Syering dan Refleksi Pengalaman Misi P. Bonaventura Laba, SVD

Foto: P. Bonaventura Laba, SVD saat bersama beberapa Perempuan Muda Hungaria


Salam jumpa dalam Sang Sabda untuk semua konfraterku di Ledalero dan dimana saja berada. Saya Pater Bonaventura Laba, SVD. Saat ini saya masuk sebagai salah satu anggota provinsi SVD Hungaria. Saya tiba di Budapest pada tahun 2019. Sekarang masuk tahun ke tiga di Hungaria (siap-siap pulang libur hahha)


Pertama-tama, saya ingin sedikit bercerita tentang Provinsi SVD Hungaria. Provinsi SVD Hungaria meliputi dua wilayah yaitu negara Hungaria dan negara Szerbia dengan jumlah anggota sebanyak 24 orang. Tidak banyak konfrater yang masuk dalam keanggotaan provinsi SVD Hungaria. Secara jumlah Provinsi Hungaria seharusnya berada pada level regio. Anggota provinsi semakin sedikit karena kekurangan - atau boleh dikatakan ketiadaan - panggilan (untuk hampir seluruh Eropa). Selain itu, banyak konfrater yang sudah lanjut usia dan meninggal.


Di Hungaria, kami memiliki dua komunitas besar yaitu komunitas Budatétény dan komunitas Kőszeg. Dua komunitas ini juga sekaligus merupakan komunitas atau rumah ret-ret yang selalu ramai dikunjungi. Selain itu, kami memiliki empat paroki di Hungaria dan satu paroki di Szerbia.


Para konfrater kami bekerja di beberapa bidang; paling banyak konfrater bekerja di paroki. Ada juga konfrater yang bekerja sebagai pembimbing ret-ret, ada konfrater yang bekerja untuk kelompok Gypsi, satu konfrater bekerja sebagai ketua KKI Hungaria, satu uskup dan satu nuncius. Para konfrater kami berasal dari beberapa negara: Indonesia, Filipina, India, Kongo, Ghana, Angola, Polandia, Slovakia, Hungaria dan Brazil dan Amerika.


Saya sendiri saat ini bekerja sebagai pastor rekan di paroki Trinitas Maha Kudus Bicske. Sebelum menjadi pastor rekan di Bicske, selama kuran lebih tujuh bulan, saya membantu pelayanan misa untuk dua komunitas besar yaitu komunitas orang-orang yang berbahasa Inggris dan komunitas orang-orang yang berbahasa Portugis.


Di Paroki, saya bekerja bersama seorang konfrater yang berasal dari Polandia bernama Pater Gregor Burbela, SVD. Selain paroki Trinitas Bicske, kami juga malayani tiga paroki dan empat stasi lain, karena kekurangan pastor. Paroki tempat saya bekerja berada di pinggir kota Budapest, kurang lebih 25 kilometer dari pusat kota (20 menit dengan kereta). Selain di paroki, kami juga bekerja sebagai penaggungjawab rohani di beberapa rumah jompo dan beberapa sekolah dasar dan sekolah menengah, termasuk sekolah sepak bola Hungaria yang bernama Puskás Akadémia. Saat ini masuk tahun kedua saya bekerja sebagai pastor rekan.


Orang-orang Hungaria, adalah orang-orang yang sangat ramah dan baik. Mereka sangat terbuka, terutama untuk para misionaris. Kehidupan beragama masih terbilang cukup baik jika dibandingkan dengan negara-negara eropa barat. Banyak umat yang masih aktif ambil bagian dalam misa dan kegiatan keagamaan lainya. Setiap akhir pekan, kami selalu diundang oleh keluarga-keluarga untuk makan siang atau makan malam. Hal ini sangat membantu kami dalam berpastoral. Terutama untuk saya, hal ini sangat membantu untuk mengasah kemampuan berbahasa saya.


Tantangan yang paling berat yang saya alami adalah bahasa. Saya ingat tahun 2016, ketika pembacaan benuming, Pater Leo Kleden, SVD pernah berkata bahwa bahasa Hungaria adalah salah satu bahasa tersulit di dunia. Dan hal itu memang benar. Ketika bertemu dengan Uskup Agung Budapest Kardinal Erdő Péter, beliu mengatakan kepada saya bahwa nanti saya tidak perlu menderita dua kali di neraka atau api penyucian, karena ketika orang belajar bahasa hungaria ia akan sangat menderita kerena ekstra sulit.


Foto: P. Bonaventura Laba, SVD bersama Duta Besar Vatikan untuk hungaria Mgr. Michael Blum, SVD



Saya hanya mengikuti kursus bahasa selama kurang lebih tujuh bulan. Hal ini dikarenakan semua aktivitas kursus terhenti saat pandemi corona. Beberapa bulan waktu kursus yang tersisa, dilaksanakan secara online. Sampai saat ini, saya masih sangat mengalami kesulitan untuk berbahasa secara baik dan benar. Saya masih tetap mengikuti kursus sekali dalam seminggu bersama guru privat. Di waktu senggang saya selalu pergi ke sekolah atau mengunjungi orang-orang jompo, selain untuk bermisi, juga untuk melatih kemampuan berbahasa saya.

Foto: P. Bonaventura Laba Saat Bersama Wakil Perdana Mentri Hungaria


Hal lain yang menarik sekaligus sebagai motivasi untuk diri saya sendiri ialah bahwa banyak umat paroki kami yang menjadi orang-orang penting di Hungaria, termasuk perdana mentri, anggota parlemen dan beberapa orang penting lainya. Kami selalu bertemu dan berkomunikasi dalam banyak kesempatan. Saya merasa canggung dan kaku berkomunikasi dengan mereka karena kemampuan bahasa yang sangat terbatas. Saya lebih banyak diam atau menghindar karena malu. Dari situ saya berpikir, tidak ada cara lain agar bisa berkomunikasi secara baik dengan mereka selain berusaha lebih keras lagi untuk belajar bahasa.


Foto: P. Bonaventura saat Bersama Uskup Keuskupan Székesfehérvár


Untuk konfrater muda, persiapkan diri kalian dengan baik untuk misi. Banyak umat di berbagai tempat menantikan kehadiran kita. Gunakanlah waktu dengan baik, belajar sebanyak mungkin. Manfaatkan kesempatan untuk belajar bahasa inggris di sana, karena itu yang menolong kita saat baru berada di tanah misi.


Akhirnya saya memohon doa konfrater sekalian, semoga saya bisa tekun dan satia dalam menjalankan tugas-tugas saya, terutama tekun dan setia dalam belajar bahasa.*




170 views0 comments