Featured Posts

Mengasihi seperti Yesus.

October 29, 2018

SELASA

Pekan Biasa XXX

Bacaan I : Efesus 5:21-33

Bacaan Injil : Lukas 13:18-21

 

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, bukan tidak mungkin bahwa setiap kita memiliki tokoh atau pribadi tertentu yang dianggap sebagai panutan, idola. Tokoh yang dikagumi ini biasanya memiliki kualitas-kualitas yang tidak dimiliki orang kebanyakan. Bisa dibilang kemampuan yang dimilikinya mendekati “sempurna”. Sebut saja Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi yang sudah menjadi ikon sepak bola dunia. Pak Jokowi yang disukai oleh hampir sebagian besar orang Indonesia karena gaya kepemimpinannya dengan pola pendekatan yang luwes serentak tegas. Tidak lupa pula tokoh-tokoh pejuang yang rela berkorban dan menjadi inspirasi perjuangan bagi anak-anak bangsa. Keberadaan mereka, termasuk di dalamnya warisan-warisan yang mereka tinggalkan bisa saja dijadikan sebagai tolak ukur atau pedoman dalam menilai dan bertindak.

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, kita umat Kristiani juga memiliki tokoh idola atau tokoh yang menjadi anutan, yakni Yesus sendiri. Hal ini dengan sangat jelas ditegaskan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus. Paulus mencoba memberikan fondasi dasar relasi antara suami dan istri dengan gambaran relasi antara Yesus dengan jemaat yang adalah tubuh-Nya. Yang dimaksudkan oleh Paulus adalah relasi antara suami dan istri harus berakar dalam cinta sebagaimana Yesus sendiri yang mengasihi jemaat dengan menyerahkan diri-Nya demi terwujudnya keselamatan. Karena kasih-Nya itu maka jemaat menghormati atau tunduk kepada Yesus sebagai kepala. Menghormati atau tunduk dalam konteks ini lebih sebagai ungkapan syukur karena belas kasih Allah bukan karena rasa takut atau terbelenggu. Dalam hal ini tidak ada dominasi pihak tertentu terhadap yang lain. Prinsipnya adalah bahwa suami dan istri harus saling mengasihi seperti mengasihi diri sendiri. Perbuatan kasih ini yang pada akhirnya melahirkan rasa hormat. Atau dengan kata lain rasa hormat mengandaikan adanya unsur cinta dan kasih serta pengorbanan dalam sebuah relasi.

PencintaSang Sabda yang terkasih, relasi seperti ini mesti juga berlaku dalam bentuk-bentuk relasi yang lain seperti dalam hubungan persahabatan, hubungan kekeluargaan ataupun hubungan kemitraan lainnya. Sering kita temui bahwa relasi yang dibangun diselubungi dengan maksud-maksud tersembunyi. Relasi yang seperti ini lebih berorientasi pada upaya untuk menguntungkan diri sendiri dan merugikan pihak lain. Orang bermain curang dengan membiarkan pihak lain menderita. Berhadapan dengan situasi ini, apa yang dapat kita lakukan? Satu-satunya jalan adalah dengan berkaca pada cara hidup idola kita yakni Yesus Kristus. Perkataan dan perbuatan-Nya selalu berlandaskan kasih tanpa intensi untuk merugikan orang lain. Kita bias memulainya dengan hal-hal yang sederhana, yang positif bagi perkembangan hidup rohani kita. Ingatlah bahwa Kerajaan Allah tidak seperti yang kita duga. Ia adalah biji sesawi yang kemudian tumbuh menjadi pohon besar tempat di mana burung-burung bersarang pada cabang-cabangya. Ia juga ibarat ragi yang memungkinkan adonan mengembang. Kebaikan-kebaikan kecil yang sering dibangun dapat menjadi fondasi untuk sebuah kebaikan yang lebih besar.

 

DOA

Ya Allah Tritunggal Mahakudus, biarkanlah Kerajaan-Mu menjadi nyata melalui wujud laku kami yang sederhana. Semoga kami bias saling mengasihi seperti Engkau mengasihi kami. Amin.

 

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive