top of page

PERSAUDARAAN TANPA BATAS

23 hours ago
5 min read

RENUNGAN HARIAN

Senin, 5 Oktober 2026 - Pekan Biasa ke-XXVII Tahun Genap


PF S. Faustina Kowalska, Perawan

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Gal 1:6-12

Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2.7-9.10c

Bait Pengantar Injil: Yoh 13:34

Bacaan Injil: Luk 10:25-37


Bacaan I

Gal 1:6-12

Aku menerima Injil bukan dari manusia,

dan bukan pula manusia yang mengajarkannya kepadaku;

aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:


Saudara-saudara,

aku heran, bahwa kalian begitu cepat berbalik dari Allah,

yang telah memanggil kalian oleh kasih karunia Kristus,

dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil;

hanya ada orang yang mengacaukan kalian

dan yang bermaksud untuk memutar-balikkan Injil Kristus.

Tetapi seandainya kami sendiri ataupun seorang malaikat dari surga

mewartakan kepada kalian suatu injil

yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu,

terkutuklah dia.

Seperti yang telah kami katakan dahulu,

sekarang kukatakan sekali lagi,

"Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil,

yang berbeda dengan apa yang telah kalian terima,

terkutuklah dia."

Jadi bagaimana sekarang?

Adakah aku mencari kesukaan manusia atau kesukaan Allah?

Adakah aku mencoba berkenan kepada manusia?

Sekiranya aku masih mau mencari perkenanan manusia,

maka aku bukanlah hamba Kristus.

Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku,

bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia.

Karena aku bukan menerimanya dari manusia,

dan bukan pula manusia yang mengajarkannya kepadaku,

tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus.


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 111:1-2.7-9.10c

R:5b

Tuhan selalu ingat akan perjanjian-Nya.


*Aku bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati,

dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaat.

Besarlah perbuatan-perbuatan Tuhan,

layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.


*Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan,

segala titah-Nya teguh;

Perintah-Nya kokoh lestari untuk selamanya,

dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.


*Ia memberikan kebebasan kepada umat-Nya,

Ia menetapkan perjanjian untuk selama-lamanya;

kudus dan dahsyatlah nama-Nya!

Dia akan disanjung sepanjang masa.



Bait Pengantar Injil

Yoh 13:34

Perintah baru Kuberikan kepadamu, sabda Tuhan;

yaitu supaya kamu saling mengasihi;

sama seperti Aku telah mengasihi kamu.


Bacaan Injil

Luk 10:25-37

Siapakah sesamaku?


Inilah Injil Suci menurut Lukas:


Pada suatu ketika

seorang ahli kitab berdiri hendak mencobai Yesus,

"Guru, apakah yang harus kulakukan

untuk memperoleh hidup yang kekal?"

Jawab Yesus kepadanya,

"Apa yang tertulis dalam hukum Taurat?

Apa yang kaubaca di sana?"

Jawab orang itu,

"Kasihilah Tuhan, Allahmu,

dengan segenap hati dan dengan segenap jiwamu,

dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu.

dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."

Kata Yesus kepadanya,

"Benar jawabmu itu.

Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup."


Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata lagi,

"Dan siapakah sesamaku manusia?"

Jawab Yesus,

"Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho.

Ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun

yang bukan saja merampoknya habis-habisan,

tetapi juga memukulnya,

dan sesudah itu meninggalkannya setengah mati.

Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu.

Ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan.

Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu.

Ketika melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan.


Lalu datanglah ke tempat itu

seorang Samaria yang sedang dalam perjalanan.

Ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya,

sesudah menyiraminya dengan minyak dan anggur.

Kemudian

ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri

lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya.

Keesokan harinya

ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu,

katanya, 'Rawatlah dia, dan jika kaubelanjakan lebih dari ini,

aku akan menggantinya waktu aku kembali.'


Menurut pendapatmu siapakah di antara ketiga orang ini,

adalah sesama manusia

dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?"


Jawab orang itu,

"Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya."

Yesus berkata kepadanya,

"Pergilah, dan perbuatlah demikian!"


Demikianlah sabda Tuhan.



Renungan


Saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.


Injil hari ini berbicara kepada kita tentang orang Samaria yang murah hati. Penginjil Lukas menggambarkan dengan jelas: Yesus berbicara mengenai siapa sesama atau saudara di antara kita. Selain itu, kisah ini juga mengisahkan tentang ahli Taurat yang mau mencobai Yesus. Kisah orang Samaria yang murah hati berangkat dari kedengkian hati ahli Taurat yang mau mencobai Yesus. Ia bertanya, siapakah sesamaku manusia? Pertanyaan ahli Taurat ini bukanlah sebuah pertanyaan yang datang atas kerinduan hati untuk menolong sesama, melainkan pertanyaan yang lahir atas ketidaksukaan dan keinginan untuk menjebak Yesus. Tentu pertanyaan itu sangat keliru. siapakah sesamaku manusia? Pertanyaan ahli Taurat ini secara tersirat mau memberikan sebuah batasan untuk mengasihi orang-orang tertentu.


Saudara saudari yang terkasih dalam Tuhan.


Dalam konteks umat Israel pada zaman Perjanjian Baru, orang Samaria dianggap sebagai musuh yang harus dihindari dan dikucilkan. Orang Yahudi memandang orang Samaria sebagai najis, sesat, dan pengkhianat. Namun, Yesus hadir untuk memberikan pemahaman baru mengenai persaudaraan dan keselamatan. Yesus menjelaskan arti perbedaan sebagai sesuatu yang dapat saling melengkapi dan saling menolong satu sama lain. Kisah tentang orang Samaria yang murah hati membuka mata hati kita untuk saling membantu meskipun kita berasal dari latar belakang budaya, adat istiadat, dan suku yang berbeda. Perbedaan ini seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling membenci atau mengucilkan satu sama lain. Dalam Injil Lukas, Yesus menjawab pertanyaan ahli Taurat dengan menceritakan kisah inspiratif tentang orang Samaria yang baik hati, yang mengajarkan kita tentang makna persaudaraan sejati. Kisah ini menunjukkan bahwa perbedaan dapat menjadi pelengkap dari kekurangan yang kita miliki. Yesus menampilkan sosok orang Samaria untuk menunjukkan arti persaudaraan, di mana dua dari kalangan Israel justru menunjukkan sikap acuh tak acuh dengan melewati orang yang membutuhkan pertolongan. Tindakan mereka mencerminkan keangkuhan dan ketidakpedulian. Sebaliknya, orang Samaria memilih untuk membantu dan merawat, menunjukkan sikap kerendahan hati dan simpati terhadap sesama yang membutuhkan. Pilihan untuk membantu adalah pilihan yang benar dan menunjukkan makna sejati dari persaudaraan. Kiranya kisah orang Samaria yang murah hati menjadi pelajaran yang baik dalam kehidupan kita.


Sama saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan.


Dunia dewasa ini telah menghadirkan berbagai persoalan dalam tatanan sosial masyarakat atau umat manusia. Sikap benci, iri hati, dan menang sendiri telah merambat masuk dalam kehidupan manusia. Kita cenderung menjadi saudara yang tidak peduli, egois, dan tidak setia kawan. Sikap-sikap ini tentu mencerminkan ahli Taurat dan Lewi yang tidak peduli dengan sesama saudara. Ahli Taurat dan Lewi adalah orang yang memiliki jabatan dan kedudukan yang terpandang. Namun, sikap dan cara hidup mereka tidak mencerminkan kerendahan hati. Kita juga mungkin demikian. Kita cenderung egois dan kurang menghargai sesama kita yang membutuhkan. Kesadaran untuk memberi sangat kurang sehingga rasa persaudaraan kita sangat miskin.


Saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan.


Persaudaraan yang ditampilkan oleh orang Samaria adalah persaudaraan yang melampaui batasan manusia. Dia tidak mengenal suku, budaya, dan ras. Yang ditunjukkannya ialah persaudaraan yang datang dari hati serta melibatkan aspek kemanusiaan. Persaudaraan seperti inilah yang Yesus kehendaki agar kita berbuat demikian. Yesus telah membuka rantai pengekang atas batasan-batasan yang diciptakan oleh manusia karena mengakibatkan perpecahan dan kehancuran hidup manusia. Bagi Yesus, semua manusia adalah sama. Oleh karena itu, semua manusia harus hidup dalam kasih dan kebaikan.


Saudara dan saudari yang terkasih dalam Tuhan.


Orang Samaria yang murah hati telah membuktikan kasihnya dan berupaya mengalahkan batas serta membuktikannya lewat tindakan nyata. Berangkat dari kaum yang dibenci, dianggap najis, pengkhianat dan sesat, tapi mampu memberikan teladan yang baik. Kemurnian hati orang Samaria telah mengalahkan batas perbedaan yang kita ciptakan. Dari kesucian ini, timbul sebuah aksi yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang Israel. Hidup dalam realitas perbedaan dewasa ini yang penuh dengan perbedaan, baik agama, suku maupun warna kulit, tidak membuat kita merasa gengsi untuk membantu sama lain. Tindakan membantu yang dibangun atas dasar kasih akan memberikan kita sebuah ketenangan batin dan kebahagiaan dalam menghayati iman akan Kristus. Kristus sendiri telah mengorbankan tubuh dan darah-Nya untuk kita. Oleh karena itu, kita pun harus hidup dalam kasih, kasih terhadap sama saudara kita yang lebih membutuhkan. Kehadiran kita, bantuan kita dalam bentuk apa pun, akan sangat berarti bagi yang membutuhkan.


***


Fr. Patrisius Pati Blolon, SVD

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page