Featured Posts

MENGENANG FR. SAN: TAHBISAN IMAM DI SURGA

October 7, 2016

“1”
ia meletakkan kenangannya/ dengan sangat hati-hati/ di laci meja dan menguncinya/ memasukkan anak kunci ke saku celana/ sebelum berangkat ke sebuah kota/ yang sudah lama hapus/ dari peta yang pernah digambarnya/ pada suatu musim layang-layang/ 
“2”
tak didengarnya lagi/ suara air mulai mendidih/ di laci yang rapat terkunci
“3”
ia telah meletakkan hidupnya/ di antara tanda petik
(Sapardi Djoko Darmono “Melipat Jarak-Sepilihan Sajak”)
***    ***    ***
Namanya San. Lengkapnya Robertus Rita Kean. Kami biasa menyapanya Ka’e San atau San. Ia lahir di Larantuka-Lebao, 14 Mei 1987. Badannya kecil. Rambutnya lurus menandakan tak ada kepalsuan dalam dirinya. Orangnya disiplin dan tegas, tetapi ia adalah pribadi yang lugas. 
Hari-hari hidup dilaluinya dengan senyum dan tawa seolah-olah tidak ada sesuatu pun beban dalam hidupnya. Dari situ kami bisa ‘membaca’ bahwa ia adalah tipe orang ramah dan mudah bergaul. Tak hanya itu, ia juga suka membantu kami yang memerlukan bantuannya. Ia tidak pernah menolak apa yang kami minta. Bahkan untuk dirinya sendiri, ia terkadang mendapat ‘waktu sisa’ karena hari hidupnya diisi dengan membantu orang lain.
Suatu waktu di kamar makan setelah jam makan, ia hendak pulang ke kamar dan melanjutkan pengerjaan tesisnya, tetapi saya meminta bantuannya untuk mengoreksi tugas yang diberikan oleh dosen. Ia tidak menolak permintaan itu tetapi mengabulkannya dengan hati yang lapang dan sudah pasti dengan senyum kegembiraan.
Hari-hari hidupnya bagaikan Roti dan Anggur yang diberikan kepada sesama. Ia tak mau melihat orang lain ‘haus’ dan ‘lapar’. Ia tahu bahwa ia hadir di dunia ini untuk memberi. Memberi kepada sesama dan konfrater apa yang mereka butuhkan. Apa yang bisa ia buat, ia lakukan; apa yang tidak bisa dilakukan, ia tidak hilang akal dan putus asa melainkan mencari jalan keluar yang bijaksana. 
Ia tinggal di unit St. Mikhael, salah satu unit binaan di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Unit membanggakan yang selalu menghidupi spirit malaikat agung St. Mikhael: tangguh dan tak pernah putus asa. Malaikat agung St. Mikhael jugalah yang menginjak kepala setan dan mengalahkan setan. 
Spirit malaikat agung St. Mikhael ini, Ka’e San jalankan dalam kesehariannya. Ia adalah tipe orang yang tangguh. Ia pun ‘menginjak setan’ kesusahan yang ada dalam diri orang lain, sehingga kehadirannya membawa nuansa tersendiri yang tentunya menghibur orang yang susah. Buluh yang terkulai tidak diputuskan olehnya. Sumbu pelita sesama yang hampir padam, menjadi terang oleh kehadirannya. Ia bagaikan penyegar di saat dahaga dan penuntun di tengah hutan belantara.
Pada suatu kesempatan Minggu Panggilan di Paroki Nebe (Maumere Timur), kami (saya, Ka’e San dan Fr. Patrisius Haryono, SVD) mendapat tugas di salah satu Kelompok Umat Basis (KUB). Ia tidak terlihat kaku di Kelompok Basis dan tempat yang baru ia kunjungi itu. Ia tidak melihat kemudahan sebagai syarat untuk mewartakan Injil, melainkan selalu berprinsip dan melihat tantangan sebagi peluang misi. Ia akan berusaha sekuat tenaga ketika berada di tengah ‘himpitan’ zaman, untuk ‘tumbuh’ dan ‘berbuah’. 
Ia tidak mengajar kami (saya dan Fr. Patrisius Haryono, SVD) bagaimana ‘live-in’ di tengah umat melalui teori-teori, melainkan teladan dan praktik hidup. Ia juga mengajarkan bagaimana ‘masuk’ dalam kehidupan dan situasi umat. Kehadirannya menjadi sebuah kegembiraan bagi umat. 
Ini disebabkan karena ia tidak ‘duduk di depan’ melainkan ‘duduk di belakang’. Ia melihat dan merasakan langsung kehidupan umat. Ia selalu memperhatikan mereka yang dalam status sosialnya berada di ‘belakang’ dan tidak diperhitungkan. Ia bagaikan orang Samaria yang membantu dan mengobati orang yang terlantar, terluka dan tidak diperhatikan di tengah jalan kehidupan. Ia adalah gambaran SVD sejati yang menghidupi spirit passing-over di tengah umat.
Ia cepat akrab dengan umat. Ketika ia datang, ia ‘langsung menuju ruang belakang dari setiap rumah’. Ia tidak mau sesuatu yang bersifat formal ketika berada di tengah umat.
Begitulah hari-hari hidup yang dijalani oleh Ka’e San. Bagai roti yang dipecah-pecahkan demi sesama. Selain itu, hidupnya bagai lilin bernyala yang rela dibakar demi menerangi orang lain. Ia sungguh melihat sesama sebagai pancaran imago Dei (citra Allah).
Namun, dari situlah tersirat kekurangannya: ia lupa akan diri sendiri. Ia lupa bahwa setiap manusia pasti rapuh. Tak jarang, ia bahkan tidak memedulikan kesehatannya. Ia terlalu ‘keluar’ dari diri. Ia tidak menyadari bahwa semakin hari kondisi tubuhnya makin menurun.
Malam itu, 23 November 2015, di saat jangkrik tak lagi mengeluarkan suara, saat di mana semua orang pulas dan bermimpi dalam tidurnya, terdengarlah suara dari dalam kamarnya pertanda ia mengembuskan napas terakhirnya. 
Ia tidak sempat pamit kepada kami. Ia belum sempat menyelesaikan tesisnya yang sudah sampai pada bab II. Ia pergi saat keluarganya tengah mempersiapkan panitia tahbisan diakon dan imamnya. Ia pergi ketika provinsi SVD Meksiko membutuhkan seorang misionaris yang tangguh. Ia pergi sebelum menyelesaikan tugasnya. Ia meninggal di usia yang masih relatif muda (28 tahun lima bulan). Ia pergi ketika orang-orang masih membutuhkan seorang yang ‘berani keluar dari kemapanan dirinya’. Akhirnya, penegasan Sapardi Djoko Darmono, bergema: “tak didengarnya lagi/ suara air mulai mendidih/ di laci yang rapat terkunci”
Sebuah Refleksi 
Pada momen-momen seperti ini kita merasa bahwa kita berada di tengah lautan luas dengan badai yang selalu mengempas kapal diri kita. Momen seperti ini juga iman kita diuji oleh Tuhan: apakah kita masih berharap pada-Nya atau berbalik dan menjauh dari pada-Nya? Bahkan orang malah menggugat Tuhan, bagaimana mungkin seorang yang mau bekerja demi pewartaan Kerajaan Allah, harus mati muda. Mengapa para teroris yang berbuat jahat tidak mati terlebih dahulu? Orang menuntut keadilan kepada Tuhan.  
Namun, inilah rahasia misteri Allah yang Mahatinggi yang tak bisa digeluti secara rasional. Kita tidak bisa menggunakan akal sehat kita untuk mengerti Allah yang Tak Terbatas. Tuhan selalu mempunyai rencana tersendiri yang terbaik bagi manusia yang dicintai-Nya. Kita tidak bisa memasukkan ‘air laut’ yang begitu luas ke dalam ‘lubang kecil’ pikiran manusiawi kita. Kita sebaliknya, perlu masuk ke dalam sunyi dan merefleksikannya.
Sebagai manusia yang selalu menerima anugerah Tuhan, kita harus tetap bersyukur kepada-Nya atas kemalangan yang kita alami. Hidup kita harus selalu diwarnai oleh rasa syukur. Bahkan kita pun dituntut untuk terus bersyukur sampai kita lupa apa itu keluhan dan derita.  
Ka’e San telah pergi, tetapi spirit perjuangannya masih hidup dalam hati kami anggota Serikat Sabda Allah (SVD). Ia telah pergi tetapi karyanya akan kami teruskan dalam hidup kami sehari-hari. Tepat pada Sabtu, 8 Oktober 2016 nanti, teman-temannya, para diakon, akan ditahbiskan menjadi imam di Ledalero. Kami semua pun yakin, ia akan mendapat tahbisan imam di Surga. Ka’e San, selamat atas tahbisan imammu di surga. ***

 

 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive