top of page

RENUNGAN HARIAN || Minggu, 8 November 2026 - Pekan Biasa ke-XXXII Tahun Genap || BERJAGA-JAGALAH, SEBAB KAMU TIDAK TAHU HARI DAN SAATNYA

4 hours ago
5 min read

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Keb 6:12-17

Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2.3-4.5-6.7-8

Bacaan II: 1Tes 4:13-18

Bait Pengantar Injil: Mat 24:42a.44

Bacaan Injil: Mat 25:1-13


Bacaan I

Keb 6:12-17

Kebijaksanaan ditemukan oleh mereka yang mencarinya.


Bacaan dari Kitab Kebijaksanaan:


Kebijaksanaan itu bersinar dan tak dapat layu,

mudah dipandang oleh yang kasih kepadanya,

dan ditemukan oleh mereka yang mencarinya.

Ia mendahului memperkenalkan diri

kepada yang menginginkannya.


Barangsiapa pagi-pagi bangun demi kebijaksanaan

tak perlu bersusah payah,

sebab kebijaksanaan itu ditemukannya duduk di dekat pintu.

Merenungkan kebijaksanaan merupakan pengertian sempurna,

dan siapa yang berjaga karena kebijaksanaan

segera akan bebas dari kesusahan.


Sebab kebijaksanaan sendiri berkeliling

mencari orang yang patut baginya,

dan dengan rela memperlihatkan diri

kepada mereka yang mencarinya;

kebijaksanaan dijumpai pada tiap-tiap pemikiran mereka.


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 63:2.3-4.5-6.7-8

R;2b

Jiwaku haus akan Dikau, ya Tuhan Allahku.


*Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau,

jiwaku haus akan Dikau, tubuhku rindu kepada-Mu,

seperti tanah yang kering dan tandus,

yang tiada berair.


*Demikianlah aku rindu memandangmu di tempat kudus,

sambil melihat kekuatan dan kemuliaan-Mu.

Sebab kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup;

bibirku akan memegahkan Dikau.


*Aku mau memuji Engkau seumur hidupku,

dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.

Seperti dijamu lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan,

bibirku yang bersorak-sorai, mulutku memuji-muji.


*Di tempat tidurku aku ingat kepada-Mu,

sepanjang kawal malam aku merenungkan Dikau.

Sungguh, Engkau telah menjadi pertolonganku,

dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.



Bacaan II

1Tes 4:13-18

Mereka yang telah meninggal dalam Yesus

akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus.


Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika:


Saudara-saudara,

kami ingin agar kamu mengetahui

tentang orang-orang yang sudah meninggal,

supaya kamu jangan berdukacita

seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.

Karena kalau kita percaya

bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit,

maka kita percaya juga

bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus

akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus.


Hal ini kami katakan kepadamu seturut sabda Allah ini:

Kita yang hidup dan masih tinggal sampai kedatangan Tuhan

sekali-kali takkan mendahului mereka yang sudah meninggal.

Sebab pada waktu tanda diberikan,

yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru

dan sangkakala Allah berbunyi,

Tuhan sendiri akan turun dari surga.

Dan mereka yang meninggal dalam Kristus Yesus

akan lebih dahulu bangkit.

sesudah itu, kita yang hidup dan masih tinggal

akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan

menyongsong Tuhan di angkasa.

Karena itu

hendaklah kamu saling menghibur dengan perkataan-perkataan ini.


Demikianlah sabda Tuhan.



ATAU BACAAN SINGKAT

1Tes 3:13-14


Mereka yang telah meninggal dalam Yesus

akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus.


Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Tesalonika:


Saudara-saudara,

kami ingin agar kamu mengetahui

tentang orang-orang yang sudah meninggal,

supaya kamu jangan berdukacita

seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.

Karena kalau kita percaya

bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit,

maka kita percaya juga

bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus

akan dikumpulkan Allah bersama dengan Yesus.


Demikianlah sabda Tuhan.



Bait Pengantar Injil

Mat 24:42a.44

Berjaga-jagalah dan bersiap-sedialah,

sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.



Bacaan Injil

Mat 25:1-13

Mempelai datang! Songsonglah dia!


Inilah Injil Suci menurut Matius:


Pada suatu hari

Yesus mengucapkan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya,

"Hal Kerajaan Surga itu seumpama sepuluh gadis

yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.

Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Yang bodoh itu membawa pelita, tetapi tidak membawa minyak,

sedangkan yang bijaksana,

selain pelita juga membawa minyak dalam buli-bulinya.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang,

mengantuklah mereka semua, lalu tertidur.


Tengah malam terdengarlah suara berseru,

'Mempelai datang! Songsonglah dia!'

Gadis-gadis itu pun bangun semuanya

lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada yang bijaksana,

'Berilah kami sedikit dari minyakmu,

sebab pelita kami mau padam.'

Tetapi yang bijaksana menjawab,

'Tidak,

jangan-jangan nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.

Lebih baik kamu pergi membelinya pada penjual minyak.'


Tetapi, sementara mereka pergi membelinya,

datanglah mempelai,

dan mereka yang telah siap sedia

masuk bersama dia ke dalam ruang perjamuan nikah.

Lalu pintu ditutup.


Kemudian datanglah juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata,

'Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu!'

Tetapi tuan itu menjawab,

'Sungguh, aku berkata kepadamu,

aku tidak mengenal kamu.'


Karena itu, berjaga-jagalah,

sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya."


Demikianlah sabda Tuhan.


RENUNGAN


BERJAGA-JAGALAH, SEBAB KAMU TIDAK TAHU HARI DAN SAATNYA


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mempersiapkan banyak hal. Ketika hendak bepergian, kita menyiapkan barang-barang yang diperlukan. Ketika menghadapi ujian, kita belajar dan mempersiapkan diri. Ketika menyambut tamu, kita membersihkan rumah dan menyediakan segala sesuatu.


Namun, pernahkah kita bertanya: apakah kita juga mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan?


Dalam Injil Matius 25:1-13, Yesus menyampaikan perumpamaan tentang sepuluh gadis yang membawa pelita untuk menyambut mempelai laki-laki. Lima di antaranya bijaksana, sedangkan lima lainnya bodoh. Perbedaan mereka bukan terletak pada pelita yang dibawa, melainkan pada persiapan mereka. Gadis-gadis yang bijaksana membawa minyak cadangan, sedangkan gadis-gadis yang bodoh tidak mempersiapkannya.


Melalui perumpamaan ini, ada beberapa poin mendasar bagi kita untuk refleksikan.


Pertama, iman harus dipelihara setiap hari.

Pelita dalam Injil melambangkan kehidupan iman kita, sedangkan minyak dapat kita maknai sebagai kesetiaan, doa, kasih, dan perbuatan baik yang akan menjadi cadangan bagi kita.


Sering kali kita merasa bahwa menjadi orang Katolik cukup dengan pergi ke gereja setiap hari Minggu, mengikuti misa, atau berdoa ketika mengalami kesulitan. Padahal, iman bukan hanya tentang kegiatan keagamaan, melainkan tentang bagaimana kita mewujudkan kehadiran tuhan tersebut dalam seluruh kehidupan. Iman harus dirawat melalui doa, pengampunan, kesabaran, kepedulian, dan kasih kepada sesama. Iman yang sampai pada ungkapan doa adalah iman yang mati, tetapi iman melibatkan doa dan tindakan adalah iman yang hidup. Jangan sampai pelita iman kita padam karena kita terlalu sibuk mengejar kepentingan duniawi dan melupakan Tuhan.


Kedua, jangan menunda-nunda untuk berbuat baik. Jika bisa sekarang kenapa harus besok, jika tidak sekarang, kapan lagi.

Kelima gadis yang bodoh menyadari bahwa mereka kekurangan minyak ketika mempelai sudah datang. Mereka baru mencari minyak ketika waktunya hampir habis. Demikian pula dengan kehidupan kita. Terkadang kita berkata, “Nanti saja saya berdoa.” “Nanti saja saya mengampuni.” “Nanti saja saya membantu orang lain.” “Nanti kalau sudah tua, saya akan lebih rajin ke gereja. Kita sering menunda melakukan kebaikan, seolah-olah masih memiliki banyak waktu dan memiliki kemampuan untuk memprediksi masa depan. Padahal, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. Karena itu, jangan menunda untuk mengasihi, jangan menunda untuk mengampuni, dan jangan menunda untuk berdamai dengan Tuhan maupun sesama dalam berbagai pengalaman luka.


Ketiga, kesiapan iman adalah tanggung jawab pribadi.

Dalam perumpamaan tersebut, gadis-gadis yang bijaksana tidak dapat memberikan minyaknya kepada gadis-gadis yang bodoh. Hal ini mengingatkan kita bahwa iman tidak dapat diwakilkan. Orang tua tidak dapat menggantikan iman anak-anaknya. Anak-anak tidak dapat menggantikan iman orang tuanya. Kita tidak dapat hanya mengandalkan doa orang lain tanpa membangun hubungan pribadi dengan Tuhan. Setiap orang bertanggung jawab atas kehidupan imannya sendiri.


Kita boleh saling menguatkan, saling menasihati, saling mendoakan, dan saling membantu, tetapi masing-masing harus memiliki hubungan yang hidup dengan Allah. Hubungan kita dengan Allah adalah hubungan personal bukan komunal yang dapat diwakilkan. Setiap perbuatan, tutur kata dan perasaan kita adalah milik kita, tanggung jawab kita dan bagian integral dari kehidupan kita. Oleh karenanya tidak ada kosakata perwakilan dalam tanggung jawab iman ketika kita dihadapkan dengan Tuhan nanti.


Kita tidak tahu kapan Tuhan memanggil kita. Hari ini, besok, lusa atau kapan saja hanya Tuhan saja yang tahu. Tugas kita adalah bersedia, berjaga-jaga dan menyiapkan amunisi iman untuk dapat dipertanggungjawabkan nanti. Perlunya menjadi orang Katolik yang siap menyambut Tuhan berarti menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kesimpulan dasarnya adalah jangan hanya menjadi orang yang memiliki pelita, tetapi jadilah orang yang selalu menyediakan minyak agar pelita iman tetap menyala.


***


Fr. Yulius Agung Raga Sary, SVD

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page