“Pesta Babi” di Ledalero: Membongkar Ilusi Kemajuan, Menggugat Kolonialisme Baru, dan Menyalakan Tanggung Jawab Generasi Muda
- 5 minutes ago
- 4 min read

Di tengah lanskap perbukitan yang sunyi dan reflektif, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero kembali menegaskan dirinya bukan sekadar ruang formasi intelektual dan spiritual, tetapi juga medan pergulatan nurani.
Pada Jumat malam (1/5/2026), para frater SVD angkatan Ledalero 87 menginisiasi kegiatan nonton bersama (nobar) dan diskusi film dokumenter Pesta Babi, sebuah karya yang tidak hanya mengajak untuk melihat, tetapi juga untuk menggugat, tidak hanya memahami, tetapi juga mengambil sikap.
Film yang digagas oleh Cypri Paju Dale dan disutradarai oleh Dhandy Laksono ini menghadirkan narasi tandingan terhadap wacana besar pembangunan nasional.
Ia membongkar apa yang kerap diselimuti retorika kemajuan: proyek-proyek ekstraktif berskala besar yang menjanjikan swasembada pangan dan energi, namun di baliknya tersimpan praktik kolonialisme dalam wajah baru; lebih halus, sistematis, dan dilegalkan oleh kekuasaan.
Dalam film ini, Papua tidak hadir sebagai ruang kosong yang menanti “pembangunan,” melainkan sebagai ruang hidup yang sarat makna, sejarah, dan identitas. Slogan “Papua bukan tanah kosong” menjadi seruan eksistensial bahwa tanah bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi rumah bagi martabat manusia.
Ketika tanah dirampas, yang hilang bukan hanya sumber daya, tetapi juga ingatan kolektif dan masa depan suatu bangsa kecil di pinggiran republik.
Secara filosofis, Pesta Babi mengguncang cara pandang kita tentang kemajuan. Ia mengajak penonton untuk bertanya: apakah kemajuan harus selalu identik dengan pertumbuhan ekonomi?
Ataukah kemajuan sejati justru terletak pada kemampuan menjaga keadilan, martabat manusia, dan keutuhan ciptaan?
Dalam terang ini, pembangunan yang merusak lingkungan dan meminggirkan manusia menjadi paradoks: ia tampak maju, tetapi sesungguhnya mundur dalam kemanusiaan.
Diskusi yang mengikuti pemutaran film menjadi ruang dialektika yang hidup. Para frater tidak hanya berbicara sebagai penonton, tetapi sebagai subjek yang sedang dibentuk untuk menjadi pelayan Sabda di tengah dunia yang retak oleh ketidakadilan.
Pertanyaan-pertanyaan kritis pun mengemuka: di mana posisi Gereja? Apakah iman cukup jika tidak menjelma dalam keberpihakan konkret?
Fr. Gege Darmawan, SVD, dalam refleksinya menegaskan bahwa film ini harus dibaca sebagai teks profetis yang menantang hati nurani.
“Menjadi pelayan Sabda berarti berani menyuarakan kebenaran, sekalipun itu tidak nyaman. Kita dipanggil untuk hadir di tengah mereka yang terpinggirkan, bukan sebagai pengamat, tetapi sebagai saudara,” ujarnya.
Sementara itu, Pater Yono, SVD, memperdalam analisis dengan menyebut bahwa Pesta Babi secara gamblang memperlihatkan wajah kolonialisme baru yang kini diperparah oleh praktik kapitalisme terpimpin yang dijalankan oleh rezim pemerintahan saat ini.
Menurutnya, negara tidak lagi berdiri sebagai pelindung seluruh rakyat, melainkan kerap menjadi instrumen bagi kepentingan ekonomi segelintir elite.
“Kapitalisme terpimpin ini menciptakan ilusi kesejahteraan, tetapi sesungguhnya memperkuat cengkeraman oligarki atas ruang hidup masyarakat kecil, terutama di Papua. Negara hadir, tetapi bukan untuk membebaskan, melainkan untuk mengontrol dan mengamankan kepentingan modal,” tegasnya.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan yang menggugah sekaligus menantang generasi muda: setelah menonton film ini, apa yang bisa kita lakukan?
Apakah kesadaran cukup, atau diperlukan tindakan nyata, sebuah “revolusi kesadaran”, agar praktik kekuasaan yang bobrok tidak terus mengakar dalam kehidupan bangsa?
Menambah kedalaman diskusi, Fr. Meybo, SVD, salah satu frater yang berasal dari Papua Tengah, memberikan perspektif dari pengalaman yang lebih dekat dengan realitas di lapangan. Ia menyoroti isu separatisme yang kerap dijadikan “topeng” oleh negara untuk melegitimasi kekerasan.
“Label separatisme sering dipakai untuk menstigmatisasi orang Papua. Kekerasan kemudian dianggap wajar demi menjaga eksistensi negara. Padahal, jika kita melihat lebih dalam, perlawanan yang muncul dari orang-orang Papua adalah respon terhadap ketidakadilan yang nyata, perampasan tanah, marginalisasi, dan penghancuran ruang hidup mereka,” ungkapnya.
Menurut Fr. Meybo, bentuk-bentuk perlawanan tersebut dalam beberapa kasus memang terorganisir dalam kelompok-kelompok yang selama ini distigmatisasi sebagai KKB atau OPM. Namun, ia menegaskan bahwa keberadaan kelompok-kelompok ini tidak bisa dilepaskan dari konteks historis dan sosial yang melatarbelakanginya.
“Kelompok-kelompok itu bukan lahir dari ruang hampa. Mereka adalah ekspresi dari luka yang panjang, respon murni terhadap perlakuan negara yang merebut kemanusiaan orang Papua. Kalau kita hanya melihat labelnya tanpa memahami akar persoalannya, kita sedang menutup mata terhadap ketidakadilan itu sendiri,” tambahnya.
Pernyataan ini memperkaya diskusi, sekaligus mengingatkan bahwa realitas Papua tidak bisa direduksi pada narasi tunggal. Ia adalah ruang kompleks yang menuntut kepekaan, keberanian moral, dan keterbukaan untuk mendengar suara dari pinggiran.
Dalam perspektif spiritualitas Serikat Sabda Allah (SVD), refleksi ini menemukan pijakannya dalam semangat Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC). Keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan bukan sekadar ideal normatif, tetapi panggilan konkret untuk berpihak pada mereka yang paling rentan. Film ini menjadi cermin yang memaksa setiap frater bertanya: apakah saya siap menjadi suara bagi yang dibungkam?
Kegiatan nobar dan diskusi ini pada akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda akademik; ia adalah peristiwa eksistensial. Ia mengajak setiap peserta untuk keluar dari kenyamanan, untuk berani mempertanyakan, dan pada akhirnya, untuk memilih: tetap diam atau bersuara.
Ledalero, melalui forum ini, sekali lagi menunjukkan bahwa pendidikan sejati bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga pembentukan hati nurani. Di tengah dunia yang dipenuhi ilusi kemajuan, suara-suara dari ruang seperti ini menjadi penting sebagai penanda bahwa masih ada keberanian untuk berpihak, masih ada kesadaran yang tumbuh, dan masih ada harapan untuk keadilan.
Dan mungkin, di situlah makna terdalam dari seluruh peristiwa ini: bahwa iman yang sejati tidak pernah netral. Ia selalu berpihak pada kehidupan, terutama ketika kehidupan itu sedang disangkal.*
*Fr. Eyo Galus SVD.




Comments