top of page

Bukan Sekadar Identitas, Melainkan Ketaatan yang Hidup

53 minutes ago
5 min read

Renungan Harian

Selasa, 22 September 2026 - Pekan Biasa ke-XXV Tahun Genap


Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Ams 21:1-6.10-13

Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1.27.30.34.35.44

Bait Pengantar Injil: Luk 11:28

Bacaan Injil: Luk 8:19-21


Bacaan I

Ams 21:1-6.10-13

Bermacam-macam pepatah.


Bacaan dari Kitab Amsal:


Hati raja laksana batang air di tangan Tuhan,

yang Dia alirkan ke mana saja Ia kehendaki.

Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri,

tetapi Tuhanlah yang menguji hati.

Melakukan kebenaran dan keadilan

lebih berkenan di hati Tuhan daripada kurban.

Mata yang congkak dan hati yang sombong,

yang menjadi pelita orang jahat, adalah dosa.

Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan,

tetapi setiap orang yang tergesa-gesa

hanya akan mengalami kekurangan.

Memperoleh harta benda dengan lidah dusta

adalah kesia-siaan yang lenyap

dari orang yang mencari maut.


Hati orang fasik mengingini kejahatan

dan tidak menaruh belas kasihan kepada sesamanya.

Jikalau si pencemooh dihukum,

orang yang tak berpengalaman menjadi bijak,

dan jikalau orang bijak diberi pengajaran,

ia akan memperoleh pengetahuan.


Yang Mahaadil mengawasi rumah orang fasik,

dan menjerumuskan orang fasik ke dalam kecelakaan.


Siapa yang menutup telinga bagi jeritan orang lemah,

tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru.


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 119:1.27.30.34.35.44

R:35a

Bimbinglah hidupku, ya Tuhan,

menurut petunjuk perintah-Mu.


*Berbahagialah orang yang hidupnya tidak bercela,

yang hidup menurut Taurat Tuhan.


*Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu,

supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.


*Aku telah memilih jalan kebenaran,

dan menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.


*Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang Hukum-Mu;

dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.


*Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu,

sebab aku menyukainya.


*Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa,

untuk seterusnya dan selamanya.



Bait Pengantar Injil

Luk 11:28

Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan

dan melakukannya.



Bacaan Injil

Luk 8:19-21

Ibu dan saudara-saudara-Ku ialah mereka

yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.


Inilah Injil Suci menurut Lukas:


Pada suatu hari

datanglah Ibu dan saudara-saudara Yesus hendak bertemu dengan Dia.

Tetapi mereka tidak dapat mencapai Dia karena orang banyak.

Maka diberitahukan kepada Yesus,

"Ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar

dan ingin bertemu dengan Dikau."

Tetapi Yesus menjawab,

"Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah

mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya."


Demikianlah Sabda Tuhan.

Renungan


Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Di era modern yang penuh dengan dinamika ini, manusia memiliki kerinduan yang sangat mendalam untuk merasa memiliki—a sense of belonging. Kita bangga ketika menjadi bagian dari sebuah kelompok eksklusif, menjadi anggota dari keluarga besar yang terpandang, atau memiliki hubungan dekat dengan figur-figur penting. Status dan relasi sering kali menjadi fondasi tempat kita membangun rasa aman dan harga diri.


Dalam konteks kehidupan beriman pun, kita kerap terjebak dalam pola pikir yang sama. Kita sering merasa aman hanya karena kita lahir dari keluarga Katolik yang taat, sudah dibaptis sejak kecil, rutin menghadiri Perayaan Ekaristi setiap hari Minggu, atau aktif dalam berbagai kegiatan paroki. Kita cenderung mengukur kedekatan kita dengan Tuhan berdasarkan identitas formal dan rutinitas keagamaan yang kita jalani.


Namun, perikop Injil Lukas hari ini mengusik zona nyaman kita. Lewat peristiwa yang sangat sederhana—ketika ibu dan saudara-saudara Yesus berdiri di luar dan ingin bertemu dengan-Nya—Yesus menyampaikan sebuah kebenaran radikal yang merombak ulang seluruh pemahaman kita tentang apa artinya menjadi “orang dekat” Kristus.


Eksegesis dan Refleksi Teologis: Memahami Perkataan Yesus

"Ibu-Ku dan saudara-saudari-Ku ialah mereka, yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya." (Lukas 8:21)


Secara kultural pada zaman itu, ikatan darah adalah segalanya. Keluarga biologis menduduki posisi tertinggi dalam struktur sosial masyarakat Yahudi. Maka, tanggapan Yesus sekilas terasa dingin, bahkan mungkin terkesan tidak sopan terhadap ibu-Nya sendiri. Namun, jika kita menggali lebih dalam, Yesus sama sekali tidak sedang menolak atau merendahkan Bunda Maria dan sanak keluarga-Nya.


Di sini, Yesus tidak membatasi lingkaran kasih-Nya hanya untuk segelintir orang yang memiliki hubungan darah dengan-Nya. Sebaliknya, Kristus membuka pintu ikatan keluarga-Nya seluas-luasnya bagi siapa saja. Status sebagai “keluarga inti” Kristus tidak lagi diwariskan melalui garis keturunan, melainkan ditawarkan kepada setiap pribadi yang mau mengambil dua langkah konkrit: mendengarkan dan melakukan.


Saudara-saudari yang terkasih,

Kita hidup di zaman yang sangat bising. Setiap hari, pikiran kita dibombardir oleh ribuan narasi dari media sosial, tuntutan karier, berita politik, dan ambisi pribadi. Kita begitu sibuk mendengarkan apa kata dunia tentang bagaimana seharusnya kita sukses, bagaimana kita harus berpenampilan, atau bagaimana kita harus membalas perlakuan orang lain.


Sering kali, kita membaca Kitab Suci atau mendengar khotbah di gereja hanya sebatas wacana intelektual atau pengisi waktu. Firman Tuhan masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan tanpa pernah diberi ruang untuk mengendap di dalam hati. Mendengarkan firman yang sejati membutuhkan keheningan batin; sebuah keberanian untuk mengheningkan kebisingan dunia agar suara Tuhan yang lembut dapat terdengar dan menegur kita.


Melakukan Firman di Tengah Kompromi Moral


Di sinilah letak ujian iman yang sesungguhnya. Mendengarkan firman tanpa melakukannya adalah sebuah ilusi spiritual. Santo Yakobus dalam suratnya mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati.

Lantas apa yang perlu kita buat dalam realitas konkret kita?

  • Di Tempat Kerja: Firman mengajarkan kejujuran dan keadilan. Namun, realitas dunia kerja sering kali menawarkan jalan pintas melalui manipulasi, suap, atau penyalahgunaan wewenang. Melakukan firman berarti berani berkata “tidak” pada kompromi moral tersebut, meski risiko yang harus ditanggung adalah ditolak, diabaikan, atau bahkan dimusuhi.

  • Di Dalam Keluarga: Firman mengajarkan pengampunan dan kesabaran. Namun, realitas hidup berumah tangga sering kali diwarnai oleh luka batin, egois, dan gengsi untuk meminta maaf. Melakukan firman berarti mau merendahkan hati untuk mengampuni pasangan, anak, atau orang tua, bahkan ketika perasaan kita masih terluka.

  • Di Ruang Publik dan Media Sosial: Firman mengajarkan kasih dan kebenaran. Namun, realitas ruang digital saat ini penuh dengan kebencian, fitnah, penyebaran hoaks, dan prasangka. Melakukan firman berarti menahan jari kita untuk tidak ikut menyebarkan narasi yang memecah belah, dan sebaliknya menjadi pembawa ketenangan dan kedamaian.


Umat beriman yang dikasihi Tuhan,


Pertanyaan terpenting bagi kita pada hari ini bukanlah “Apakah kita kenal siapa Yesus?”, melainkan “Apakah hidup kita mencerminkan bahwa kita adalah bagian dari keluarga Yesus?”


Dunia hari ini tidak lagi diubahkan oleh khotbah-khotbah yang indah atau hafalan ayat-ayat yang memukau. Dunia sedang merindukan kesaksian hidup. Orang-orang di sekitar kita ingin melihat apakah firman yang kita dengar setiap hari Minggu benar-benar membuat kita menjadi orang yang lebih sabar, lebih jujur, lebih murah hati, dan lebih pengampun di hari Senin hingga Sabtu.


Di satu sisi, menjadi ibu, saudara, dan saudari bagi Kristus adalah sebuah panggilan harian. Ini adalah proses seumur hidup untuk menyelaraskan kehendak pribadi kita dengan kehendak Allah. Saat kita memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, saat kita memberi makan mereka yang lapar, saat kita membela mereka yang tertindas, dan saat kita memilih untuk tetap jujur di tengah lingkungan yang korup, pada saat itulah kita sedang membuktikan bahwa kita bukan sekadar penonton di luar rumah, melainkan sungguh-sungguh anak-anak Allah dan saudara-saudari Kristus yang sejati.


“Menjadi murid Kristus bukan tentang seberapa dekat kita berdiri di sekeliling-Nya, melainkan seberapa jauh kita berjalan melakukan kehendak-Nya”.


Semoga Roh Kudus memampukan kita semua, agar telinga kita selalu terbuka untuk mendengarkan firman-Nya, dan hati serta tangan kita senantiasa tergerak untuk melaksanakannya dalam kehidupan nyata setiap hari.

Amin.

***


Fr. Petrus Efriem Foni, SVD

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page