Misi Kasih Para Frater Unit Mikhael di Panti Asuhan Bhakti Luhur Wairklau-Maumere
- 11 hours ago
- 3 min read

Suasana hangat dan penuh persaudaraan menyelimuti Panti Asuhan Bhakti Luhur Wairklau, Maumere, saat menerima kunjungan para Frater Unit Mikhael Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Minggu (10/05/2026).
Kunjungan ini menjadi bagian dari program pastoral terlibat yang digagas Sie JPIC Fratres sebagai wujud nyata semangat misi dan keberpihakan kepada sesama, sejalan dengan semangat khas SVD: Animasi Misi dan JPIC.
Kedatangan para frater disambut antusias oleh para suster, rekan kerja, dan anak-anak panti. Sapaan hangat, senyum, dan suasana kekeluargaan langsung terasa sejak awal perjumpaan.
Anak-anak panti tampak begitu gembira menyambut kehadiran para frater yang datang bukan sekadar untuk berkunjung, tetapi juga untuk berbagi perhatian, kebersamaan, dan sukacita.
Kegiatan diawali dengan perayaan Ekaristi bersama di kapela panti yang dipimpin oleh Pater Jhon Masneno, SVD. Liturgi berlangsung khidmat dan semakin hidup melalui koor meriah dari para frater.
Dalam homilinya, Pater Jhon memberikan kesempatan kepada Suster Kori untuk membagikan pengalaman pelayanan di komunitas Bhakti Luhur.
Dalam sharing tersebut, Suster Kori menjelaskan bahwa komunitas panti asuhan saat ini dihuni sekitar 70 anggota yang terdiri atas para suster, rekan kerja, dan anak-anak panti.
Menurutnya, kehidupan komunitas dibangun di atas semangat persaudaraan yang diwujudkan dalam kebersamaan sehari-hari, baik di ruang makan, kamar tidur, maupun dalam doa bersama di kapela.
“Komunitas ini hidup dari semangat kebersamaan. Kami belajar saling menerima, saling membantu, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan,” ungkap Suster Kori dalam sharing-nya.
Selain itu, Suster Kori juga menjelaskan berbagai bentuk pelayanan dan program sosial yang dijalankan komunitas Bhakti Luhur, termasuk pembagian tugas harian, unit kerja, serta pelayanan karitatif yang terus dilakukan bagi mereka yang membutuhkan.
Sharing tersebut memberi gambaran nyata mengenai kehidupan pelayanan yang dijalani para suster secara sederhana namun penuh dedikasi.
Menanggapi sharing itu, Pater Jhon menegaskan bahwa semangat pelayanan para suster menunjukkan bahwa karya misi yang dijalankan memiliki arah dan tujuan yang jelas.
Menurutnya, ketekunan dan totalitas para suster dalam melayani menjadi pelajaran penting bagi para frater yang sedang menjalani masa formasi. Ia berharap para frater juga mampu membangun semangat hidup yang terarah, disiplin, dan berakar pada pelayanan kepada sesama.
“Sharing yang sangat detail ini menunjukkan bahwa karya pelayanan para suster memiliki arah dan tujuan yang jelas. Ini menjadi pelajaran penting bagi para frater dalam masa formasi,” ujar Pater Jhon dalam homilinya.
Dalam kegiatan tersebut hadir pula dua staf Fratres, yakni Fr. Loys Adiman dan Fr. Theos Seran, bersama pengurus JPIC Fratres, Fr. Edith Dita dan Fr. Koko Sempo.
Dalam sambutan singkat sebelum perayaan Ekaristi berakhir, Ketua Fratres, Fr. Loys Adiman, menegaskan bahwa kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari proses belajar para frater untuk mengenal dan mengalami secara langsung kehidupan umat serta dunia pelayanan.
Menurutnya, para frater perlu belajar hadir, mendengar, dan membangun relasi dengan orang-orang yang mereka jumpai dalam karya pastoral.
“Kegiatan seperti ini menjadi kesempatan bagi kami untuk belajar bermisi secara langsung, belajar hadir dan membangun kepedulian terhadap sesama,” kata Fr. Loys.
Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan animasi bersama di aula panti asuhan. Suasana yang semula tenang berubah menjadi penuh tawa dan kegembiraan.
Para frater, suster, rekan kerja, dan anak-anak panti larut dalam berbagai gerakan, lagu, permainan, dan tarian sederhana yang dipandu oleh Fr. Chiko Bataona. Animasi bergaya SEKAMI itu berhasil menciptakan suasana akrab dan penuh sukacita.
Kebersamaan sederhana tersebut menjadi momen yang berkesan, bukan hanya bagi anak-anak panti, tetapi juga bagi para frater yang terlibat langsung dalam kegiatan.
Perjumpaan itu memperlihatkan bahwa pelayanan pastoral tidak selalu hadir dalam hal-hal besar, tetapi juga melalui kehadiran, perhatian, dan relasi yang tulus dengan sesama.
Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama antara para frater, suster, rekan kerja, dan anak-anak panti sebagai kenangan atas perjumpaan yang penuh makna tersebut.
Melalui unggahan di status WhatsApp-nya, Fr. Rio Tukan menulis refleksi singkat yang menggambarkan pengalaman hari itu:
“Panti asuhan adalah sebuah perpustakaan besar, di mana setiap anak adalah buku yang kehilangan sampulnya, namun menyimpan cerita paling megah tentang arti hidup.”*
*Fr. Yanfel Maran




Comments