top of page

Tiga Ranah Kebahagiaan Imam: Pesan Uskup Labuan Bajo dalam Misa Pentahbisan di Ledalero

17 hours ago
3 min read

Mgr. Maksimus Regus, Pr memberikan kotbah dalam Perayaan Ekaristi Pentahbisan 13 Imam Baru di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sabtu (10/10/2026).
Mgr. Maksimus Regus, Pr memberikan kotbah dalam Perayaan Ekaristi Pentahbisan 13 Imam Baru di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sabtu (10/10/2026).


LEDALERO — Uskup Keuskupan Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, Pr, menyampaikan refleksi mendalam mengenai "Tiga Ranah Kebahagiaan Imam" dalam Misa Pentahbisan 13 Imam Baru di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero pada Sabtu (10/10/2026).


Dalam khotbahnya, Bpk. Uskup menegaskan bahwa kebahagiaan seorang imam tidak bersumber dari jabatan, popularitas, maupun pujian, melainkan dari kesediaan untuk mengosongkan diri dan dibentuk oleh Firman Allah.


Berikut adalah tiga ranah kebahagiaan yang disampaikan oleh Mgr. Maksimus Regus:


1. Berbahagia karena Menemukan Identitas sebagai Hamba Tuhan

Merujuk pada nubuat mesianik dalam Kitab Yesaya 53: 1-7, Bpk. Uskup memperkenalkan sosok Hamba Tuhan yang dihina, dihindari, penuh kesengsaraan, tetapi tetap taat dan bersahaja. Narasi ini mengajak para imam untuk menyadari kembali hakikat imamat mereka.


“Ranah pertama kebahagiaan seorang imam justru berangkat dari proses pengosongan diri secara mutlak menjadi hamba, bukan BOS (Bikin Orang Susah)”, tegas Bpk. Uskup.


Seorang imam dipanggil untuk mengidentifikasikan dirinya sebagai hamba agar dapat dengan berani mendekati luka-luka kehidupan manusia, seperti kemiskinan, penderitaan, kesepian, ketidakadilan, dan kegagalan, sekaligus membawa harapan. Tahbisan bukanlah tentang status, jabatan, posisi dalam struktur Gereja, kedudukan dalam kongregasi, ataupun kemampuan retorika di hadapan publik.


“Ingat, seekor nyamuk pun mati karena tepuk tangan”, pesan Bpk. Uskup dengan nada reflektif untuk menekankan agar para imam tidak terjebak dalam godaan popularitas usai membawakan khotbah yang memukau.


Mgr. Maksimus Regus, Pr memberikan kotbah dalam Perayaan Ekaristi Pentahbisan 13 Imam Baru di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sabtu (10/10/2026).
Mgr. Maksimus Regus, Pr memberikan kotbah dalam Perayaan Ekaristi Pentahbisan 13 Imam Baru di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Sabtu (10/10/2026).


2. Berbahagia karena Diberdayakan dan Dibentuk oleh Firman Tuhan

Berdasarkan kisah dalam Injil Lukas 11:27-28, seorang perempuan terpesona kepada Yesus dan memuji ibu yang melahirkan-Nya. Namun, Yesus menegaskan: “Yang lebih berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya.”


Kebahagiaan imam sejati tercipta ketika Sabda Tuhan membentuk seluruh perjalanan hidupnya melalui dua langkah utama. Pertama, mendengar, yakni membuka diri agar Sabda Tuhan masuk ke dalam struktur kehidupan. Seorang imam mendengarkan Sabda Tuhan bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, melainkan untuk membekali dirinya menjadi pendengar bagi sesama, baik itu kabar gembira maupun keluh kesah yang pahit. Kedua, memelihara, yakni membiarkan Sabda menerangi cara imam menggunakan otoritasnya dalam komunitas, paroki, maupun kehidupan sehari-hari.


"Ada imam yang dipuji karena memiliki kemampuan memelihara hewan, tetapi apakah ia juga memelihara Sabda? Ini juga masalah”, kelakar Bpk. Uskup.


Bpk. Uskup juga mengingatkan agar imam baru tidak terjebak dalam godaan tepuk tangan atau viralitas karena kecerdasan, kepemimpinan, maupun keberhasilan pastoral. Pujian sering kali hanyalah "umpan". Imam harus waspada terhadap paradoks berbahaya: mulut terus berbicara tentang Allah, tetapi hidup tidak lagi dibentuk oleh kasih-Nya.


3. Berbahagia dalam Privilese Peran Profetik Seorang Imam

Dalam Injil, Yesus menyampaikan kritik terbuka terhadap generasi yang kehilangan orientasi kepada Allah. Di sinilah daya profetik Sabda bekerja. Melalui tahbisan, seorang imam menerima hak istimewa (privilege) untuk menyuarakan kebenaran secara nyaring di tengah tantangan zaman.


Imam bukanlah sekadar penjaga citra institusi atau produsen kenyamanan rohani. Ia berdiri tegak di antara Injil dan kenyataan hidup manusia. Kedudukan ini kerap memicu ketegangan, sebab Injil secara alamiah akan berbenturan dengan kekuasaan, kepentingan, popularitas, hingga kenyamanan internal Gereja itu sendiri.


Mengakhiri wejangannya, Mgr. Maksimus Regus menegaskan bahwa seruan "berbahagialah" dalam Injil bukanlah janji tentang hidup yang serba mudah. Ketiga ranah ini merupakan tantangan nyata dalam mengekspresikan imamat yang bersumber dari sukacita Injili.


***




Panitia Divisi Berita Perayaan Pentahbisan Imam Ledalero 2026

Fr. Laurentius Florido Atu, SVD

Fr. Eustakius Kerbiyono Dagur, SVD

Fr. Gregorius Bagung Santur, SVD

Fr. Aloysius Stefanus Boleng Ola, SVD



Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page