• Fr. Yanto Lobo, SVD

MENELADANI KEMURAHAN HATI MARIA



Rabu, Hari raya Santa Maria Bunda Allah

1 Januari 2020

Bacaan: Lukas, 2: 16-21


Selamat tahun baru 2020 untuk kita semua. Kita mengawali tahun baru dengan merenungkan sosok Maria. Kita renungkan kemurahan hati Maria dalam menerima, melaksanakan, dan menyimpan segala seusatu dalam hatiNya yang maha luas. Kita bersyukur karena, oleh rahmatNya, kita dirahmati untuk merefleksikan Maria sebelum memulai banyak hari dalam tahun yang baru ini. Gereja katolik juga merayakan hari ini sebagai hari raya Santa Maria Bunda Allah dan hari perdamaian sedunia.


Bacaan pertama yang kita dengar mengisahkan Musa yang melaksanakan kehendak Allah dalam menyampaikan perintahNya kepada Harun untuk selalu memberikan diri kepada anugerah Tuhan. Atas nama Tuhan, Allah Israel mereka akan selalu diberkati, dilindungi, dan disinari dengan wajahNya. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus mengisahkan tentang kelahiran Yesus melalui Maria. Ketaatan Maria kepada perintah Tuhan, disempurnakan oleh Yesus yang mau taat dan menebus kita, umat manusia. Olehnya, kita tidak lagi hadir sebagai hamba, melainkan anak. Anak yang juga mewarisi kekayaan Bapa. Dalam bacaan Injil, Lukas mengisahkan kesiagaan para gembala ketika mendengar kabar tentang kelahiran Yesus. Gembala, sosok-sosok yang juga dikenal loyal terhadap binatang peliharaan, namun digerakan oleh perasaan untuk menjadi saksi kelahiran sang juru selamat yang diwartakan oleh Malaikat, mereka langsung bergerak menuju Betlehem. Para gembala, menampilkan ekspresi keheranan yang lebih mengarah ke kekaguman akan misteri Allah. Mungkin, mereka heran kehadiran seorang Raja, yang diwartakan oleh para Malaikat, malah hadir dalam sebuah kandang. Entah paham atau tidak soal pengalaman tersebut, namun mereka lebih memutuskan untuk membagi perasaan heran, juga bahagia itu ke orang-orang lain di sekitar. Entah Yesus atau Yusuf tidak dikisahkan secara detail dalam kisah ini, namun penginjil mengisahkan dan menyertakan Maria, Ibu Yesus dalam kisah ini. Menanggapi reaksi luar biasa dari para gembala yang datang, Maria menyimpan segala sesuatu dalam hatiNya dan merenungkannya. Bukan seperti para gembala yang langsung mengisahkan pengalaman tersebut, Maria lebih memilih untuk diam dan kembali masuk dalam serentetan kisah Allah. Dalam bahasa yang sederhana, saya coba mendefinisikan sikap diam Maria sebagai sebuah pengalaman pemberian diri yang lebih didasari oleh kemurahan hati. Maria diam tanpa banyak kata. Sikap ini ingin menunjukan kepada kita bagaimana Maria menampilkan sikap kemurahan hatiNya untuk menyimpan misteri besar Allah dalam hatiNya. Diam tanpa kata tidak berarti tanpa arti; diam juga bisa berarti soal kepenuhan yang enggan dibahasakan secara sederhana. Maria memahami bahwa sebagai Ibu Sang Juru selamat, Ia akan menyaksikan banyak hal yang akan terjadi pada puteraNya. Hal yang paling sederhana namun bermakna adalah menyimpan segala sesuatu dalam lubuk hatiNya. Lubuk hati seorang perempuan, apalagi seorang Ibu adalah lautan samudera yang maha luas, yang tidak semua orang tahu, kecuali dirinya sendiri. Maria mengajarkan kita, bagaimana kita menyikapi sesuatu dengan diam dan tenang. Hingga pada titik itu, kita diajarkan untuk juga mencontohi Maria dan kemurahan hatiNya yang luar biasa. Bagaimana kita mau murah hati? Setiap saat kita selalu dihadapkan pada banyak pengalaman yang menantang juga menguras emosi juga pikiran. Tidak sedikit dari kita gagal dalam mendefinsikan bagaimana menjadi murah hati. Dalam banyak pengalaman, kita enggan mau “diam”. Kita lebih banyak bersuara dengan tanpa kembali ke dalam diri dan memberik diri pada sebuah keheningan.

Melalui kedua bacaan dan bacaan Injil hari ini kita belajar untuk;

Pertama, memberikan diri pada kehendak Tuhan. Memberikan diri bisa juga berarti mau taat dan melepaskan kehendak pribadi dan lebih terbuka pada hal-hal yang berasal dari luar. Kisah, juga pengalaman sesama misalnya. Melalui pengalaman Musa yang taat pada perintah Bapa dengan menyampaikannya pada Harun yang disampikan Yahwe, kita juga dipanggil untuk murah hati dalam memberikan diri pada kehendak Bapa melalui sesama. Melayani sesama dan memberi diri kepada sesama yang membutuhkan pelayanan kita.

Kedua, kisah Maria yang taat dan pengalaman ketuhanan Yesus yang dimanusiakan oleh kehambaanNya, mengajarkan kita bagaimana kita lebih membuka diri dalam melayani sesama yang berkesusahan. Refleksi kita tentang kehambaan Yesus harus sampai pada aspek solidaritas Tuhan menjadi manusia. Darinya, kita diajarkan untuk lebih membuka diri dan bersolider dengan mereka yang susah dan membutuhkan pertolongan.

Ketiga, pengalaman Maria dalam menyimpan segala sesuatu dalam hatiNya, mengajarkan kita bagaimana dalam hidup kita, pengalaman diam adalah pengalaman kembali pada diri, pengalaman merefleksikan diri, juga sebagai pengalaman kembali ke dalam diri. Maria kembali membenarkan bahwa diam sambil berefleksi itu emas. Mari kita belajar dari Maria. Amin.

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

@2017 | Design by CH95 Website Design

VISITOR 

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon