Featured Posts

“Untuk Melihat Kebenaran, Gunakan Mata Hati dan Bukan Mata di Kepala”

September 2, 2018

SENIN

Pekan Biasa XXII

Pw S. Gregorius Agung, PausPujG

Bacaan Pertama : 1Kor. 2:1-5

Bacaan Injil : Luk. 4:16-30

 

Penginjil Lukas mengisahkan karya pewartaan Yesus bermula di tempat asal-Nya di Galilea, yakni di Nazareth. Reaksi yang diberikan oleh orang banyak setelah mendengar pengajaran-Nya adalah rasa kagum. Semua orang membenarkan Yesus karena warta gembira tersebut menjadi pemenuhan akan harapan Bangsa Israel tentang kedatangan Mesias. Namun demikian, rasa kagum tersebut beralih menjadi sebuah kesangsian manakala mereka mengetahui asal-usul Yesus.

Prasangka seringkali memperdayai pemikiran kita. Prasangka membuat kita terjebak untuk memberikan penilaian yang masih prematur berkenaan dengan seseorang atau sesuatu hal. Prasangka muncul karena pribadi seseorang yang sering berprasangka, atau anggapan banyak orang, iri hati, cemburu, tersinggung dan kecendrungan untuk selalu menganggap yang paling benar dan orang lain selalu salah. Tentu saja sikap curiga perlu untuk berjaga-jaga. Akibat dari prasangka adalah kebenaran dalam diri seseorang atau sesuatu diabaikan.

Hampir serupa dengan pengalaman prasangka yang dialami Yesus, Paulus menasihati jemaat di Korintus untuk meyakini bahwa segala sesuatu yang diwartakannya merupakan hikmat Allah sendiri, terlepas dari keberadaan dirinya sebagai manusia lemah dan rapuh. Paulus menyadari kekurangannya bahwa ia bersaksi tentang Allah bukan dengan kata-kata yang indah mempesona. Ia berharap agar umat Korintus tidak menilai hikmat Allah hanya karena tampilan fisik yang serba terbatas. Umat Korintus mesti menyadari bahwa iman dan keyakinannya bersumber pada kekuatan Allah, bukan pada hikmat manusia.

Pengalaman penolakan Yesus dan nasihat yang disampaikan Paulus memberikan pelajaran berharga untuk kita. hikmat Allah dinyatakan melalui berbagai macam cara. Mungkin melalui peristiwa-peristiwa luar biasa/fantastis atau melalui hal-hal yang sederhana, hal-hal kecil dan remeh. Yang mesti kita buat adalah membuka diri, membuka mata hati kita untuk melihat apa yang tidak mampu ditangkap oleh mata jasmani.

 

DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, bukalah mata hati kami untuk melihat setiap kehendak-Mu dalam seluruh pengalaman hidup kami. Mampukanlah kami untuk bisa menemukan dan memahami apa yang tersembunyi di balik sukacita dan dukacita kami. Amin.

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive