Featured Posts

“Marilah dan Percayalah”

September 16, 2018

SENIN

Pekan Biasa XXIV

Bacaan I : 1Kor. 11:17-26

Bacaan Injil : Luk. 7:1-10

 

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, ketika berada pada situasi batas, misalnya mengalami sakit dan derita yang hebat, hal pertama yang dilakukan manusia pasti memohon Tuhan untuk membuka jalan, membawanya pada pembebasan dan kemerdekaan batin. Manusia yang memohon “berdoa” pada Tuhan adalah mereka yang benar-benar menyadari dirinya sebagai orang lemah, tak berdaya, dan memiliki kemampuan terbatas dihadapan kemahakuasaan Allah. Ia “memohon” pada Tuhan karena percaya akan Allah sebagai penguasa semesta. “Segala sesuatu di bawah kolong langit adalah milik Allah dan ada dalam tangan dan kekuasaan Allah. Ia mengendalikan segala kehidupan yang ada.

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, Allah adalah Maharahim ditunjukkanNya lewat keterbukaan hatiNya menerima siapa saja yang datang dan berada bersamaNya. “Marilah” adalah simbol kebesaran hati Allah. Ia membukakan pintu kerahimanNya bagi segenap umat manusia yang percaya. Dalam Injil hari ini, Lukas menampilkan ciri relasi dasar manusia dengan Allah. Bahwasannya manusia memiliki ketergantungan total pada Allah. Sebaliknya, Allah adalah Dia yang humanis. Turut merasakan dan melebur diri dalam segala situasi yang dihadapi manusia kecuali dalam hal dosa.

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, ketika terdengar kabar bahwa hamba seorang kepala perwira sakit dan hampir mati, Ia tergerak hatiNya menolongnya. Meski, seturut cerita Injil, Yesus tidak secara langsung bertemu hamba perwira yang sakit itu, tetapi Ia pulih kembali. Apa yang menyebabkannya sembuh total dari sakit? Sikap percaya adalah kunci utama. Dan inilah yang ditunjukkan oleh kepala perwira. Ia adalah jembatan yang menghadirkan Allah di tengah realitas manusia yang terbatas. Totalitas Iman dan kepercayaan menjadi dasar yang menjamin kehadiran Allah secara nyata dalam setiap pengalaman hidup manusia, baik suka maupun duka. Bagi kita yang mengakui diri sebagai pengikut Kristus, kita perlu bersikap rendah hati dan menjunjung tinggi solidaritas dan kepekaan sosial. Banyak orang-orang miskin, tak berdaya dan memiliki kondisi hidup yang memprihatikan, luput dari perhatian banyak pihak. Mereka adalah bagian dari hidup kita. Karena itu, hendaklah kita mampu menghadirkan Kerajaan Allah bagi mereka seperti damai sejahtera, sukacita dan keadilan. Maka, terciptalah keharmonisan hidup bersama.

 

DOA

Ya Allah Tritunggal Mahakudus, Engkau mengajarkan manusia sikap tanpa pamrih dan rela berkorban untuk kepentingan umatMu. Bangkitkanlan dan sadarkanlah setiap manusia pendosa yang selalu mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Biarkanlah mereka berkanjang dalam Sabda dan cintaMu yang tiada batas. Amin

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive