top of page

Kedalaman Iman pada Kristus


SELASA

Pekan Biasa XVIII

Bacaan Pertama : Yer. 30:1-2,12-15,18-22

Bacaan Injil : Mat. 14:22-36


Bacaan Injil yang baru kita dengar berbicara tentang Yesus berjalan di atas air. Kisah ini sungguh unik dan luar biasa. Mendengar perkataan Yesus serta mengenali sosok dan suara Yesus, para murid mendapat ketenangan. Namun bagi orang yang mengasihi, ketenangan saja tidaklah cukup. Orang yang mengasihi senantiasa ingin bersatu dengan orang yang dikasihinya. Petrus yang mengasihi Yesus mengatakan “Tuhan apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”(14:28). Sungguh pernyataan yang berani. Kasih Petrus membuat dia ingin cepat bersama dengan Yesus yang sedang berjalan di atas air dan iman membuat Petrus percaya bahwa Yesus dapat memberikan kekuatan yang sama kepada orang lain. Maka Yesus berkata “datanglah.”

Imanlah yang membuat seseorang berani untuk meninggalkan apa yang dia punyai, melepaskan apa yang dia pegang, meninggalkan daerah nyamannya dan kemudian melangkah ke sesuatu yang mungkin lebih sulit, lebih tidak nyaman, namun dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus. Petrus yang percaya dengan yakin dan berani menapakkan kakinya ke luar perahu untuk berjalan di atas air karena sabda Yesus menguatkannya “datanglah”. Dengan itu selama orang memusatkan perhatian pada Sabda atau Kristus maka ia dapat mengarungi badai kehidupan. Ketika Petrus tidak lagi berfokus pada Yesus, tiupan angin yang keras membuat hati Petrus dipenuhi kebimbangan dan ketakutan. Berhadapan dengan situasi tersebut fokus perhatian menjadi kabur dan beralih ke rasa takut yang membuat Petrus tenggelam.

Kita perlu membangun sikap berani untuk menghadapi tantangan dan ancaman. Keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan bukanlah bersumber pada diri kita, namun pada Kristus sendiri. Inilah sebabnya, ketika kita takut, kita perlu membangkitkan kembali sumber kekuatan kita yakni Kristus sendiri. Kita harus berani meminta pertolongan Tuhan untuk menenangkan badai kehidupan kita. Hendaklah kita senantiasa menaruh kepercayaan kita kepada Yesus, sehingga kita dapat mengarungi gelombang kehidupan dengan penuh iman dan pengharapan. Tanpa iman dan pengharapan di dalam Kristus, kehidupan kita akan terpusat pada masalah dan gelombang. Namun dengan iman dan pengharapan, kita akan dapat melalui gelombang kehidupan dengan ketenangan dan damai bersama Yesus. [Frt. Zaka Daton SVD]


Bacaan Injil yang baru kita dengar berbicara tentang Yesus berjalan di atas air. Kisah ini sungguh unik dan luar biasa. Mendengar perkataan Yesus serta mengenali sosok dan suara Yesus, para murid mendapat ketenangan. Namun bagi orang yang mengasihi, ketenangan saja tidaklah cukup. Orang yang mengasihi senantiasa ingin bersatu dengan orang yang dikasihinya. Petrus yang mengasihi Yesus mengatakan “Tuhan apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.”(14:28). Sungguh pernyataan yang berani. Kasih Petrus membuat dia ingin cepat bersama dengan Yesus yang sedang berjalan di atas air dan iman membuat Petrus percaya bahwa Yesus dapat memberikan kekuatan yang sama kepada orang lain. Maka Yesus berkata “datanglah.”

Imanlah yang membuat seseorang berani untuk meninggalkan apa yang dia punyai, melepaskan apa yang dia pegang, meninggalkan daerah nyamannya dan kemudian melangkah ke sesuatu yang mungkin lebih sulit, lebih tidak nyaman, namun dengan mata yang terus tertuju kepada Yesus. Petrus yang percaya dengan yakin dan berani menapakkan kakinya ke luar perahu untuk berjalan di atas air karena sabda Yesus menguatkannya “datanglah”. Dengan itu selama orang memusatkan perhatian pada Sabda atau Kristus maka ia dapat mengarungi badai kehidupan. Ketika Petrus tidak lagi berfokus pada Yesus, tiupan angin yang keras membuat hati Petrus dipenuhi kebimbangan dan ketakutan. Berhadapan dengan situasi tersebut fokus perhatian menjadi kabur dan beralih ke rasa takut yang membuat Petrus tenggelam.

Kita perlu membangun sikap berani untuk menghadapi tantangan dan ancaman. Keberanian dalam menghadapi tantangan kehidupan bukanlah bersumber pada diri kita, namun pada Kristus sendiri. Inilah sebabnya, ketika kita takut, kita perlu membangkitkan kembali sumber kekuatan kita yakni Kristus sendiri. Kita harus berani meminta pertolongan Tuhan untuk menenangkan badai kehidupan kita. Hendaklah kita senantiasa menaruh kepercayaan kita kepada Yesus, sehingga kita dapat mengarungi gelombang kehidupan dengan penuh iman dan pengharapan. Tanpa iman dan pengharapan di dalam Kristus, kehidupan kita akan terpusat pada masalah dan gelombang. Namun dengan iman dan pengharapan, kita akan dapat melalui gelombang kehidupan dengan ketenangan dan damai bersama Yesus.


DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, kuatkanlah kami selalu agar iman kami kepada-Mu tak berubah. Dengan begitu, kami tak seperti Petrus yang tenggelam karena lemah imannya. Amin.

Allah Tritunggal Mahakudus, kuatkanlah kami selalu agar iman kami kepada-Mu tak berubah. Dengan begitu, kami tak seperti Petrus yang tenggelam karena lemah imannya. Amin.




16 views0 comments

Recent Posts

See All
bottom of page