadi pelayan yang rendah hati. Karena itu, saya berterima kasih kepada para diakon karena saya heran bahwa mereka berani memilih untuk menjadi pelayan. Provinsial SVD Ende Pater Leo Kleden, SVD menyampaikan hal ini dalam sambutannya pada perayaan ekaristi tahbisan 13 diakon SVD di Kapel Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Kamis (2/6). 13 diakon yang ditahbiskan ini telah mengikrarkan kaul kekal dalam Serikat Sabda Allah (SVD) pada 15 Agustus 2014. Pater Leo mengungkapkan dalam pelayanan misioner sebagai seorang diakon, Sabda dan roti harus digabungkan. Melalui roti, Sabda mendapat perwujudan dalam amal kasih; tanpa roti, Sabda hanyalah sebuah kumandang tanpa isi. Sebaliknya, tanpa Sabda, roti hanyalah ampas tanpa isi. Yesus Kristus, kata Pater Leo, adalah Sang Sabda yang menjelma dalam sepotong roti yang dipecah-pecahkan. “Yesus Kristus adalah wajah kerahiman Allah. Kredibilitas Gereja terlihat dalam hal bagaimana dia menunjukkan kasih Allah yang penuh kerahiman dan berbelaskasih. Kamu semua adalah wajah kerahiman Allah di tengah umat yang akan kamu layani,” kata Pater Leo. Hadir dalam perayaan ekaristi ini, Rektor Seminari Tinggi Ledalero Pater Kletus Hekong SVD, Preses Seminari Tinggi Ritapiret Romo Philip Ola Daen, Provinsial SSpS Flores Bagian Timur Sr. Inosensia SSpS, 50 imam, biarawan, biarawati, anggota keluarga dari para diakon, anggota komunitas Ledalero, dan ratusan undangan lainnya yang memenuhi Kapel Agung Ledalero. Perayaan ekaristi tahbisan diakon ini mengusung tema “Jadilah kepadamu seperti yang kau kehendaki…” (Matius 15:28). Ekaristi suci ini dimeriahkan oleh kor yang ditanggung oleh para frater Seminari Tinggi Ledalero. Yesus sebagai Contoh Uskup Maumere Mgr. Gerulfus Kherubim Parera SVD, sebagai uskup pentahbis, dalam sambutannya mengatakan Yesus adalah contoh dan teladan utama dalam karya pelayanan yang mampu menjangkau semua orang dan berani melewati batas-batas. Seorang pelayan, kata Uskup Kherubim, mesti berani melupakan dirinya sendiri dan mengutamakan orang-orang yang dilayani. “Menjadi diakon berarti menjadi hamba yang selalu siap sedia dan setia menjaga agar pelita pelayanan itu tetap bernyala. Diakon adalah seorang hamba, dan tuannya adalah umat yang memerlukan karya kasih dan pelayanannya. Siap-siagalah senantiasa untuk mengabdi kepada kepentingan umat dan bukan kepada kepentingan sendiri,” kata Uskup Kherubim. Sementara Diakon Selcilius Riwu Nuga SVD, dalam sambutannya mewakili pada diakon, mengungkapkan bahwa panggilan hidup mereka adalah bagian dari rencana Allah sendiri. Mereka percaya bahwa Allah telah merencanakan panggilan ini dan dalam kepercayaan ini, mereka berusaha untuk menjawabi panggilan Tuhan. “Kami berterima kasih kepada semua pihak yang dengan cara mereka masing-masing telah membantu aktualisasi diri kami. Dalam aktualisasi diri ini, opsi kami adalah tinggal dan berpihak pada orang-orang miskin dan menderita,” kata diakon yang mendapat penempatan pertama di Brasil ini. 13 Diakon 13 diakon yang ditahbiskan beserta penempatan pertama mereka adalah Vitalis Nustanto Atty Loit SVD (Ende), Agustino Gusti Horowura SVD (Brasil), Timoteus Titus Mauk SVD (Zambia, Afrika), Daniel Meni SVD (Ruteng), Dominggu Mite Kota SVD (Ende), Nicodemus Moruk SVD (Portugal), Ngganggur Vinsensius SVD (Paraguay), Yoseph Riang SVD (Timor), Selcilius Riwu Nuga (Brasil), Samuel Sori Wekin SVD (Nicaragua), Saverius Susanto (Austria), Marselus Tanik (Jawa) dan Karolus Luangga Tefa SVD (Slovakia).

bottom of page