top of page

Iman yang Menyelamatkan

21 hours ago
5 min read

RENUNGAN HARIAN

Minggu, 27 September 2026 - Pekan Biasa ke-XXVI Tahun Genap



Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Yeh 18:25-28

Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4bc-5.6-7.8-9

Bacaan II: Flp 2:1-11

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27

Bacaan Injil: Mat 21:28-32


Bacaan I

Yeh 18:25-28

Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya,

ia akan menyelamatkan jiwanya.


Bacaan dari Nubuat Yehezkiel:


Beginilah firman Tuhan Allah,

"Kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat!

Dengarlah dulu, hai kaum Israel!

Apakah tindakan-Ku yang tidak tepat

ataukah tindakanmu yang tidak tepat?

Kalau orang benar berbalik dari kebenarannya

dan melakukan kecurangan sehingga ia mati,

ia harus mati karena kecurangan yang dilakukannya.

Sebaliknya,

kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya

dan ia melakukan keadilan serta kebenaran,

ia akan menyelamatkan nyawanya.

Ia insaf dan bertobat dari segala durhaka yang dibuatnya,

maka ia pasti hidup, ia tidak akan mati."


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 25:4bc-5.6-7.8-9

R:6a

Ingatlah segala rahmat dan kasih setia-Mu, ya Tuhan.


*Tunjukkanlah lorong-lorong-Mu kepadaku, ya Tuhan,

Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku,

sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan daku,

Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.


*Ingatlah segala rahmat-Mu dan kasih setia-Mu, ya Tuhan,

sebab semuanya itu sudah ada sejak purbakala.

Dosa-dosaku pada waktu muda,

dan pelanggaran-pelanggaranku janganlah Kauingat,

tetapi ingatlah kepadaku sesuai dengan kasih setia-Mu,

oleh karena kebaikan-Mu, ya Tuhan.


*Tuhan itu baik dan benar;

sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum,

dan mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang bersahaja.



Bacaan II

Flp 2:1-11

Dalam hidupmu bersama

hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:


Saudara-saudara,

dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih,

ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belaskasihan.

Maka sempurnakanlah sukacitaku dengan ini:

Hendaklah kamu sehati sepikir,

dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan,

dengan tidak mencari kepentingan sendiri

atau pujian yang sia-sia.

Sebaliknya dengan rendah hati anggaplah orang lain

lebih utama daripada dirimu sendiri.

Janganlah masing-masing hanya memperhatikan kepentingannya sendiri,

melainkan kepentingan orang lain juga.

Dalam hidupmu bersama,

hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus.


Walaupun dalam rupa Allah,

Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu

sebagai milik yang harus dipertahankan.

Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri

dan mengambil rupa seorang hamba,

dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia,

Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati,

bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia

dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus bertekuk lututlah

segala yang ada di langit, yang ada di atas dan di bawah bumi,

dan bagi kemuliaan Allah Bapa

segala lidah mengaku: Yesus Kristus adalah Tuhan.


Demikianlah sabda Tuhan.



ATAU BACAAN SINGKAT

Flp 2:1-5


Dalam hidupmu bersama

hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Filipi:


Saudara-saudara,

dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih,

ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belaskasihan.

Maka sempurnakanlah sukacitaku dengan ini:

Hendaklah kamu sehati sepikir,

dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan,

dengan tidak mencari kepentingan sendiri

atau pujian yang sia-sia.

Sebaliknya dengan rendah hati anggaplah orang lain

lebih utama daripada dirimu sendiri.

Janganlah masing-masing

hanya memperhatikan kepentingannya sendiri,

melainkan kepentingan orang lain juga.

Dalam hidupmu bersama,

hendaklah kamu bersikap seperti Kristus Yesus.


Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil

Yoh 10:27

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku, sabda Tuhan.

Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.



Bacaan Injil

Mat 21:28-32

Pemungut-pemungut cukai dan para pelacur

akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.


Inilah Injil Suci menurut Matius:


Sekali peristiwa

Yesus berkata kepada imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi,

"Bagaimana pendapatmu?

Ada orang mempunyai dua anak laki-laki.

Ia pergi kepada yang sulung dan berkata,

'Anakku, pergilah bekerja di kebun anggur hari ini!'

Jawab anak itu, 'Baik, Bapa.'

Tetapi ia tidak pergi.

Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua

dan berkata demikian juga.

Dan anak itu menjawab, 'Tidak mau!'

Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

Siapakah di antara kedua orang anak itu

yang melakukan kehendak ayahnya?"

Jawab mereka, "Yang terakhir!"


Maka berkatalah Yesus kepada mereka,

"Aku berkata kepadamu,

sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan para pelacur

akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Sebab Yohanes datang

untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu,

dan kamu tidak percaya kepadanya.

Tetapi pemungut-pemungut cukai dan para pelacur percaya kepadanya.

Dan meskipun melihatnya,

kamu tetap tidak menyesal,

dan kamu tidak juga percaya kepadanya."


Demikianlah sabda Tuhan.




Renungan


Saudara-saudari yg terkasih.


Yesus lewat pernyataan dalam injil hari ini memberikan tamparan yang luar biasa keras terhadap imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Yesus secara tegas menyatakan bahwa para pemungut cukai dan para pelacur akan mendahului mereka masuk ke dalam kerajaan Allah. Sabda Yesus ini meruntuhkan klaim kesalehan para imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi dan sebaliknya mengangkat derajat para pemungut cukai dan para pelacur. Dalam masyarakat Yahudi para pemungut cukai dan para pelacur adalah kelompok masyarakat dengan kategori sebagai pendosa. Karena itu, mereka ditempatkan pada lapisan sosial yang paling bawah dalam masyarakat dan disisihkan dalam pergaulan. Sementara, imam-imam kepala dan tua-tua menempati puncak piramida sosial dan dipandang sebagai orang-orang saleh. Mereka menganggap diri lebih baik dan lebih tinggi daripada para pemungut cukai dan para pelacur. Namun, Yesus, lewat sabdanya, meruntuhkan klaim tersebut. Yesus menyadarkan kita bahwa kesalehan sama sekali tidak bergantung pada status sosial. Bahwa Allah bukanlah milik mereka yang punya jabatan dalam agama dan masyarakat. Di hadapan Allah, status dan jabatan sama sekali tidak berlaku. Hanya iman sejatilah yang menyelamatkan.


Pernyataan keras Yesus berangkat dari cara hidup imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi yang penuh dengan kemunafikan. Mereka adalah representasi dari anak pertama dalam perumpamaan yang disampaikan Yesus, yang berhenti pada jawaban “iya’’ di mulut, tanpa hati yang tulus dan tindakan yang nyata. Imam=imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi sangat lincah mengucapkan hukum-hukum taurat dan aturan-aturan hidup bersama, tapi hati dan tindakan mereka besebrangan dengan apa yang mereka ucapkan. Sementara para pemungut cukai dan para pelacur, sebagaimana anak kedua dalam perumpamaan tersebut, adalah orang-orang yang pernah jatuh ke dalam dosa, tapi mereka membuka diri untuk bertobat dan kembali kepada Allah. Mereka menyadari keberdosaan dan ketidaklayakan di hadapan Allah lalu berlutut merendahkan diri dan memohon pengampunan.


Saudara/I yang terkasih.


Kita, dalam hidup ini, seringkali mengagung-agungkan status dan jabatan yang kita miliki. Status dan jabatan tinggi seringkali membuat kita meninggikan diri dan memandang rendah orang lain Kita merasa diri hebat dan mengabaikan Tuhan. Kondisi ini juga merasuki kita yang berjubah. Jubah membuat kita merasa diri memiliki Tuhan, membuat kita merasa jadi yang paling dekat dan paling suci di hadapan Tuhan. Jubah seolah-olah adalah jaminan keselamatan.


Karena itu, injil hari ini menyadarkan kita untuk kembali merendah di hadapan Tuhan. Tanpa Tuhan, kita bukanlah siapa-siapa dan apa-apa. Tidak ada alasan untuk mengklaim diri sebagai yang paling hebat. Status dan jabatan yang kita miliki bukan jaminan keselamatan, tapi ruang untuk pelayanan. Kita diselamatkan karena iman. Iman yang tidak hanya diucapkan di mulut, tapi iman yang lahir dari kedalaman hati dan dihidupi dalam tindakan nyata. Iman yang membuat kita merasa kecil dan tak berdaya tanpa Tuhan. Iman yang selalu memanggil kita pulang kepada Allah saat kita jatuh sebab Allah tak pernah lelah menerima kita kembali dan tidak pernah ada kata terlambat untuk kembali kepada-Nya.


***


Fr. Kharisma Sahputra, Thomas Vilkanova, SVD




Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page