top of page

KENALILAH DIRI SENDIRI!

5 hours ago
4 min read

Renungan Harian Frater SVD Ledalero

Jumat (11 September 2026) Pekan Biasa ke-XXIII Tahun Genap


Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: 1Kor 9:16-19.22b-27

Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3.4.5-6.12

Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b.a

Bacaan Injil: Luk 6:39-42


Bacaan I

1Kor 9:16-19.22b-27

Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya,

untuk menyelamatkan mereka semua.


Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:


Saudara-saudara,

memberitakan Injil bukanlah suatu alasan bagiku

untuk memegahkan diri.

Sebab bagiku itu suatu keharusan.

Celakalah aku bila aku tidak memberitakan Injil.

Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri,

memang aku berhak menerima upah.

Tetapi karena aku melakukannya

bukan menurut kehendakku sendiri,

maka pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan

yang ditanggungkan kepadaku.

Kalau demikian apakah upahku?

Upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah,

dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.

Sebab sekalipun aku bebas terhadap semua orang,

aku menjadikan diriku hamba semua orang,

supaya aku dapat memenangkan orang sebanyak mungkin.


Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya

supaya sedapat mungkin memenangkan beberapa orang di antaramu.

Segala-galanya itu kulakukan demi Injil,

agar aku mendapat bagian di dalamnya.

Tidak tahukah kalian,

bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari,

tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah?

Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kalian memperolehnya.

Tiap-tiap orang yang mengikuti pertandingan,

menguasai dirinya dalam segala hal.

Mereka berbuat demikian

untuk memperoleh suatu mahkota yang fana,

tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.


Sebab itu aku berlari bukan tanpa tujuan,

dan aku bertinju bukan dengan memukul sembarangan.

Sebaliknya aku melatih dan menguasai tubuhku sepenuhnya,

jangan sampai aku sendiri ditolak

sesudah memberitakan Injil kepada orang lain.


Demikianlah sabda Tuhan.


Mazmur Tanggapan

Mzm 84:3.4.5-6.12

R:2

Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu,

ya Tuhan semesta alam!


*Jiwaku merana

karena merindukan pelataran Tuhan;

jiwa dan ragaku bersorak-sorai

kepada Allah yang hidup.


*Bahkan burung pipit mendapat tempat

dan burung layang-layang mendapat sebuah sarang,

tempat mereka menaruh anak-anaknya,

pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam,

ya Rajaku dan Allahku!


*Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu,

yang memuji-muji Engkau tanpa henti.

Berbahagialah para peziarah

yang mendapat kekuatan dari pada-Mu,

yang bertolak dengan penuh gairah.


*Sebab Tuhan Allah adalah benteng dan perisai;

kasih dan kemuliaan Ia berikan;

Ia tidak menahan kebaikan-Nya

dari orang yang hidup tidak bercela.



Bait Pengantar Injil

Yoh 17:17b.a

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.

Kuduskanlah kami dalam kebenaran.



Bacaan Injil

Luk 6:39-42

Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?


Inilah Injil Suci menurut Lukas:


Pada suatu ketika

Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya,

"Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?

Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?

Seorang murid tidak melebihi gurunya,

tetapi orang yang sudah tamat pelajarannya

akan menjadi sama dengan gurunya.


Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu,

sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui?

Bagaimana mungkin engkau berkata kepada saudaramu,

'Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar dalam matamu,'

padahal balok dalam matamu tidak kaulihat?


Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu,

maka engkau akan melihat dengan jelas

untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu."


Demikianlah sabda Tuhan.



RENUNGAN


Para pencinta Sabda Allah yang terkasih, Yesus dalam Sabda Injil hari ini berbicara tentang cara kita melihat diri sendiri dan melihat orang lain. Gambaran tentang carra melihat diri ini dikemukakan dalam sebuah pertanyaan yang sangat kuat: “Mengapa engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”


Ada begitu banyak fenomena di mana kita menemukan kecenderungan kita manusia yang mudah melihat selumbar kecil kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui balok kekurangan besar dalam diri sendiri. Kita sering lebih tajam dan lebih peka melihat kesalahan orang lain, tetapi kesalahan besar dalam diri sendiri sering kita abaikan.


Dalam kehidupan bersama, hal ini mudah terjadi. Ketika melihat kesalahan-kesalahan orang, kita dengan cepat memberi reaksi dan kesan buruk:

“Dia kurang bertanggung jawab. Dia terlalu apatis. Dia terlalu egois. Dia tidak bisa bekerja sama.”

Pada saat yang sama kita jarang bertanya: “Jangan-jangan ada bagian dari reaksi yang kita keluarkan tadi ada juga dalam diri kita?”


Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengintrospeksi diri sebelum menghakimi. Introspeksi diri adalah kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sudah saya lakukan, mengapa saya melakukannya, dan apa yang perlu saya perbaiki?


Kedewasaan introspeksi diuji dari keberanian mengeluarkan “balok” dari mata, keberanian untuk melihat diri sendiri dengan jujur. Orang yang mampu melihat dan mengenal dirinya, termasuk kelemahan-kelemahan diri, kesalahan, ego, kemarahan, dan kecenderungan menghakimi yang ada dalam diri adalah tipikal orang yang kuat.


Kesadaran akan pengenalan diri melahirkan kerendahan hati. Dalam terang Injil, mengenal diri bukan sekadar memahami pikiran dan perasaan kita, tetapi juga menyadari bahwa kita adalah manusia yang sama-sama membutuhkan belas kasih dan pengampunan Allah.


Dalam kehidupan menggereja, keluarga, komunitas, maupun tempat kerja, konflik sering muncul bukan karena orang tidak memiliki kesalahan, tetapi karena masing-masing sibuk menunjuk kesalahan pihak lain. Untuk itu kita butuh pertobatan yang lahir dari keberhasilan mengenal diri. Sebuah komunitas yang sehat dimulai dari pertobatan masing-masing pribadi. Ketika setiap pribadi mampu mengenal diri, berani menegur dengan penuh kasih dan memahami tanpa menghakimi, di situ kita telah membangun sebuah komunitas hidup yang sehat.


Semoga Tuhan memberkati. Bunda Maria mendoakan.

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page