Featured Posts

Belajar Bermisi di Biara Simeon

September 30, 2017

seminariledalero.org - Ketika pintu sakristi kapel Biara Simeon Ledalero terbuka dan imam selebran berlangkah menuju ke altar, P. Didakus Diwa, SVD spontan memalingkan wajahnya ke arah P. Yan Hambur, SVD. Lalu, dengan nada berbisik, ia bertanya, “Siapa anak muda yang memimpin misa itu? Dan dari mana para frater ini?” Pater Yan Hambur tampak cuma tersenyum. Tak ada yang tahu, entahkah pertanyaan itu menggelitik telinganya, ataukah karena ia sedang menikmati alunan musik dan suara kor yang melantunkan lagu pembuka.

***

 

Sabtu, 30 September 2017, para frater penghuni Wisma St. Agustinus, “bermisi” di rumah jompo Biara Simeon. Kegiatan ini merupakan implementasi dari salah satu program kerja semesteran unit.

 

“Kami sebagai staf pengurus unit melihat bahwa banyak kegiatan kita lebih diarahkan ke luar; melayani orang-orang di luar komunitas Ledalero. Karena itu, kami menawarkan satu program pelayanan ke dalam. Kita tentukan beberapa waktu khusus untuk melayani para konfrater jompo di Biara Simeon,” kata Tony Goran, ketua unit St. Agustinus Ledalero.

 

Seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan pada kesempatan kunjungan ini dibuka dengan perayaan ekaristi yang dipimpin oleh P. Amandus Klau, SVD. Pater Amandus, dalam kata pengantarnya, mengatakan Santo Hironimus mengabdi Sang Sabda dengan cara menerjemahkan Kitab Suci dari bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam bahasa Latin. Terjemahan popular ini disebut vulgata. Dan penerjemahan Kitab Suci ini, katanya, merupakan kotribusi penting St. Hironimus dalam proses penyebaran injil atau kabar gembira dari Allah kepada semua umat manusia. Pengabdiannya ini hendaknya menginspirasi kita untuk juga mewartakan Sabda Allah kepada semua orang sesuai dengan cara-cara kita yang khas dan lebih menyentuh.

 

Perayaan Ekaristi yang diiringi kor yang dikomandai Fr. Chalvin Pala, SVD ini, dihadiri Praeses Biara Simeon Br. Bram Talung, SVD, Prefek Utama Unit St. Agustinus, P. Yohanes Orong, SVD, para imam dan bruder penghuni Biara Simeon, tiga suster India dari Kongregasi Santa Anna, serta para suster SSpS dari komunitas Wairpelit.Usai perayaan Ekaristi, para freater berpose bersama semua anggota komunitas Biara Simeon. Sesudah itu, beberapa frater mengantar para konfrater jompo ke kamar makan Biara Simeon. Fr. Riky Kasa, misalnya, mendorong P. Gabriel Goran yang duduk di atas kursi roda, sedangkan Fr. Baros memapah P. Marsel Moa, yang meski sangat susah berjalan sendiri, namun berkemauan keras untuk tetap berjalan kaki. Sementara para frater lainnya kembali ke Unit Agustinus untuk sarapan pagi. Usai sarapan, para frater kembali ke Biara Simeon untuk melakukan kerja bakti, yakni membersihkan kompleks Biara Simeon dan menanam ubi jalar. Dan pada saat yang sama, sejumlah frater mengunjungi para pater dan bruder jompo di kamar masing-masing untuk bercerita dengan mereka.Biara Simeon terletak di bagian timur komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Biara ini dikhususkan bagi para konfrater SVD yang telah lanjut usia atau jompo, baik imam maupun bruder. Mereka mengabdikan seluruh hidup mereka dalam doa dan hening. Para lansia itu dilayani oleh dua bruder muda, yakni Br. Bram dan Br. Lukas. Terkadang keduanya dibantu oleh sejumlah bruder yunior yang sedang menjalankan praktik.

 

Misi ke Dalam

 

Fr. Tony Goran, SVD selaku Ketua Unit St. Agustinus menjelaskan, kunjungan ke Biara Simeon merupakan program khas Unit St. Agustinus untuk bermisi “ke dalam”. Para frater, katanya perlu mengenal lebih jauh dan belajar dari para konfrater yang sudah lanjut usia. Sebab, para konfrater yang sudah lanjut usia telah “makan-garam” dalam hal bermisi. Mereka adalah orang-orang tangguh yang memiliki banyak pengalaman, baik suka maupun duka dalam hal menyebarkan Injil Allah. Dan dari pengalaman mereka, para frater bisa belajar sesuatu. Br. Bram Talung, dalam sambutannya, mengatakan para konfrater jompo di Biara Simeon memiliki banyak penglaman pastoral yang menarik. Namun, selama ini para konfrater muda kurang memberikan perhatian pada aspek ini. Selain itu, Br. Bram menegaskan bahwa kunjungan dan pelayanan terhadap kaum jompo ini merupakan prioritas misi kita ke depan. Sebab, katanya, pada beberapa tahun yang akan datang, SVD tidak memiliki paroki lagi yang akan dilayani. “Kita akan meninggalkan pelayanan pastoral dan akan fokus pada pelayanan kategorial, termasuk pelayanan kaum jompo. Karena itu, para frater perlu belajar dari sekarang,” katanya.***

 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive