Featured Posts

“MOTONG” DALAM TRI-NARASI

October 6, 2016

 

Pada 3-11 Januari 2016, para frater Ledalero mengadakan kegiatan rutin tahunan yakni live-in. Dalam edisi Wisma kali ini, kami sajikan refleksi singkat dari Fr. Johan Paji SVD, terkait pengalaman live-in yang ia jalani di Paroki Waiklibang.

 

Minggu, 3 Januari hingga Senin, 11 Januari 2016 seluruh penghuni Unit Mikael Ledalero ‘hijrah’ sejenak dari bukit Ledalero menuju Waiklibang, di ujung timur pulau Flores untuk mengadakan kegiatan live in. Sesuai namanya, Live In secara etimologis
berarti tinggal di dalam. Dalam konteks formasi di Ledalero, Live In berarti sebuah kegiatan ketika para frater mendapat sebuah ‘rumah formasi baru’ di dalam rumah-rumah umat. Artinya, para frater diajak untuk sejenak meninggalkan kemapanan biara dan terjun di tengah-tengah umat, untuk belajar dan merasakan situasi konkret kehidupan umat: kegembiraan mereka, kegelisahan, harapan, serta cita-cita mereka.
Tulisan ini merupakan hasil refleksi saya yang bertolak dari tri-narasi (tiga kisah) utama dan menonjol yang saya alami dalam pengalaman seminggu (3-11 Januari 2016) berada di KBG St. Damianus Motong, Paroki St. Lodovikus Waiklibang. Ketiga narasi ini
menjadi jiwa seluruh kegiatan dan pengalaman misioner saya selama melakukan kegiatan Live In. Seluruh aspek penting dalam formasi sebagai seorang SVD dalam tajuk pengalaman tinggal bersama umat, saya refleksikan dalam kerangka ketiga narasi ini.
Pertama, narasi kebersamaan. Poin kebersamaan merupakan salah satu poin penting dalam SVD yang mengedepankan prinsip internasionalitas dan multikulturalitas. Sejak awal berdirinya, para anggota SVD telah ditekankan untuk hidup bersama dengan orang lain dalam sebuah komunitas. Perbedaan bukanlah alasan untuk mendatangkan
perpecahan. Aneka wajah, satu hati. 
Secara pribadi, hemat saya, tujuan kegiatan live in adalah merealisasikan momen kebersamaan itu bukan saja dengan anggota biara, melainkan juga dengan umat di
luar biara. Dengan kata lain, live in membantu setiap anggota SVD agar tidak terjebak dalam menara gading kemapanan dan kenyamanan biara dan ber-passing over dengan
merasakan secara langsung situasi konkret dalam kebersamaan dengan masyarakat. Sebagai formandi dan calon misionaris, kegiatan live in juga berguna agar kami menjadi
agen pastoral dan misionaris yang andal dan mampu mewartakan kabar gembira Yesus Kristus secara tepat dan kontekstual sesuai dengan keadaan dan situasi umat. 
Berbekal semangat dan terang passing-over inilah, di Motong- Waiklibang, saya coba hidupkan nilai kebersamaan bersama umat. Seyogianya, tidak dibutuhkan usaha yang rumit untuk menghidupkan semangat kebersamaan ini karena budaya kita memang meminggirkan segala paradigma individualis. Tradisi gotong royong, bersama dalam segala hal masih sangat dihidupi di Motong. 
Kebersamaan kami pun tertuang dalam berbagai kegiatan yang kami lakukan dan jalankan bersama. Secara kolektif sebagai satu KBG, kami pernah bahu-membahu membangun rumah sederhana dengan atap dari daun kelapa bagi seorang nenek yang telah menjanda; kami juga selalu berdoa bersama tiap malam; berkatekese bersama pada Jumat malam dan bersama-sama berkerja, bergembira ria dan menari bersama pada momen perpisahan pada hari Minggu siang hingga sore. 
Sedangkan secara pribadi, momen kebersamaan terutama saya jalankan bersama keluarga yang saya tinggal dan keluarga-keluarga yang saya kunjungi. Sebagai sebuah komunitas kecil (kira-kira sekitar 15 KK), tentu cukup mudah bagi saya untuk mengenal dan masuk dalam keluarga-keluarga ini. Dalam setiap kunjungan atau sekadar bercerita bersama, saya selalu berusaha menjadi pribadi yang terbuka, akrab, tahu adat dan tahu diri serta mendengarkan berbagai keluh-kesah mereka. Pengalaman saya selama di Motong membuktikan bahwasanya kebersamaan yang dirajut dalam tali kasih dan persaudaraan nyatanya senantiasa membekas di hati tiap orang. Momen syering pengalaman dan cerita-cerita lepas dengan mereka membuka kesadaran baru bagi saya untuk lebih memperhatikan aspek hidup berkomunitas dalam hidup di biara kini. 
Di luar Motong, saya juga merasakan momen kebersamaan dalam berbagai kegiatan di sekolah, dalam pertandingan sore hari dan dalam kegiatan rekreasi ke Lamanabi dan ke danau Asmara. Khusus untuk kegiatan di sekolah, saya sadar bahwa setelah memasuki semua sekolah (SD, SMP, SMA), kunjungan kami berdampak sangat besar bagi anak-anak sekolah. Kunjungan ini, selain dapat menjadi ajang latihan bagi kami dalam bidang pastoral kategorial juga serentak dapat memicu ketertarikan mereka akan hidup religius.
Kedua, narasi kasih. Di Motong, substansi kasih yang jujur dan tulus menjadi makan-minum saya sehari-hari. Sejak kedatangan hingga momen kembali ke Ledalero, saya selalu mendapatkan balutan kasih yang otentik dan mengharukan. Kasih ini otentik karena ia lahir dari tangan-tangan sederhana yang jujur dan ikhlas dalam bertindak. Ia juga mengharukan sebab ia juga dibarengi dengan tindakan-tindakan (kadang sangat dramatis) yang saya kira, murni bersumber dalam hati suci mereka. 
Pengalaman kasih ini saya alami terutama lewat keikhlasan mereka dalam menerima saya secara apa adanya. Secara umum, hampir semua lelaki dewasa di Motong pergi merantau. Yang tersisa kini hanyalah kaum ibu, dua orang anak muda dan beberapa para guru SMP yang semuanya adalah pendatang dari daerah lain. Pengalaman kasih kerap saya rasakan lewat berbagai penerimaan, kebersamaan dan situasi persaudaraan yang saya rasakan selama berada di Motong. Selain sebagai seorang frater, saya pun diterima sebagai seorang anak bagi mereka. Saya bahkan dianggap sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. 
Pengalaman kasih kami terkreasi pula secara diakletis. Secara sederhana pula, saya coba untuk membagi kasih kepada orang-orang di sana melalui kehadiran saya. Saya berharap melalui kedatangan dan kehadiran saya, orang-orang bisa menemukan kehadiran Tuhan yang menghibur dan menyelamatkan. Tiap hari, saya berusaha membawa diri sebaik mungkin dan mendengarkan seluruh keluh-kesah dan beban hidup yang mereka miliki. Karena datang tanpa pretensi apa-apa, niat saya ini seringkali tercapai. Umat selalu terbuka untuk mensyeringkan pengalaman hidup mereka kepada saya. Relasi kasih kami berlangsung baik dan konstruktif.
Ketiga, narasi kesetiaan dan tanggung jawab. Di Motong, saya temukan banyak figur-figur yang senantiasa setia dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan mereka. Walau dalam himpitan ekonomi dan pelbagai beban hidup lainnya, para ibu di Motong tetap setia setiap bulan menunggu kedatangan uang hasil kiriman suami mereka di tanah
rantau. Walau musim tak jelas dan tanah sudah tak bisa memberikan hasil, mereka tetap setia untuk hidup dan tinggal dalam semangat pengharapan. Kesetiaan dan tanggung jawab yang mereka hidupi setiap hari secara tidak langsung menyadarkan saya agar bisa setia dan bertanggung jawab dengan jalan panggilan yang kini saya hidupi dan jalankan.

***

Motong dalam tiga narasinya telah mengajarkan banyak hal kepada saya. Kebersamaan, kasih, kesetiaan dan tanggung jawab merupakan kumpulan nilai-nilai yang bisa saya petik dari seluruh pergumulan dan pergulatan saya selama seminggu berada dengan para keluarga di Motong dan Waiklibang. Namun, nilai-nilai ini tidak ada gunanya jika hanya berakhir dalam tataran pembicaraan semata tanpa implikasi praktis dalam tindakan. Nilai-nilai ini, hemat saya harus menjadi jiwa bagi saya dalam menjalankan hidup berkaul, hidup berkomunitas, maupun dalam kegiatan kerja
tangan dan studi. 
Dari Motong, saya belajar banyak hal. Saya belajar untuk mencintai kebersamaan, menghidupi kasih dan kesetiaan serta senantiasa bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Dari Motong pula, saya belajar tentang kerasnya kehidupan ini. Hidup memang keras karena perbenturan antara berbagai kepentingan, antara yang baik dan yang jahat serta antara yang kuat dan yang lemah akan senantiasa terjadi. Motong mengajarkan saya bahwa untuk menjadi seorang pemenang, diperlukan ketahanan mental dan kekuatan fisik untuk menahan godaan dan mengandalkan Tuhan dalam setiap derap langkah kehidupan. Tuhan adalah Kasih, Ia senantiasa setia bersama dengan umat yang membutuhkannya. 
Tiga narasi Motong memang bermuara pada sang Esa sendiri, Sang Tuhan yang pasti tidak ingin anaknya ini menjadi seorang pecundang sebagai ganti pemenang. Terima kasih Motong, terima kasih Waiklibang untuk seluruh pemberian dan pembelajarannya bagi saya dan seluruh kami yang datang belajar dan berkunjung.
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive