• SEMINARI TINGGI ST. PAULUS LEDALERO

Tersesat (Syering dan Refleksi Singkat Pengalaman Berpastoral di Chile) *Bagian II/Habis


Fr. Aping Edor, SVD



ICHIL (Instituto Chileno de la Lengua)


Pada Senin, 6 Januari 2020, bersama Padre Jimmy, kami berlima bergegas menuju ICHIL, untuk memulai kursus bahasa Spanyol. Di instituto ini, kami akan belajar dan mendalami bahasa Spanyol selama kurang lebih 4 bulan.


Di sini, kami berjumpa dengan 3 profesoras dan beberapa estudiantes lain yang sedang menjalani kursus. Kami memulai perkenalan. ¡Hola, Buenos Días! Yo me llamo Octavio. Yo soy de Indonesia. Tiga kalimat yang sudah dihafal sejak semalam ini lumayan efektif dipakai dalam perkenalan saat itu. Minimal mereka tahu nama dan asal saya. Saya juga perlu menerangkan bahwa di sini saya sedikit mengubah nama panggilan. Alasannya sederhana, yakni supaya lebih mudah diingat dan sesuai dengan pola sapaan mereka di sini.


Di ICHIL, kami tidak hanya mempelajari bahasa Spanyol di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas. Kami diperkenalkan dengan berbagai tempat bersejarah, museum, pusat perbelanjaan, dan tempat wisata.


Momen-momen seperti ini kami pakai untuk memperdalam bahasa Spanyol dan mengenal Chile secara lebih dekat. Kegiatan-kegiatan ini rutin kami lakukan selama kurang lebih 2 bulan, dan berdampak baik bagi perkembangan bahasa kami.


Semuanya berubah ketika Covid-19 masuk ke Chile. Pada pertengahan Maret 2020, Pemerintah Chile mengumumkan karantina wilayah. Semua colegio, instituto dan universidad ditutup. Proses pembelajaran dibuat dari rumah masing-masing melalui aplikasi, seperti zoom atau scype. Waktu dan program-program kursus pun berubah. Kursus yang dalam perencanaan awal hanya dibuat dalam 4 bulan harus diperpanjang menjadi 5 bulan.


Berkah Pandemi di Virginia Opazo


Setelah kurang lebih satu bulan tinggal bersama dengan beberapa konfrater asal Indonesia di rumah tinggal sementara bagi para misionaris baru di Benito Rebolledo, saya dan salah satu frater OTP asal Vietnam berpindah ke rumah formasi Juniorado Panam di Virginia Opazo, Santiago Centro. Rumah formasi ini menampung para frater scolastic yang berada di Zona Panamericana. Ada 5 konfrater SVD yang tinggal di sana, 3 di antaranya adalah seminaristas yang sedang menempuh pendidikan teologi dan dua orang lain adalah formadores.


Seperti rumah formasi pada umumnya, kehidupan para seminaristas diatur berdasarkan aturan-aturan yang ada. Sebagai bagian resmi dari komunitas formasi, saya pun terlibat aktif dalam kegiatan harian mereka.


Selain itu, saya juga dipercayakan untuk mengambil bagian dalam tugas-tugas harian, mingguan dan bulanan dalam komunitas, mulai dari menanggung liturgi, menyiapkan renungan singkat, memasak, belanja bulanan hingga menjadi ekonom selama kurang lebih 3 bulan. Sebenarnya tugas-tugas ini bukanlah hal yang sama sekali baru bagi saya. Di Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero hampir semua seminaris mengenal dan tahu bagaimana harus melakukan pekerjaan ini.


Pertengahan bulan Maret kami sekomunitas memulai karantina. Kuliah dan kursus bahasa Spanyol harus kami buat dari rumah melalui aplikasi internet. Hal itu membuat ritme kehidupan di komunitas kami berubah.


Akan tetapi, bagi saya, perubahan ritme kehidupan itu adalah berkah. Mengapa berkah? Sejak wilayah kami dikarantina, waktu kami untuk berjumpa dan berkomunikasi semakin banyak. Saya selalu memanfaatkan waktu itu untuk mencoba menerapkan materi-materi kursus melalui komunikasi dan syering dengan para konfrater.


Melalui komunikasi-komunikasi seperti ini, selain mendapat banyak koreksi, saya juga mendapatkan banyak hal baru yang tidak diajarkan dalam kursus. Inilah berkah pandemi bagi saya. Kemampuan saya berbicara bahasa Spanyol dan pengetahuan saya tentang Chile berkembang dengan baik saat tinggal bersama kelima konfrater di komunitas Juniorado Panam. Mereka semua telah banyak membantu saya.


Tempat Pastoral Pertama di Pica


Pica adalah sebuah kampung kecil yang terletak di tengah padang pasir di bagian utara Chile. Karena letaknya di tengah padang pasir, Pica disebut juga sebagai el Oasis en el Desierto. Penyebutan nama oase pada Pica tidak berlebihan, sebab memang Pica adalah daerah yang subur, memiliki simber air yang cukup melimpah dan menghasilkan buah-buahan yang lezat setiap tahun.


Selasa, 27 Oktober 2020, saya melakukan perjalanan menuju Pica. Di sepanjang perjalanan saya menikmati pemandangan padang pasir yang membentang luas dengan perasaan kagum. Sesekali muncul pertanyaan di kepala “bagaimana mungkin orang-orang bisa bertahan hidup di tengah padang gurun yang kering dan panas ini?”


Kesangsian saya tentang nasib orang-orang yang tinggal di padang pasir akhirnya dipatahkan saat tiba dan melihat kehidupan las piqueñas (orang-orang Pica). Meskipun menyadari ada banyak kekurangan dan bahaya di Pica, mereka berusaha memaksimalkan kemungkinan yang ada untuk selamat dan menikmati situasi dan keadaan itu dengan bahagia.


Di paroki San Andrés de Huara, saya bekerja bersama Padre Aures da Silva, seorang Misiorais SVD asal Benin. Dia adalah Pastor Paroki. Selama kurang lebih satu setengah bulan berada di paroki ini, saya telah berpastoral dengan cukup baik.


Beberapa kegiatan pastoral yang saya lakukan adalah berdoa rosario bersama umat di kapel-kapel, syering Kitab Suci bersama umat, mengunjungi orang-orang sakit, dan sesekali bekerja bersama para pekerja di kebun miliki paroki.


Akan tetapi, ada begitu banyak hambatan dan kekurangan selama berpastoral. Selain karena fase karantina yang membatasi orang-orang untuk berkumpul, tetapi juga persoalan keterlibatan umat. Gereja di Pica adalah Gereja lansia. Kebanyakan dari umat yang aktif menggereja adalah orang-orang yang lanjut usia. Kaum-kaum muda dan remaja lebih memilih bekerja untuk bertahan hidup dan bersenang-bersenang. Oleh karena itu, saat ini kebanyakan orang-orang muda asal Pica bekerja dan tinggal di luar daerah.


Bagi saya, ada satu hal luar biasa yang saya temukan dari kebiasaan orang-orang Pica, yaitu penghargaan mereka terhadap tradisi dan ritus-ritus kebudayaan. Hampir setiap tahun, tepatnya setiap 30 November, orang-orang Pica merayakan secara luar biasa pesta San Andrés.


Bagi mereka pesta San Andrés bukan hanya semata-mata pesta yang diwajibkan oleh Gereja, tetapi pesta di mana mereka merayakan kehidupan mereka, karena bagi mereka, San Andrés adalah pelindung dan penyelamat mereka dari bahaya dan bencana. Untuk pesta San Andrés, 10 bailes (kelompok tarian) dengan musik, tarian, kostum dan ritus yang berbeda-beda, mulai mempersiapkan diri. Dan tepat pada 30 November, masing-masing kelompok menari di sepanjang perarakan patung San Andrés.


Refleksi Singkat


Bagi saya kehidupan dan kemampuan beradaptasi adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Orang yang mampu beradaptasi akan “hidup”. Sebaliknya, orang yang tidak mampu beradaptasi akan frustasi dan pada akhirnya “mati”.


Selama kurang lebih satu tahun saya berpastoral di Chile, saya telah dan selalu berusaha untuk beradaptasi dengan keadaan dan situasi di sini. Tidak mudah memang, mengingat banyak syarat penting yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk menunjang proses adaptasi itu, seperti bahasa, budaya, tata krama, dan cara pandang. Akan tetapi saya bersyukur bahwa sekalipun syarat-syarat itu sulit, saya mampu memenuhinya.


Setiap misionaris memiliki caranya masing-masing untuk beradaptasi. Selama di Chile, saya melakukan proses adaptasi itu dengan beberapa hal sederhana.


Pertama, mau belajar. Kemauan untuk belajar, bagi saya, harus dibarengi dengan kemauan untuk mendengarkan dan keberanian. Kerendahan hati untuk mendengarkan adalah hal sangat penting dalam proses awal adaptasi bagi seorang misionaris baru. Kerendahan hati untuk mendengarkan adalah kunci untuk membuka ruang adaptasi.


Selain itu, keberanian juga dibutuhkan. Keberanian yang dimaksudkan di sini adalah keberanian untuk berbicara dan mengungkapkan pendapat. Hal ini juga penting, sebab bagi saya, dalam proses awal adaptasi setiap misionaris baru harus merasa “perlu dikenal”, paling kurang oleh sesama konfrater SVD. Berbicara dan mengungkapkan pendapat adalah kesempatan bagi kita untuk dikenal.


Kedua, ramah dan terbuka. Keramahan dan keterbukaan menuntut pertama-tama sikap rendah hati. Saya bersyukur bahwa saya dapat menjalankan proses ini dengan baik. Keramahan dan keterbukaan membantu saya menciptakan relasi yang baik dengan sesama konfrater dan umat. Saya juga bersyukur bahwa umat katolik di Chile cukup merespon baik keramahan dan keterbukaan saya. Hal itu membuat saya lebih percaya diri dan merasa diterima.


Ketiga, kehidupan berkomunitas. Selama satu tahun di Chile saya sudah tinggal di 3 Komunitas SVD yang berbeda, dengan gaya hidup dan disiplin yang berbeda. Dalam 3 komunitas yang berbeda itu, saya berusaha menghidupi aspek komunitas dengan baik, seperti makan bersama, berdoa bersama, syering, dan mengikuti kegiatan sosial. Kehidupan komunitas yang baik membuat saya berkembang dengan cukup baik pula terutama dalam berbicara bahasa Spanyol.


Keempat, disiplin. Seperti orang-orang Indonesia, tidak semua orang Chile disiplin. Akan tetapi, kebanyakan dari orang-orang Chile dan terutama konfrater-konfrater SVD di Chile memiliki sikap hidup disiplin dan menghargai waktu. Hal itulah yang membuat saya berusaha untuk menerapkan gaya hidup disiplin dalam setiap komunitas tempat saya tinggal. Sikap disiplin juga membantu saya bertumbuh dalam banyak hal, secara khusus dalam kemampuan berbahasa dan pengenalan budaya dan misi di Chile.


Di akhir syering dan refleksi ini, saya mau mengutip satu pribahasa Spanyol yang berbunyi “hay que perderse para conocer el camino”, yang jika diterjemahkan berarti “Anda harus tersesat supaya bisa mengetahui jalan”.


Bagi saya, setiap misionaris baru harus merasa diri tersesat. Mengapa? Karena ketika tersesat di tengah hutan, setiap orang akan selalu berpikir tentang cara untuk keluar. Oleh karena itu, dia akan mengubah banyak hal dalam dirinya untuk bertahan hidup, membiasakan diri dengan lingkungan hutan, lalu mencari jalan keluar.


Bagi saya, kurang lebih seperti itulah proses adaptasi seorang misionaris baru. Dia harus mengubah dirinya dan menjadi sama dengan orang-orang di lingkungan sekitarnya. Selama satu tahun di Chile, saya masih menikmati ke“tersesat”an saya, dan sampai saat ini juga masih mencari cara-cara yang baik untuk mengenal keadaan di sekitar saya.


Galeri Foto










Penulis: Fr. Aping Edor, SVD

27 views0 comments

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

@2017 | Design by CH95 Website Design

VISITOR 

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon