Featured Posts

DUNIA AKHIRAT

October 23, 2018

RABU

Pekan Biasa XXIX

Bacaan I : Efesus 3:2-12

Bacaan Injil : Lukas 12:39-48

 

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, ada sebuah cerita: seorang pemuda tampan harus mati muda. Dia mengetuk pintu surga, dan ternyata ia disambut oleh Petrus. Namun, di pendopo surga pun orang masih mendapat tawaran untuk menentukan pilihan yang bebas. Artinya orang diajak untuk tinggal beberapa waktu di surga atau neraka, baru dapat menentukan pilihan defenitif. Surga atau neraka? Si pemuda meminta untuk melihat-lihat surga dari luar dulu. Ternyata, di sana dia melihat banyak wajah tua, para kakek dan nenek. Tak ada orang muda di sana. Pengamatan ini membuatnya merasa tidak tertarik dengan surga. Ia lalu meminta untuk menengok juga neraka. Di sana ia mendengar musik yang gegap gempita, dansa, ada juga dangdut, lampu berkedap-kedip seperti diskotik. Wajah-wajah muda nan cantik menanti di sana. Kemudian si pemuda ini mengambil keputusan: masa formasinya dihabiskan di neraka saja. Pilihannya terlaksana. Setelah beberapa waktu, si pemuda boleh membuat pembicaraan pribadi, dengan kepala neraka. Dia datang menghadap, dan ia menunjukkan sikap marah dan jengkel. “Mengapa aku harus mengalami masa formasi di neraka? Di dalamnya cuma ada kekeringan, gertak gigi, dan kegelapan.” Keluhnya. Pemimpin neraka membalasnya: ”Ya, engkau mungkin terlalu cepat lupa. Yang engkau lihat dari luar itu cuma reklame.”

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, dunia kita penuh dengan reklame. Banyak orang terperangkap masuk ke dalam sesuatu karena reklame-reklame tersebut. Banyak orang juga terpaksa mengantungkan kebebasannya karena hidup menurut reklame: bukan sekadar soal finansial tetapi juga soal kerohanian. Yesus justru mengajak para pengikutNya untuk bersikap bijaksana dan penuh disermen. Kedua sikap ini dapat dimengerti  sebagai sikap yang pantas dalam mengarungi kehidupan di dunia nan fana ini. Hidup di dunia ibarat kemah yang mudah dibongkar. Apa yang dihidupi di dunia bersifat sementara. Kebijaksanaan dan disermen serentak diperlukan agar manusia tak melulu bergantung pada kefanaan dunia. Kematian itu datang ibarat pencuri yang tak dapat diterka manusia. Kalau kematian dimengerti sebagai pengadilan, sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kehidupan di dunia, paling tidak manusia (kita) diingatkan untuk menjalani hidup ini secara bijak dan penuh disermen. Bukan sekadar finansial yang dikejar tapi juga soal kerohanian yang mesti dipelihara. Yesus dalam Injil hari ini meminta demikian dari kita: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena anak manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.” Mari kita belajar menjadi murid dan menjadi hamba yang bijak dalam menjaga hidup kita, menjaga kerohanian kita.

 

DOA

Ya Allah Tritunggal Mahakudus, semoga hidup yang kami jalankan ini sesuai dengan rencana dan kehendak-Mu. Amen

 

 

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive