LEBIH DARI SEKADAR NǏ HǍO! Sharing dan Refleksi Pengalaman Misi Frt. Frano Kleden, SVD di Taiwan
Setelah tujuh bulan mengikuti kursus bahasa Inggris di Filipina plus enam bulan mengurus-menunggu-mendapatkan visa misionaris di Jakarta, pada 2 Oktober 2019, Rian dan saya akhirnya tiba juga di Taiwan. Jujur saja, aktivitas menunggu yang lama di rumah SoVerDi Jakarta, merelakan waktu lewat begitu saja untuk urusan visa dan beberapa persyaratan administrasi, membuat semangat dan motivasi pergi ke Taiwan melemah. Sebab, ringkas kata, kalau tak ada aktivitas yang berhubungan dengan visa, kegiatan sepanjang hari akan dihabiskan di rumah SoVerDi: menunggu dan menunggu.
Betapapun demikian, Tuhan sungguh terlalu Baik. Setelah babak belur diobrak-abrik sang waktu, hari yang menggembirakan hati itu akhirnya datang juga. Email dari Pater Dennis Manzana, direktur OTP (Overseas Training Program) Taiwan kala itu datang bak angin sejuk yang langsung menyegarkan motivasi saya. Ucapan “Welcome to Taiwan” di akhir emailnya hadir seperti nyala api yang langsung membakar semangat misi saya untuk terbang ke Taiwan. Dengan semangat yang bernyala-nyala, saya katakan: “Taiwan, I’m coming!”
Potret Kehidupan Sosial, Agama dan Prioritas Misi
Secara fungsional, Taiwan adalah sebuah negara merdeka yang memiliki pemerintahan berdaulat serta mendapat pengakuan eksternal dari negara lain. Pulau kecil Taiwan berada tak jauh dari pantai tenggara Mainland China (Cina Daratan), dengan populasi penduduk berjumlah 24 juta jiwa. Konon katanya, ketika banyak pemuda (terutama di pedesaan) tidak dapat menemukan pengantin lokal (dari Taiwan), beberapa peningkatan jumlah perempuan pun terjadi. Perempuan-perempuan dari Cina Daratan, Vietnam dan negara-negara Asia Tenggara (Filipina dan Indonesia) lainnya berimigrasi ke Taiwan untuk “mengisi kekosongan tersebut”, selain menjadi tenaga kerja asing.
Walaupun mayoritas orang Taiwan mengaku non-religius, banyak dari mereka masih terlihat menjalankan praktik campuran agama Buddha, Taoisme dan berbagai kepercayaan tradisional. Sekitar 5% dari penduduk Taiwan adalah Katolik. Dan baru-baru ini, komunitas kekatolikan di Taiwan menjadi lebih berbeda dan berwarna karena banyak orang Filipina, Indonesia dan Vietnam mulai aktif bergabung dalam Gereja. Atas alasan itu, misa dan beberapa pelayanan gerejani lainnya tidak hanya dibuat dalam bahasa Mandarin tetapi juga dalam bahasa Inggris, Indonesia dan Vietnam.
Dalam konteks misi SVD, Taiwan termasuk satu wilayah provinsi SVD Cina. Selain Taiwan (berbahasa Mandarin Tradisional/Traditional Chinese), wilayah provinsi SVD Cina juga mencakup Cina Daratan (berbahasa Mandarin Sederhana/Simplified Chinese), Hongkong (berbahasa Cantonese dan Inggris) dan Macau (berbahasa Cantonese dan Portugis). Berbeda dengan Cina Daratan yang agak radikal membatasi kedatangan para pastor penyebar agama katolik, Taiwan sendiri sangat terbuka. Banyak pastor SVD dan kongregasi lain dari seluruh belahan dunia (lebih dari 50%) datang ke Taiwan dan menjalankan karya misi di sana.
Personel imam SVD asal Taiwan sendiri terhitung sangat sedikit. Walaupun demikian, kiprah SVD yang dimulai oleh para misionaris Eropa hingga kini masih sangat relevan dan berpengaruh di sana. Karya dan pelayanan SVD di bidang evangelisasi, pendidikan dan penelitian sekolah, paroki-paroki, keluarga-pastoral kaum muda dan kaum migran membuat SVD tidak asing bagi masyarakat Taiwan secara khusus yang beragama Katolik.
Kontak Batin Orang-orang Asing
Masih tersimpan manis dalam kepala saya tatkala pesawat China Airlines yang kami tumpangi tepat mendarat di Bandara Internasional Taoyuan, Taipei. Pater Jiji (konfrater asal India) dan Pater Voytek (konfrater asal Polandia) sudah sedang standby di sana menjemput kami. Satu momen istimewa dan tak akan pernah terlupakan terjadi di sini. Rian dan saya tidak pernah mengenal dua pastor ini sebelumnya. Jangankan berkenalan, mendengar nama mereka pun belum pernah.
Namun, di tengah kegaduhan dan hiruk-pikuk suasana bandara malam itu, ada semacam ikatan hati yang kuat dan membatin yang membuat mata dan kaki kami tanpa ragu-ragu berjalan menghampiri mereka. Bukan karena penampilan luar sebagai sesama orang asing (baca: orang non-Taiwan yang ada di bandara) yang gampang diinderai, melainkan lebih dari itu, karena ada kontak batin yang sama, yang kuat bertaut karena sama-sama semisi dan seperjuangan dalam Serikat Sabda Allah.
Atas nama SVD lah, saya dengan berani dan pasti mengatakan: “Those are my confreres” (Mereka adalah samasaudara saya). Dari peristiwa itu, saya kemudian menjadi lebih sadar bahwa terhadap pengambilan keputusan-keputusan tertentu, mengandalkan bisikan suara hati ternyata lebih berdayaguna dibanding berpegang pada ketajaman indera ataupun kemampuan rasio.
Setelah disambut hangat oleh kedua konfrater tersebut, kami lalu diantar menuju rumah OTP di Tàishān, New Taipei City. Ketika tiba di komunitas Tàishān, saya masih ingat betul, Peter (frater asal Vietnam) sudah menunggu di lantai satu, menyapa kami dan langsung membantu mengangkat koper saya menaiki anak-anak tangga. Di lantai lima, para frater lain: Michael (Vietnam), Manuel (Angola), dan Joseph (Vietnam) tengah siap menyambut kedatangan kami. Sejak saat itu, di lantai itulah, perjalanan hidup dan panggilan saya sebagai seorang frater OTP pun dimulai.
Agar lebih koheren dan terstruktur, cerita sederhana yang kurang-lebih mengcapture keseluruhan pengalaman hidup saya di Taiwan ini saya bagi menjadi tiga bagian besar: pertama, tentang pengalaman belajar bahasa; kedua, kehidupan berkomunitas; dan ketiga, pengalaman bermisi.
Aksara yang Rumit dan Kemampuan Menghafal yang Lemah
Saya memulai studi bahasa Mandarin dengan “sistem kebut”. Masuk di pertengahan semester, kelas bahasa sudah berjalan satu setengah bulan, dan saya “dituntut” untuk mengejar ketertinggalan, mempercepat langkah agar bisa menyelesaikan semua materi pelajaran sebelum ujian akhir. Atas alasan itu, setiap hari, pagi dan sore, saya mau tidak mau banyak menghabiskan waktu di sekolah, berkutat dengan buku-buku dan aksara Mandarin yang tingkat kesulitannya sungguh tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Taiwan banyak mengubah saya. Saya sadar betul, datang ke Taiwan setelah empat tahun studi filsafat bukanlah satu modal yang terbilang kuat. Mengapa? Di ruangan kelas, metode berpikir analitis dan kritis a la anak-anak Ledalero harus saya tinggalkan sementara di luar kelas. Belajar bahasa baru dari nol mengharuskan saya untuk lebih rendah hati, duduk seperti seorang anak kecil di kelas. Dan sebagai seorang anak, yang bisa saya lakukan hanyalah mendengarkan pelajaran dengan saksama, membaca dan berlatih menulis, dan yang tidak kalah pentingnya adalah menghafal.
Karena kemampuan menghafal saya tidak terlalu baik, sampai saat ini saya masih terus mengulang-ulang cara penulisan sebuah karakter Mandarin, mengingat bagaimana suatu kata Mandarin dilafalkan dengan intonasi yang benar, dan terlebih lagi menghafal bagaimana struktur sebuah kalimat bahasa Mandarin itu dibangun seturut kaidah dan tata bahasa yang benar. Syukur puji Tuhan, saya toh bisa mencintai rutinitas ini dan gembira menjalaninya.
Pada akhir Agustus 2021, ketika baru saja menyelesaikan dua tahun pelajaran bahasa Mandarin, di suatu kesempatan makan malam, seorang konfrater senior berceletuk,
“Frano, nǐ de zhōngwén xué wánchéngle ma?” (Frano, studi bahasa Mandarinmu sudah selesai?)
“Shénfù, gǎnxiè Tiānzhǔ, wǒ xué wánle” (Puji Tuhan, sudah selesai, Pater).
“Nǐ quèdìng nǐ zhēn de xué dé hěn hǎo ma?” (Engkau yakin sudah benar-benar belajar dengan baik?)
“Shì de, Shénfù” (Iya, Pater). Saya menjawab penuh percaya diri.
“Xué gè yǔyán shì méiyǒu shíjiān xiànzhì de, jíshǐ dào sǐ, yě yào bùduàn de xuéxí!” (Belajar sebuah bahasa itu tidak ada batasan waktunya. Bahkan sampai engkau mati, engkau akan terus belajar dan belajar!) Ia membalas saya.
Tanggapan si konfrater langsung menghentak kesadaran saya. Saya mengangguk tanda setuju, bahwa perjuangan untuk belajar dan menguasai bahasa orang memang baru saja dimulai. Namun saya optimis juga, meskipun belajar bahasa baru (terutama bahasa Mandarin) akan memakan waktu seumur hidup, pengalaman belajar selama dua tahun di kelas sudah sangat membantu saya secara istimewa dalam membangun kehidupan dan menjalin relasi sosial dengan orang-orang di Taiwan. Dari situ saya lalu bernazar, tidak ada tanggung jawab yang lebih mulia dan berharga daripada mengambil dan memanfaatkan betul-betul kesempatan berharga (baca: belajar bahasa Mandarin) ini.
Saya bersyukur kepada Tuhan, dari para konfrater SVD, guru, teman-teman kelas, orang-orang yang saya temui di paroki dan di tempat liburan, saya terus mendapat banyak pengetahuan baru dalam berbahasa. Bahwa untuk mengetahui cara mengucapkan sebuah kata dengan benar, saya perlu mengulangi pengucapan kata tersebut berkali-kali. Bahwa untuk membunyikan sebuah kata dengan nada yang akurat, saya perlu dibimbing, diajar, dikoreksi bahkan sampai ditertawakan berkali-kali. Dari pengalaman-pengalaman itulah, kemampuan berbahasa saya menjadi lebih maju: dari sekadar membunyikan sapaan basa-basi “Nǐ hǎo” (halo) sampai dengan diskusi dan sharing-sharing lain yang lebih mendalam.
Tàishān dan Fu Jen: Rumah dan Komunitas Persaudaraan
Selain Ledalero, Tàishān adalah satu rumah formasi yang membuat saya begitu krasan di dalamnya. Pater Domi Moi (kepala rumah) serta teman-teman frater yang berasal dari negara dan latar belakang yang berbeda membuat Tàishān begitu menarik dan berwarna untuk ditinggali. Dari segi fasilitas fisik, saya tidak pernah merasa kekurangan. SVD telah mempersiapkan segalanya dengan baik.
Di rumah Tàishān saya belajar banyak hal baru, dari hal-hal yang paling praktis seperti memasak menggunakan kompor gas ataupun menanam sayur dan bunga di atas tanah beralaskan semen, hingga internalisasi nilai-nilai yang lebih tinggi dan mendasar seperti sikap mandiri, rasa hormat, manejemen waktu, respek pada keberagaman dan pengembangan kreativitas.
Karena jumlah anggota komunitas Tàishān yang tidak terlalu banyak (delapan orang), kegiatan-kegiatan bersama, di dalam maupun di luar komunitas, selalu lebih mudah diatur dan dijalankan. Beberapa kali kami mengadakan kegiatan outing sekadar untuk berekreasi, selain untuk mengexplore dan mengakrabi diri dengan alam lingkungan dan masyarakat Taiwan. Biasanya kami pergi mengunjungi paroki-paroki SVD, keluarga atau kenalan yang menjadi mitra kerja dan yang tak kalah penting juga, tempat-tempat wisata menarik untuk relaksasi diri.
Di komunitas, kami mempunyai satu program semesteran yang disebut “Open House”. Program ini diadakan selama satu hari di mana pada hari tersebut kami secara komunitas membuka rumah kami terhadap masyarakat luar. Kami mengundang para tetangga, keluarga, tamu, dan semua kenalan untuk datang dan bergembira bersama kami sembari menikmati segala jenis hidangan yang kami sediakan.
Selain bernada rekreatif, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk memperkenalkan SVD dan matra-matra khasnya kepada masyarakat luar (aspek misioner). Spirit internasionalitas SVD yang kental membuat acara itu tampak sangat internasional. Para frater diberi kesempatan untuk menyediakan makanan khas negara masing-masing. Alhasil, nasi tumpeng, sayur daun singkong santan dan perkedel ikan made in Indonesia tersaji manis di meja perjamuan malam itu.
Selain mengalami kehidupan komunitas di Tàishān, saya juga merasakan kehangatan kebersamaan dan persaudaraan bersama para konfrater senior di komunitas Fu Jen University. Fu Jen University (1925) merupakan kampus katolik pertama yang didirikan di Beijing, Cina. Pada tahun 1961, kampus ini dibangun kembali di Taiwan atas kerja sama Serikat Jesuit, SVD dan Konferensi Wali Gereja Regional. SVD memiliki satu rumah di dalam kompleks universitas, dan di sanalah para konfrater yang bekerja sebagai dosen dan staf di kampus menetap.
Rumah tersebut terdiri dari lima lantai. Tiga lantai bawah menjadi tempat kursus bahasa Mandarin (Fujen Center of Chinese Language and Culture) dan dua lantai atas menjadi tempat tinggal para konfrater SVD. Saya menjalani studi bahasa Mandarin di tempat ini. Sungguh sebuah kegembiraan luar biasa tatkala bisa belajar bahasa Mandarin di sekolah yang ditangani langsung oleh tarekat sendiri. Setiap hari, setelah selesai kursus bahasa, kami para students SVD langsung bergegas menuju lantai lima untuk menikmati santap siang bersama para konfrater yang lain.
Momen makan siang bersama di komunitas Fu Jen memungkinkan saya untuk mengenal para “senior” seserikat yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga teguh dan kokoh dalam kehidupan spiritual. Kesaksian hidup yang mengagumkan menjadi teladan tersendiri bagi perjalanan hidup dan panggilan saya. Melalui cerita dan sharing bersama mereka, saya menyadari bahwa menjadi berbeda itu unik, dan di dalam SVD, semua perbedaan itu bisa diterima dengan indah.
Momen Perjumpaan dan Kegembiraan Misi
Setelah setengah tahun belajar bahasa Mandarin, program OTP mewajibkan kami untuk pergi bermisi di paroki-paroki pada hari Minggu. Program ini bagus, sebab melaluinya, saya bisa mempraktikkan pengetahuan bahasa yang telah saya pelajari di kelas dengan umat paroki yang mayoritas adalah orang asli Taiwan.
Pada awal perjumpaan, karena keterbatasan kosa kata bahasa, saya menjadi begitu kikuk mengeluarkan sepatah-dua patah kata. Namun seiring berjalannya waktu, hal tersebut tidak lagi menjadi sebuah tantangan yang berarti. Orang-orang Taiwan sangat pengertian, selalu bersedia membantu saya dalam mengartikulasikan kata dan mengekspresikan diri secara tepat dalam berbicara.
Saya menjalankan misi pastoral di paroki Chinese Martyrs Sanctuary, Banqiao bersama Pater Willy Ollevier, CICM (Belgia), dan rekannya Pater Joseph Djiba, SVD (Togo). Tidak jauh berbeda dengan bentuk pelayanan di Indonesia, di gereja Taiwan, saya membantu melayani para pastor di altar, membagi komuni dan menemani umat yang datang berbagi cerita setelah misa. Selain itu, saya juga mendampingi satu kelompok pelajar dan keluarga Indonesia yang menetap di wilayah paroki tersebut. Meski tugas dan pelayanan ini terkesan sangat sederhana, saya selalu bergembira dan berusaha untuk setia terlibat.
Kebanyakan umat Katolik di Banqiao dan paroki-paroki Taiwan umumnya adalah orang-orang tua. Mereka sangat loyal dan militan dalam mengikuti kegiatan-kegiatan yang diprogramkan oleh paroki. Namun, karena terlalu memberi “kebebasan” lebih kepada anak-anak, anak-anak akhirnya menjadi bebas dan tidak diarahkan untuk masuk Gereja dan mengenal agama Katolik. Jika demikian, banyak anak akhirnya memilih untuk tidak memeluk agama tertentu.
Selain di paroki, pengalaman misi paling sederhana juga saya alami di warung-warung makan di sepanjang jalanan kota Taipei. Setiap hari Kamis, Sabtu dan Minggu sore, komunitas Tàishān memberikan kesempatan kepada kami untuk menikmati makan malam di luar komunitas. Kesempatan itu saya gunakan dengan gembira. Dengannya, saya tidak hanya bisa mempraktikkan bahasa Mandarin saya, tetapi juga bisa berbagi cerita dan sharing dengan orang-orang yang saya jumpai di luar. SVD dan dunianya adalah topik kebanggaan yang selalu saya bawakan kala bertandang ke tempat mereka.
Berawal dari sapaan sederhana “Nǐ hǎo” saya berani melepaskan kemapanan diri, menyapa “saya yang lain” dengan modal bahasa yang masih belum berbentuk. Dengan ucapan “Nǐ hǎo” saya mulai berani membuka dan memberi diri melalui perjumpaan dengan sesama. Melalui “Nǐ hǎo” di awal percakapan, pertukaran cerita dan hati yang berempati terjadi. “Nǐ hǎo” bukanlah sekadar salam biasa. Ia, lebih dari itu, telah membuka jalan bagi saya untuk membagikan cinta Tuhan kepada sesama melampaui sekat-sekat ruang dan waktu.
Kekayaan bangsa dan budaya, watak dan karakter disiplin serta hardworking-nya orang-orang Taiwan sudah turut membentuk kepribadian dan jati diri saya. Menjalankan masa OTP di Taiwan adalah satu kesempatan mulia dan berharga yang hanya dapat terjadi karena campur tangan Tuhan. Sungguh, Tuhan itu Baik. Di negeri asing, ketika menginjakkan kaki pertama di bandara internasional Taiwan sampai meninggalkan jejak kaki terakhir di tempat yang sama, saya bahkan tidak pernah merasa seperti orang asing. Dia berjalan bersama saya!




Comments