Featured Posts

Kualitas Rohani Membuat Kita Mampu

September 3, 2018

SELASA

Pekan Biasa XXII

Bacaan Pertama : 1Kor. 2:10b-16

Bacaan Injil : Luk. 4:31-37

 

Pewartaan yang diberikan oleh Yesus di Galilea ditolak oleh orang-orangnya sendiri. Penolakan ini tidak dijumpai oleh Yesus saat Ia memberikan pengajaran di Kapernaum. Dalam setiap kesempatan pada hari sabat, Ia mengajar di sinagoga dan orang banyak menjadi takjub. Rasa takjub disebabkan oleh dua hal berikut.

Pertama, orang takjub mendengar pengajaran-Nya sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Mungkin saja orang banyak itu belum menemukan gairah mengajar seperti Yesus dalam diri imam-imam mereka atau barangkali tidak akan pernah menemukannya. Kedua, orang-orang menjadi takjub karena dengan kata-kata yang penuh wibawa dan kuasa, Ia menyuruh roh-roh jahat pergi dan mereka mematuhi-Nya. Pertanyaan yang muncul: apakah rasa takjub atau kagum ini membuat orang banyak itu menjadi percaya bahwa Yesus adalah Mesias?

Harus diakui bahwa kita mudah tertarik pada hal-hal yang fantastis, yang mungkin juga kadang-kadang terkesan bombastis. Kita mudah tergerak pada ucapan-ucapan yang indah, yang rasanya semanis madu dan selembut belaian angin sepoi-sepoi. Sensasi seperti ini secara psikologis membakar semangat dan menguatkan daya juang kita. Kita menjadi begitu menggebu-gebu dan yakin bahwa kita bisa. Sensasi seperti ini juga memberikan penghiburan tersendiri. Seandainya dihadapkan pada situasi nyata, apakah kekaguman tersebut sifatnya sesaat tanpa sebuah perwujudan melalui tindakan nyata?

Ajaran-ajaran Yesus sebagian besar bersifat revolusioner dan memuat nilai-nilai yang mendalam dari seluruh aspek kehidupan. Cinta kasih, misalnya. Pastinya kita semua kagum dengan ajaran Yesus yang satu ini. Pertanyaannya, apakah kita cukup militan mempraktikan ajaran tersebut dalam hidup kita? Apakah kita sungguh berusaha menjadikan hukum tersebut sebagai bagian dari penghayatan hidup harian kita? Kenyataan bahwa kita lemah dan banyak kekurangan membuat penghayatan terhadap hukum ini sebagai tantangan yang cukup berat.

Kulitas rohanilah yang memungkinkan manusia menerima hikmat Allah yang sulit diselami oleh kualitas duniawi. Kualitas manusiawi membuat manusia cenderung mencari jawaban untuk semua hal sampai tuntas. Kualitas rohani membuat manusia lebih mampu menerima segala sesuatu. Doa, ekaristi, meditasi dan kontemplasi menjadi jalan mengembangkan kualitas rohani agar tetap kuat dan teguh menghadapi berbagai tantangan hidup.

 

DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, biarlah rahmat-Mu bekerja dalam diri kami agar semakin hari kami semakin bisa menyerupai-Mu. Amin.

 

 

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive