Featured Posts

UNTUK URUSAN KEMANUSIAN KITA TIDAK PERLU MEMANDANG AGAMA

 Berbagi Pengalaman TOP di Pesantren Walisanga Ende

 

Menyimak kisah tentang frater yang menjalankan program Tahun Orientasi Pastoral (TOP) pada sebuah lembaga pendidikan Islam, semisal Pesantren, boleh jadi akan terdengar asing, bahkan terbilang aneh untuk sebagian besar orang. Banyak orang tidak mengerti, pun setelah dijelaskan berulang-ulang, soal bagaimana mungkin seorang frater menjalankan TOP di Pesantren. Pelbagai pertanyaan terlontar: apa yang frater kerjakan? Apakah frater tidak mengalami goncangan iman? Apakah kehadiran frater tidak mengganggu iman penghuni Pesantren?
Untuk menjawabi pertanyaan ini, saya akan membagikan pengalaman saya ketika menjalankan TOP di Pondok Pesantren Walisanga (PPWS) Ende, sejak Juli 2014 hingga Desember 2015. Kisah tentang perjuangan memuliakan toleransi antarumat beragama, yang dijalankan Serikat Sabda Allah (SVD) dan Pesantren Walisanga Ende, akan membingkai keseluruhan pengalaman saya. Besar harapan saya, kiranya kisah ini boleh membuka wawasan kita akan agungnya sebuah kehidupan yang berlandaskan toleransi.

 

Profil Pondok Pesantren Walisanga Ende
PPWS Ende, seperti kebanyakan Pesantren, merupakan lembaga pendidikan khas Islam yang mendidik anak dan remaja Islam agar menjadi lebih baik, khususnya dalam bidang keagamaan. Awalnya, lembaga yang didirikan almarhum KH. Mahmud EK ini beralamat di Tarbyah, Jln. Perwira, Kelurahan Kota Ratu, Kecamatan Ende Utara. Namun karena beberapa alasan mendasar, beberapa waktu kemudian PPWS Ende pindah ke kaki Gunung Meja, Kampung Pu’u Pui, Kelurahan Rukun Lima, Kecamatan Ende Selatan. 
Secara hukum, PPWS Ende bernaung di bawah Yayasan Walisanga Flores. Selain Pondok Pesantren, yayasan yang sama juga membawahi Panti Asuhan, Madrasah Aliyah PPWS (SMA), Madrasah Tsanawiyah PPWS (SMP), Kelompok Bermain (Kober)/TK Abba PPWS, serta beberapa unit keterampilan yakni tata boga, tata busana, pertukangan dan perbengkelan.
Sejarah berdirinya PPWS Ende sebenarnya bermula dari keprihatinan almarhum KH. Mahmud EK terhadap banyaknya generasi muda Islam yang kurang mendapat perhatian, khususnya pada bidang pendidikan dan keagamaan. Kendala utama yang ditemukan KH. Mahmud EK adalah keterbatasan ekonomi orangtua. Dengan demikian, status awal Pesantren ini lebih sebagai sebuah panti asuhan, menolong anak dan remaja dari keluarga kurang mampu untuk boleh menikmati kehidupan yang lebih layak.
Menurut penuturan istri sang pendiri Ny. Hj. Siti Fatima Nganda, saat  bertugas di Wolowaru, ia dan suaminya menyaksikan banyak anak, yang karena keterbatasan ekonomi ditelantarkan orangtua mereka. Perjalanan menuju masa depan anak-anak itu seolah berlalu tanpa pendampingan, baik melalui sekolah formal maupun pembinaan iman.
Sebuah peristiwa yang membuat Ny. Hj. Siti Fatima Nganda semakin terpekur dalam empati yaitu ketika ia bertemu Abdul Karim Joka, putra dari seorang ibu yang mengidap penyakit asma. Beratnya penderitaan sang ibu di satu sisi dan kelamnya masa depan Abdul Karim Joka pada sisi yang lain, menggugah hati Ny. Hj. Siti Fatimah Nganda untuk membawa Abdul Karim Joka ke Ende dan mengasuhnya di sana. Bersamaan dengan kedatangan Abdul Karim pada tahun 1983, sebuah panti asuhan pun mulai dibuka; KH. Mahmud EK bertindak sebagai pemimpin dan Ny. Hj. Siti Fatima Nganda sebagai pengasuh.
Upaya KH. Mahmud EK dan Ny. Hj. Siti Fatima Nganda untuk mendirikan panti asuhan tidak luput dari komentar miring dan cemoohan masyarakat sekitar. Namun cinta yang tulus bagi yang lemah dan terbuang selalu membuat keduanya berjuang semakin keras. Mereka berusaha menanggapi cemoohan itu secara positif, serta menyikapinya sebagai pelecut semangat agar berjuang lebih keras lagi.
Seiring perjalanan waktu, suasana di panti asuhan menjadi semakin ramai. Penghuni panti menjadi semakin banyak dan memiliki latar belakang yang beragam karena berdatangan dari berbagai daerah di Flores dan Lembata. Umumnya, rutinitas penghuni panti lebih difokuskan pada pendampingan rohani berasaskan ajaran Islam, yang mereka jalankan secara bersama-sama. 
Bersamaan dengan bertumbuhnya jumlah penghuni panti, kesadaran untuk mendirikan sebuah lembaga penunjang perlahan-lahan muncul dalam benak KH. Mahmud EK dan Ny. Hj. Siti Fatima Nganda. Maka tidak lama kemudian, berdirilah sebuah lembaga yang baru yakni Pondok Pesantren Walisanga Ende. Dengan demikian, ada dua lembaga yang bedampingan yakni panti asuhan dan PPWS Ende. Di kemudian hari, kehadiran PPWS Ende terbukti mampu menolong penghuni pondok untuk mendalami  ajaran Islam secara lebih baik.
Sebagai seorang tokoh yang senantiasa memperjuangkan keberimbangan antara pengetahuan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum, KH. Mahmud EK selanjutnya mencari cara agar anak-anak panti mendapat kesempatan untuk mengenyam ilmu pengetahuan umum pada sekolah formal di luar lingkungan panti. Dalam banyak refleksinya, seperti dituturkan orang-orang terdekatnya di kemudian hari, KH. Mahmud EK senantiasa berusaha membuka wawasan berpikir penghuni panti agar tetap survive di tengah perkembangan zaman. Bagi dia, modal utama untuk bersaing bukan saja terbatas pada ilmu-ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum. Sikap  ini menunjukkan  prinsip hidup KH. Mahmud EK yakni teguh dalam tradisi keagamaan, tetapi tetap terbuka terhadap cara berpikir yang lain.
Memasuki awal tahun 1984, situasi panti asuhan dan Pondok Pesantren mulai redup lantaran beban ekonomi yang semakin tinggi, khususnya biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah umum di luar panti. Oleh karena itu, demi menghemat biaya, langkah yang mesti segera diambil adalah membuka Madrasah Tsanawiyah (MTs), lembaga pendidikan formal Islam setingkat SMP, dalam lingkungan panti. Setelah berjuang cukup keras, usaha ini pun berhasil dan dengan demikian tahun ini menjadi tahun berdirinya sebuah lembaga pendidikan formal dalam lingkup panti asuhan.
Hampir sama dengan proses berdirinya MTs, pada 1989 KH. Mahmud EK mulai membuka Madrasah Aliyah (MA), lembaga pendidikan formal Islam setingkat SMA,  dalam lingkungan panti. Selain bertujuan meminimalisasi biaya pendidikan, berdirinya MA juga bertujuan mempersiapkan penghuni panti untuk bisa bersaing dan hidup mandiri di tengah masyarakat. 
Selanjutnya pada 2013, Ny. Siti Halimah Assadiyah, puteri KH Mahmud EK dan Ketua Yayasan Walisanga Flores saat ini, membuka sebuah Kober/TK Abba PPWS Ende. Dengan demikian, Yayasan Walisanga Flores hari ini membawahi beberapa unit yakni panti asuhan, Pondok Pesantren, Kober/TK, MTs, dan MA. 
Beberapa tahun yang lalu, PPWS Ende hanyalah sebuah lembaga sederhana yang tidak dikenal luas baik oleh pemerintah maupun masyarakat Kabupaten Ende. Banyak orang tidak mengenal lembaga ini karena jarang, bahkan tidak pernah, terlibat dalam kegiatan-kegiatan di tingkat kabupaten. Namun dalam perkembangan selanjutnya, terutama ketika lembaga ini mulai dipimpin Ny. Siti Halimah Assadiyah, PPWS Ende menjadi semakin dikenal dan bahkan menjadi lebih dikenal dibandingkan beberapa sekolah lain. Ada banyak kegiatan di mana para santri, sebutan bagi siswa-siswi penghuni Pesantren, mulai melibatkan diri, misalnya mengikuti festival drumband, lomba vokal grup, lomba bola voli dan kegiatan-kegiatan lainnya. Aneka kegiatan ini mendatangkan beberapa keuntungan antara lain melatih para santri untuk bersosialisasi dengan lingkungan luar Pesantren, mengembangkan kreativitas dan talenta para santri, menarik minat anak dan remaja untuk bergabung ke Pesantren, dan juga menggerakkan hati para donatur untuk menyumbangkan sesuatu ke Pesantren. 
Sekarang ini, santri yang tinggal di PPWS Ende berjumlah 94 orang, tidak terhitung siswa-siswi dari lingkungan sekitar yang bersekolah di pesantren. Para santri ini berasal dari Manggarai, Bajawa, Ende, Larantuka, Lembata dan Sumba. Pada umumnya mereka datang dari keluarga sederhana dan sebagian besar orangtua mereka sedang merantau ke Malaysia, Kalimantan dan Batam. 
Keadaan santri dengan latar belakang yang demikian sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan para pembimbing lainnya dalam hal pendampingan. Pada beberapa kasus tertentu mereka perlu diperhatikan dan apabila ini tidak dipenuhi maka mereka akan berjuang untuk mendapatkannya entah dengan cara positif atau pun negatif. Meski demikian, secara umum saya berani menyimpulkan bahwa pesantren dalam visi dan misinya sudah menjalankan tugas yang sangat mulia dalam membentuk kepribadian para santri. Atas usaha ini, para santri telah menjadi pribadi yang tahan banting, kreatif, disiplin, bertanggung jawab, beriman dan berakhlak mulia.

 

Misi SVD di Pesantren Walisanga Ende
Ketika saya dipercayakan untuk berpraktik di Pesantren, spontan muncul suatu pertanyaan dalam benak saya, apa yang akan saya buat di Pesantren? Suatu pertanyaan yang membangkitkan kecemasan dan keraguan serta menimbulkan pergulatan dalam diri saya. Dalam proses pergulatan itu lantas saya coba memasrahkan diri pada kehendak Tuhan. Singkat kisah, akhirnya saya berada di satu titik bahwa saya siap untuk menerima tugas dan kenyataan apa saja yang akan terjadi di Pesantren.
Kehadiran frater di PPWS Ende, saya kira, menjadi suatu warna khas bagi lembaga ini. Secara umum, lembaga sangat senang dengan kehadiran frater karena umumnya para frater bisa mengerjakan tugas apa saja yang dipercayakan. Selama saya menjalankan praktik di PPWS  Ende, beberapa tugas yang dipercayakan kepada saya adalah: 
    Pertama, menjadi seorang guru. Rasanya sulit untuk menjadi seorang guru dengan latar belakang filsafat. Akan tetapi, dengan bermodalkan keberanian dan beberapa pengalaman ketika masih di Ledalero, saya kemudian memberanikan diri untuk mengampu dua mata pelajaran yakni Matematika untuk SMP sampai SMA dan komputer untuk SMP. 
Tugas ini memang terbilang sulit. Ada sedikit kecemasan dan ketakutan dalam diri saya dengan munculnya pertanyaan: apakah yang saya ajarkan ini bisa dimengerti, apalagi Matematika adalah mata pelajaran UN, yang menurut pengakuan banyak siswa merupakan pelajaran tersulit? Kecemasan ini mendorong saya untuk mempersiapkan bahan pelajaran dengan baik serta mencoba untuk membawakannya dengan menarik.
Seiring perjalanan waktu, saya semakin menikmati tugas ini. Ada beberapa hal yang saya dapatkan dari tugas ini antara lain: saya menjadi semakin percaya diri, semakin siap menerima tantangan dan semakin luas dalam berelasi. Saya bersyukur karena dengan mengampu mata pelajaran UN ini saya semakin terlibat dalam kegiatan atau pertemuan para guru Matematika tingkat rayon (perkumpulan guru Matematika di tingkat kecamatan) atau mengikuti Pendidikan Kilat (Diklat) guru mata pelajaran UN tingkat kabupaten. Saya belajar banyak dari guru-guru yang memang sudah lama menjadi guru. Dalam kaitannya dengan hal ini, nama Pesantren juga semakin dikenal karena keterlibatan frater dalam beberapa kegiatan di tingkat kabupaten. 
    Kedua, menjadi pendamping asrama. Selain terlibat aktif sebagai guru, saya juga menjadi pendamping asrama. Segala sesuatu yang berhubungan dengan asrama, misalnya administrasi, uang pandaftaran masuk awal dan beberapa tugas lain menjadi tanggung jawab frater. Dalam menjalankan tugas ini sering kali saya berhadapan dengan beberapa tantangan, misalnya bagaimana berhadapan dengan kekurangan yang terjadi di Pesantren serta bagaimana cara untuk menanggulangi kekurangan itu. Bagaimana pun frater harus bisa menjadi orang yang tanggap dengan beberapa kekurangan yang ada. Salah satu contoh yang dibuat selama saya di pesantren adalah apabila Pesantren kekurangan sayur, jalan terakhir yang ditempuh adalah saya mencari sayur di Biara St Yosef Ende, komunitas tempat saya tinggal. 
Situasi Pesantren yang berkekurangan ini memang sering saya alami. Saya pikir, seorang frater yang berpraktik di Pesantren memang harus bisa menjadi orang yang peka dengan segala kekurangan yang dialami Pesantren. Hanya dengan itu saya bisa bahagia dengan tugas pelayanan yang saya jalankan di tempat itu. Selain beberapa tugas ini, ada beberapa tugas lain yang diembankan kepada saya selama di Pesantren antara lain membantu mengurus administrasi sekolah dan yayasan, serta mendampingi anak-anak dalam beberapa perlombaan. 
Selama menjalankan praktik di PPWS Ende, saya tetaplah seorang calon imam dan biarawan SVD yang menghidupi aturan harian di Biara St Yosef Ende. Meskipun saya tinggal di komunitas ini, sebagian besar waktu saya dihabiskan di Pesantren bersama para santri dengan menjalankan beberapa tugas yang dipercayakan. 
Rutinitas harian hampir selalu sama. Usai Ekaristi dan sarapan pagi di biara, saya menyiapkan diri ke Pesantren yang berjarak lebih kurang 2 Km dari biara. Setiap pukul 07.00 Wita, saya mesti sudah berangkat ke Pesantren karena saya, hampir tiap hari, menjadi pembina dalam apel pembuka sebelum masuk kelas. 
Umumnya, kegiatan belajar mengajar berlangsung sampai pukul 13.30 Wita. Selama jam sekolah, entah ada tugas mengajar atau tidak, saya mesti tetap stand by di Pesantren, karena banyak hal mendadak yang memang perlu saya tangani. Setelah jam pelajaran berakhir, saya bisa makan siang bersama para santri, kemudian kembali ke biara. 
Sore harinya, saya biasanya kembali ke Pesantren untuk beberapa keperluan, misalnya untuk memberikan pelajaran tambahan bagi siswa-siswi Kelas IX dan Kelas XII, atau bersama para santri untuk menanam pohon di sekitar lingkungan pesantren. Setelah makan malam di biara saya juga selalu pergi ke Pesantren untuk memantau para santri, tetapi yang lebih penting untuk ada bersama mereka dan mendengarkan mereka dalam segala kesulitan yang mereka hadapi baik di sekolah maupun di keluarga. Sekitar pukul 22.30 atau 23.00 Wita, saya kembali ke biara (dalam momen tertentu kadangkala saya bermalam di Pesantren). 
Meskipun harus selalu bergulat dengan rutinitas harian yang cukup melelahkan ini, di akhir seluruh refleksi saya kemudian muncul suatu kesadaran dalam diri bahwa bukan suatu kebetulan saya ditempatkan di Pesantren. Ada banyak hal positif yang saya dapatkan, misalnya saya dilatih untuk semakin bertanggung jawab dengan segala tugas yang dipercayakan kepada saya, mampu berbagi dari kekurangan serta mampu berkorban demi mengutamakan kepentingan Pesantren. Secara umum, beberapa hal ini sudah sangat membantu dalam mematangkan panggilan saya.
    Setelah menjalankan masa praktik ini sekali lagi saya kembali bertanya diri, misi apa yang sudah saya buat selama di Pesantren. Tidak banyak hal yang sudah saya laksanakan, tetapi saya kira SVD dengan mempercayakan frater untuk berpraktik di Pesantren sebenarnya sudah menjalankan misinya dalam menjunjung keberpihakan terhadap orang kecil, serta dalam mewujudkan dialog profetis yang nyata dan terlibat. Selain itu, sebenarnya kehadiran frater di Pesantren cukup membantu pesantren terutama dalam membuka wawasan berpikir para santri tentang orang–orang dari agama lain. Dengan kehadiran frater di pesantren setidaknya para santri bisa memberikan kesaksian kepada sanak keluarga mereka tentang kerukunan hidup beragama. Hal ini tentu membantu dalam meminimalisasi berbagai kesalahpahaman dalam kehidupan bermasyarakat. 

 

Pesantren: Model dalam Kerja Sama Antarumat Beragama
Pesantren sebagai lembaga pendidikan agama Islam menjadi model dalam mewujudkan kerja sama antarumat beragama. Sebagian besar orang tentu heran ketika tahu bahwa ada frater yang berpraktik pada lembaga ini. Beberapa kecemasan dan keraguan sudah pasti ada. Namun ketika dalam beberapa kesempatan saya memberi kesaksian mengenai apa yang saya buat di Pesantren, keraguan dan kecemasan itu kemudian berubah menjadi suatu kekaguman yang luar biasa untuk beberapa pihak. Dalam hal ini mereka mengakui pesantren sebagai suatu lembaga yang sangat terbuka untuk siapa saja tanpa memandang suku, agama, ras dan golongan. 
Selain bahwa Pesantren menerima frater SVD untuk berpraktik di sana, saya juga melihat keterlibatan beberapa pihak lain yang juga menaruh perhatian terhadap Pesantren, khususnya dari agama Katolik. Beberapa di antaranya seperti: pertama, Biara CIJ yang mencakup empat komunitas (Potu, Emaus, Yasbin dan Naungan Kasih). Secara cukup rutin CIJ sangat memberi perhatian terhadap Pesantren. Keakraban ini memang sudah dibina sejak KH Mahmud EK mendirikan Pesantren yang pada waktu itu hanya berstatus panti asuhan. 
KH Mahmud EK belajar dan mendapat dukungan dari salah satu suster CIJ yang berkarya di Panti Asuhan Naungan Kasih. Berpegang pada sejarah ini, CIJ tetap menempatkan Pesantren sebagai kelompok yang perlu diperhatikan dan didukung. Setiap kali acara keagaamaan di Pesantren, CIJ selalu hadir dan memberikan sumbangan, dan sebaliknya Pesantren pun selalu hadir bila diundang untuk beberapa acara penting CIJ. Relasi yang begitu akrab ini mematahkan persepsi sebagian orang yang melihat agama sebagai isu sensitif yang perlu diawasi. 
Kedua, Biara Ursulin. Biara Ursulin menjadi biara yang cukup dekat dengan Pesantren. Secara umum kedekatan ini bermula dari relasi dalam hal pendidikan anak. Sebagian besar anak KH Mahmud EK menamatkan SD atau SMP di St Ursula. Lantaran seringnya KH Mahmud EK mengantar anaknya ke sekolah kemudian para suster menjadi tertarik untuk berdialog dengan beliau, dan mulai saat itulah relasi terjalin dengan baik. Para suster juga sudah mulai memberikan perhatian terhadap Pesantren dan relasi itu terjalin sampai sekarang. 
Ketiga, Biara SSpS. Para suster SSpS, khususnya yang berkarya di Ende, sangat peduli dengan keadaan Pesantren. Dalam banyak hal mereka juga memperhatikan kebutuhan Pesantren, misalnya dengan memberikan bantuan finansial dan pelayanan kesehatan terhadap para santri.
 Keempat, Biara SVD. Ketiga komunitas SVD yang ada di Ende (Komunitas St Yosef, St Mikael-Syuradikara dan St Kondradus) merupakan komunitas yang mempunyai andil yang cukup besar bagi Pesantren. Pesantren sendiri juga sudah menganggap ketiga komunitas ini sebagai keluarga yang bisa dikunjungi kapan saja. Bahkan dalam beberapa kesulitan,  komunitas-komunitas ini menjadi tempat di mana Pesantren bisa mendapatkan bantuan. 
Secara khusus komunitas Syuradikara juga cukup baik dalam menanamkan semangat kerja sama kepada para siswa. Dalam beberapa kegiatan di Syuradikara, Pesantren sering kali dilibatkan entah hadir dan menyaksikan kegiatan yang ditampilkan oleh siswa-siswi Syuradikara maupun terlibat aktif di dalamnya, misalnya ikut dalam festival drumband di Syuradikara. Selain itu, Pesantren dan Syuradikara juga sering kali menunjukkan sikap saling membantu terutama dalam meminjamkan perlengkapan drumband. Kebiasaan ini tentu menarik dan menumbuhkan suatu kesadaran dalam diri para siswa baik di Pesantren maupun di Syuradikara bahwa mereka semua adalah saudara. Tidak ada yang salah ketika mereka saling berbagi meskipun berbeda agama. 
Selain perhatian dari beberapa biara di atas, saat ini Pesantren juga mendapat dukungan dari beberapa instansi pemerintahan seperti Pajak, PLN, Pertamina, Kompi Senapan C, Polres Ende serta beberapa instansi lainnya.
Demikianlah PPWS Ende yang telah menjelma menjadi lembaga yang dikenal publik. Misi Pesantren dalam mencerdaskan anak dan remaja miskin memang mendapat sambutan yang baik dari banyak pihak. Tidak heran, lembaga ini menjadi lembaga yang sangat terbuka bahkan menjadi contoh untuk semua lembaga pendidikan Islam di tingkat nasional dan internasional. 

 

Penutup

    PPWS sebagai lembaga pendidikan agama Islam menarik perhatian publik tentu karena keberpihakannya pada orang kecil. Pesantren sampai saat ini masih berstatus sebagai panti asuhan karena memang lembaga ini mempunyai visi misi untuk menyelamatkan anak dan remaja kurang mampu dalam melanjutkan pendidikan formalnya. Konsekuensinya, Pesantren tidak memungut biaya bagi anak-anak yang hendak bergabung dalam lembaga ini. Lalu, mengapa kita (baca: SVD) memberi perhatian kepada lembaga ini. Saya kira dalam matra khas SVD kita menempatkan orang-orang  kecil sebagai  sasaran pelayanan. Dengan demikian, kehadiran frater di Pesantren merupakan perwujudan misi SVD secara umum dalam hal keberpihakan pada orang miskin (option for the poor) serta dalam membangun dialog profetis. 
Dalam hal memperhatikan orang-orang kecil, Superior General SVD Pater Heinz Küluke, SVD mengambil motto Putting the Last First (mengutakan yang terakhir). Motto ini kemudian menjadi semangat misi yang dimaklumkan pada saat SVD Indonesia merayakan 100 tahun berkarya di Indonesia. 
Akhirulkalam, kisah pengalaman ini kiranya membuka wawasan kita untuk semakin terbuka dalam membangun dialog antarumat beragama serta menggugah hati kita untuk memberikan perhatian terhadap Pesantren Walisanga Ende.

Wassalamu”alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh.

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive