BELAJAR MENJADI ANAK KECIL DI HADAPAN TUHAN
RENUNGAN HARIAN
Kamis, 1 Oktober 2026 - Pekan Biasa ke-XXVI Tahun Genap
Pesta S. Teresia dari Kanak-kanak Yesus, Perawan dan Pelindung Misi
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I: Yes 66:10-14b
Mazmur Tanggapan: Mzm 131:1.2.3
Bait Pengantar Injil: Mat 11:25
Bacaan Injil: Mat 18:1-5
Bacaan I
Yes 66:10-14b
Aku mengalirkan kepadanya keselamatan seperti sungai.
Bacaan dari Kitab Yesaya:
Bersukacitalah bersama-sama Yerusalem,
dan bersorak-soraklah karenanya,
hai semua orang yang mencintainya!
Bergiranglah bersama-sama dia segirang-girangnya,
hai semua orang yang pernah berkabung karenanya!
Hendaknya kamu minum susu yang menyegarkan dan menjadi kenyang,
hendaknya kamu menghirup dan menikmati susu yang bernas.
Sebab beginilah firman Tuhan:
Sungguh, Aku mengalirkan kepadanya
keselamatan seperti sungai,
dan kekayaan bangsa-bangsa seperti batang air yang membanjir.
Kamu akan menyusu, akan digendong,
dan akan dibelai-belai di pangkuan.
Seperti seseorang yang dihibur ibunya,
demikianlah kamu akan Kuhibur;
kamu akan dihibur di Yerusalem.
Apabila kamu melihatnya, hatimu akan girang,
dan kamu akan seperti rumput muda yang tumbuh dengan lebat.
Demikianlah sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan
Mzm 131:1.2.3
Jagalah aku dalam damai-Mu, ya Tuhan.
*Tuhan, aku tidak tinggi hati,
dan tidak memandang dengan sombong;
aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar
atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.
*Sungguh, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;
seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya,
ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.
*Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel,
dari sekarang sampai selama-lamanya.
Bait Pengantar Injil
Mat 11:25
Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi,
sebab misteri Kerajaan-Mu Kaunyatakan kepada orang kecil.
Bacaan Injil
Mat 18:1-5
Jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini,
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Inilah Injil Suci menurut Matius:
Sekali peristiwa
datanglah murid-murid kepada Yesus dan bertanya,
"Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?"
Maka Yesus memanggil seorang anak kecil
dan menempatkannya di tengah-tengah mereka,
lalu berkata,
"Aku berkata kepadamu:
Sungguh, jika kamu tidak bertobat
dan menjadi seperti anak kecil ini,
kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.
Sedangkan barangsiapa merendahkan diri
dan menjadi seperti anak kecil ini,
dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.
Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku,
ia menyambut Aku."
Demikianlah sabda Tuhan.
Renungan
Bapak, ibu, saudara-saudari, para sahabat Sang Sabda yang dikasihi Tuhan
Di tengah perjalanan hidup yang penuh dengan tuntutan, kesibukan, persoalan, dan berbagai keinginan, Injil hari ini mengajak kita untuk melihat kembali keadaan hati kita di hadapan Tuhan.
Sering kali dalam kehidupan, Kita ingin dihargai, didengar, dianggap mampu, dan diakui oleh orang lain. Kita ingin menunjukkan bahwa kita kuat dan sanggup menghadapi segala sesuatu.
Namun, di tengah dunia yang sering mengajarkan kepada kita untuk menjadi terbesar, Yesus justru mengajak kita untuk belajar dari seorang anak kecil. Menjadi anak kecil bukan berarti kekanak-kanakan, bukan pula dalam arti tidak mampu, tetapi dalam arti memiliki hati yang sederhana, terbuka, percaya, dan berserah kepada Tuhan.
Ada sebuah kenyataan sederhana dalam hidup: semakin kita merasa mampu mengendalikan segala sesuatu, semakin mudah kita lupa bahwa ada banyak hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita. Kita dapat merencanakan sesuatu, tetapi kita tidak mengetahui seluruh apa yang akan terjadi. Kita dapat bekerja keras, tetapi kita tidak dapat menjamin hasil dari semua usaha kita. Kita dapat memiliki banyak hal, tetapi semua itu tidak membuat kita berhenti membutuhkan Tuhan.
Karena itu, ada kalanya kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri kita sendiri: apakah selama ini saya sungguh-sungguh hidup sebagai seorang anak di hadapan Tuhan, atau saya justru menjalani hidup seolah-olah saya mampu melakukan semuanya tanpa Tuhan?
Dalam Injil Matius 18:1-5, para murid datang kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Pertanyaan ini memperlihatkan bahwa para murid masih berpikir tentang kebesaran dan kedudukan. Bukankah pertanyaan seperti itu juga sering muncul dalam kehidupan kita? Dunia sering mengajarkan kita bahwa menjadi "besar" berarti berada di atas orang lain.
Tetapi Yesus justru memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah para murid. Kemudian Ia berkata, “Sungguh, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Selanjutnya Yesus berkata, “Sedangkan barang siapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”
Dengan pernyataan tersebut Yesus tidak meminta kita kembali menjadi anak-anak secara usia. Ia mengajak kita memiliki iman yang percaya dan menyadari bahwa kita membutuhkan pertolongan. Sebagaimana seorang anak kecil yang berani dan polos menggenggam tangan orang yang lebih kuat darinya. Ia mau belajar dan tidak malu mengakui bahwa dirinya belum mengetahui segala sesuatu.
Demikian juga dalam kehidupan iman. Kita mesti menjadi seperti anak kecil yang berani mengakui bahwa kita tidak mengetahui segala sesuatu; Menjadi seperti anak kecil berarti mau belajar, mau dibentuk, mau diarahkan, dan mau menyerahkan hidup kepada Tuhan.
Di sinilah kita menemukan makna kerendahan hati yang sesungguhnya. Kerendahan hati bukan berarti kita menganggap diri kita tidak berharga. Kerendahan hati bukan berarti kita tidak boleh memiliki cita-cita atau bekerja keras. Kerendahan hati berarti kita mengetahui siapa diri kita di hadapan Tuhan. Kita boleh memiliki kemampuan dan berbagai pencapaian, tetapi semuanya tidak boleh membuat kita lupa bahwa hidup kita tetap bergantung pada Tuhan.
Maka pertanyaan penting bagi kita adalah: “Apakah saya masih memiliki hati seorang anak kecil di hadapan Tuhan?” Terkadang kita berdoa kepada Tuhan, tetapi hati kita masih ingin mengatur Tuhan. Kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu,” tetapi sebenarnya kita berharap agar kehendak kitalah yang terjadi. Kita berdoa ketika mengalami kesulitan, tetapi ketika hidup berjalan dengan baik, kita mulai melupakan Tuhan. Kita meminta Tuhan menolong kita ketika berada dalam masalah, tetapi ketika persoalan selesai, kita kembali merasa bahwa kita mampu menjalani semuanya sendiri.
Bapa, Ibu, saudara-saudari, sahabat Sang Sabda yang dikasihi Tuhan
Mungkin inilah saatnya kita belajar kembali menjadi seperti anak kecil di hadapan Tuhan. Seorang anak tidak selalu memahami ke mana ia akan berjalan, tetapi ia tetap melangkah karena percaya pada tangan yang menggenggamnya. Demikian pula iman mengajarkan kita untuk tetap percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam keadaan apa pun. Karena itu, marilah kita menjadi seperti anak kecil: percaya ketika belum mengerti, rendah hati ketika berhasil, mau belajar ketika salah, bertobat ketika berbuat salah, dan tetap menggenggam tangan Tuhan dalam setiap langkah.
hidup bukan tentang memastikan setiap langkah bebas dari kesulitan, melainkan tentang tetap teguh berjalan ketika jalan belum sepenuhnya tenang, ingat bahwa Tuhan selalu ada dalam setiap perjalananmu
Semoga.
***
Fr. Janssen Raring, SVD


Comments