top of page

RENUNGAN HARIAN || Senin, 26 Oktober 2026 - Pekan Biasa ke-XXX Tahun Genap || Sentuhan Kasih Tuhan yang Menegakkan Martabat Manusia

1 hour ago
4 min read

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Ef 4:32-5:8

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-2.3.4.6

Bait Pengantar Injil: Yoh 17:17b

Bacaan Injil: Luk 13:10-17


Bacaan I

Ef 4:32-5:8

Hiduplah dalam cinta kasih seperti Kristus.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:


Saudara-saudara,

hendaklah kalian bersikap ramah seorang terhadap yang lain,

penuh kasih sayang dan saling mengampuni,

sebagaimana Allah telah mengampuni kalian dalam Kristus.

Sebab itu jadilah penurut Allah sebagai anak-anak kesayangan

dan hiduplah dalam kasih

sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kalian,

dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita

sebagai kurban dan persembahan yang harum mewangi bagi Allah.


Tetapi percabulan dan rupa-rupa kecemaran atau keserakahan,

disebut saja pun jangan di antara kalian

sebagaimana sepatutnya bagi orang-orang kudus;

demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau sembrono,

karena hal-hal itu tidak pantas.

sebaliknya ucapkanlah syukur!

Ingatlah ini baik-baik:

orang sundal, orang cabul atau orang serakah,

artinya penyembah berhala,

semuanya itu tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Kristus dan Allah.

Janganlah kalian disesatkan orang dengan kata-kata yang hampa,

karena hal-hal yang demikian mendatangkan murka Allah

atas orang-orang durhaka.

Sebab itu janganlah kalian berkawan dengan mereka.

Memang dahulu kalian adalah kegelapan,

tetapi sekarang kalian adalah terang di dalam Tuhan.

Karena itu hiduplah sebagai anak-anak terang.


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 1:1-2.3.4.6

R:Ef 5:1

Jadilah penurut Allah sebagai anak-anak kesayangan.


*Berbahagialah orang

yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,

yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,

dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;

tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,

dan siang malam merenungkannya.


*Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,

yang menghasilkan buah pada musimnya,

dan tak pernah layu;

apa saja yang diperbuatnya berhasil.


*Bukan demikianlah orang-orang fasik:

mereka seperti sekam yang ditiup angin.

Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,

tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.



Bait Pengantar Injil

Yoh 17:17b

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran;

kuduskanlah kami dalam kebenaran.



Bacaan Injil

Luk 13:10-17

Bukankah wanita keturunan Abraham ini harus dilepaskan dari ikatannya sekalipun pada hari Sabat?


Inilah Injil Suci menurut Lukas:


Pada suatu hari Sabat Yesus mengajar dalam salah satu rumah ibadat.

Di situ ada seorang wanita yang telah delapan belas tahun dirasuk roh.

Ia sakit sampai bungkuk punggungnya

dan tidak dapat berdiri lagi dengan tegak.


Ketika Yesus melihat wanita itu, dipanggil-Nyalah dia.

Lalu Yesus berkata, "Hai ibu, penyakitmu telah sembuh."

Kemudian wanita itu ditumpangi-Nya tangan,

dan seketika itu juga ia berdiri tegak dan memuliakan Allah.


Tetapi kepala rumah ibadat itu gusar

karena Yesus menyembuhkan orang pada hari Sabat.

Lalu ia berkata kepada orang banyak,

"Ada enam hari untuk bekerja.

Karena itu datanglah pada salah satu hari itu untuk disembuhkan

dan jangan pada hari Sabat."


Tetapi Tuhan menjawab dia, kata-Nya,

"Hai orang-orang munafik,

bukankah kalian semua melepaskan lembu dan keledaimu pada hari Sabat

dan membawanya ke tempat minum?

Nah, wanita ini sudah delapan belas tahun diikat oleh Iblis.

Bukankah dia harus dilepaskan dari ikatannya itu

karena dia keturunan Abraham?"


Waktu Yesus berkata demikian, semua lawan-Nya merasa malu,

sedangkan orang banyak bersukacita karena segala perkara mulia

yang telah dilakukan-Nya.


Demikianlah sabda Tuhan.


RENUNGAN


Sentuhan Kasih Tuhan yang Menegakkan Martabat Manusia


Saudara/saudari Pencinta Sang Sabda yang Terkasih


Perikop Lukas 13:10-17 menghadirkan narasi pemulihan yang sangat menyentuh sekaligus sarat dengan kritik sosial dan spiritual. Kisah seorang perempuan yang telah delapan belas tahun menderita sakit bungkuk di rumah ibadat bukan sekadar catatan mukjizat fisik, melainkan sebuah cermin mendalam bagi realitas eksistensi manusia sepanjang zaman. Pada kesempatan ini, saya akan menyampaikan tiga pesan reflektif untuk kita renungkan.


Pertama, beban hidup dan “kebungkukan” jiwa manusia.


Perempuan dalam Injil ini digambarkan tidak mampu berdiri tegak sama sekali. Selama delapan tahun, jarak pandangnya sangat terbatas. Ia hanya bisa menatap tanah, debu, dan kaki orang lain. Secara eksplisit, Teks Suci mencatat bahwa kondisi ini disebabkan oleh "roh yang membuatnya sakit". Dalam realitas kehidupan modern, banyak dari kita mengalami "kebungkukan" serupa, meski tubuh fisik kita tampak bugar dan tegak berdiri, tetapi kita dilanda beban emosional dan mental. Hal ini tergambar dalam situasi trauma masa lalu, depresi, dan kecemasan akan masa depan kita.


Kedua, inisiatif kasih Allah yang memulihkan martabat manusia.


Dalam injil digambarkan bahwa perempuan tersebut tidak pernah meminta untuk disembuhkan. Ia datang ke rumah ibadat mungkin hanya untuk menjalankan ibadahnya, membawa tubuhnya yang lelah dan pasrah pada keadaannya. Namun, Yesus yang melihatnya terlebih dahulu. Yesus Melihat, memanggil dan menyembuhkannya. Dengan menumpangkan tangan-Nya, Yesus mematahkan belenggu selama delapan belas tahun itu. Tindakan Yesus tidak hanya menyembuhkan fisik, melainkan memulihkan martabat manusia. Yesus mengembalikan identitas spiritual dan kedudukan sosial perempuan tersebut sebagai anggota penuh umat Allah.


Ketiga, legalisme agama dan belas kasih sejati.


Yesus menyingkapkan kemunafikan ini dengan sebuah analogi yang tajam Jika seseorang rela melepaskan lembu atau keledainya dari kandang untuk diberi minum pada hari Sabat, betapa lebih layak seorang anak Abraham yang terikat 18 tahun dibebaskan pada hari Sabat?


Pernyataan ini membongkar kepalsuan keagamaan yang sering kali lebih peduli pada formalitas, sistem, dan citra lahiriah ketimbang jiwa-jiwa yang terluka. Sabat yang sejatinya diciptakan Allah sebagai hari perhentian, pembebasan, dan pemulihan, telah diubah oleh interpretasi manusia menjadi beban kaku yang menghambat mengalirnya kasih.


Dalam konteks saat ini, kita diingatkan untuk tidak menjadi seperti kepala rumah ibadat tersebut. Seperti menghakimi pergumulan orang lain dari sudut pandang aturan yang dingin, lebih mencintai ritual dan tradisi ketimbang hadir secara nyata bagi sesama yang membutuhkan penopang dan terjebak pada kesalehan formalitas tetapi kehilangan empati dan belas kasih.


Saudara/saudari Pencinta Sang Sabda yang Terkasih

ada dua refleksi  untuk perjalanan hidup kita. Pertama, Izinkan Kristus Menegakkan Jiwa Kita. Jangan biarkan penderitaan, kegagalan, atau dosa membuat kita terbiasa hidup "bungkuk". Dengarkan sapaan Kristus yang memanggil dan hendak memulihkan martabat kita. Buka hati untuk menerima sentuhan pemulihan-Nya agar kita dapat kembali berdiri tegak dan memuliakan Allah. Kedua, Jadilah Saluran Pembebasan bagi Sesama. Kita Dipanggil sebagai pengikut Kristus berarti belajar melihat dunia dengan mata empati-Nya. Mari kita meruntuhkan tembok-tembok legalisme, keangkuhan, dan stigma, lalu menjadi tangan-tangan yang membantu menegakkan sesama yang terkulai di sekitar kita.


***


Fr. Micky Moruk, SVD

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page