Featured Posts

Iman yang Menghidupkan

February 5, 2019

RABU

Pekan Biasa IV

(Pw. St.Paulus Miki)

Bacaan I : Ibrani, 12:4-7. 11-15

Bacaan Injil : Markus 6:1-6

 

Pengalaman Yesus dan St. Paulus Miki menghadirkan kesan bahwa tidak ada sesuatu yang berakhir indah jika yang dijumpai adalah iri hati. Dalam pengalaman Yesus, Sang Guru yang “pulang kampung” membawa amanat Surgawi tidak mendapat tempat di hati orang Nazareth. Iri hati yang berkecamuk di dada orang Nazareth menyisakan penolakkan terhadap Sang Guru. Imbasnya, tidak ada satu pun mujizat yang tersaji di Nazareth. Dan dalam pengalaman St. Paulus Miki yang diperingati Gereja sejagad hari ini, menjadi korban iri hati orang Jepang di zamannya. Seorang penginjil dan pengkotbah hebat ini akhirnya harus ditangkap bersama duapuluh enam orang lainnya karena hoax serta hasutan bahwa mereka adalah pengkhianat bangsa. Imbasnya, mereka harus mati di Salib. Setiap kita mungkin memiliki pandangan yang berbeda tentang iri hati. Iri hati bisa saja baik di mata kita, namun tidak baik di mata orang lain. Berkaca pada pengalaman Yesus dan St. Paulus Miki, iri hati itu sungguh tidak baik. Iri hati cuma sebuah emosi yang ingin agar apa yang dimiliki orang lain itu lenyap. Di sini, pengakuan terhadap kelebihan orang lain itu takkan pernah ada. Selain itu, iri hati lahir dari orang-orang yang tidak bahagia. Tidak heran bahwa yang diinginkan ialah semoga kemalangan cepat datang menghampiri orang lain. Hati kita selalu menaruh harapan agar kehidupan ini memiliki akhir yang membahagiakan. Setelah merenungkan pengalaman Yesus dan St. Paulus Miki, apakah kita mau tinggal dalam iri hati yang berkepanjangan? Selamat memilih, semoga pilihan itu menghantar kita pada sebuah akhir yang membahagiakan.

 

DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, jadikanlah kami abdi-abdiMu yang tidak tidak tinggal dalam iri hati, Amin. 

 

 

 

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive