Featured Posts

郷に入っては郷に従おう!Sharing Pengalaman OTP (Overseas Training Program) di Provinsi SVD Jepang

 

 

 

Seminariledalro.org – Pasti ada yang bertanya, bagaimana judul tulisan di atas harus dibaca, atau lebih jauh lagi, apa makna atau arti dari tulisan aneh tersebut. Apabila anda termasuk salah satu pembaca yang mengajukan pertanyaan tersebut, maka kurang lebih anda dapat membayangkan seperti apakah kesulitan yang saya alami saat pertama kali menginjakan kaki di negeri Sakura, Jepang. Tanpa terasa kurang lebih 3 tahun sudah berlalu semenjak pertama kali saya menginjakan kaki di negeri ini, negeri para samurai, sebagai seorang frater OTP yang dikirim oleh Provinsi SVD Ende untuk menjalankan formasi lanjutan di Provinsi SVD Jepang. Dalam tulisan ini, saya ingin berbagi cerita tentang suka dan duka, tentang kegagalan maupun harapan, sebagai seorang frater OTP di Jepang. Berkaitan dengan penjelasan tentang judul tulisan di atas, untuk sementara saya simpan terlebih dahulu dan akan saya sharing-kan maksudnya kemudian.

 

Tiba di Jepang dan Kesan Awal

Pada tanggal 26 Juli 2014, setelah melalui penerbangan yang melelahkan (dan pengalaman tersesat di bandara Internasional Singapura), bersama Frt. Rendy Da Cunha yang juga diutus untuk menjalankan program OTP di Jepang, kami tiba di bandara Internasional Chubu, Nagoya, Jepang. Kami dijemput dan mendapat sambutan selamat datang dari Br. Justin Mau Bau, SVD, salah seorang konfrater SVD asal Indonesia yang merupakan Direktur OTP Provinsi SVD Jepang.

 

Secara umum kesan awal tentang Jepang tidak jauh berbeda dengan yang saya bayangkan sebelumnya. Gedung bertingkat, pengaturan lalu lintas yang sangat tertib, gambaran kerumunan orang-orang yang terlihat sangat sibuk, dan sebagainya. Meskipun demikian, suhu udara di Jepang sangat panas karena saat itu sedang musim panas. Ternyata ada aspek lain yang harus saya hadapi juga dalam proses adaptasi, yaitu perbedaan musim antara Indonesia dan Jepang.

 

Satu momen yang tidak saya lupakan sebagai pengalaman pertama saya adalah minum teh botolnya Jepang. Saya membayangkan teh dengan rasa manis seperti di Indonesia tetapi ternyata rasanya pahit. Rupanya orang Jepang tidak mempunyai kebiasaan untuk menambahkan gula pada teh. “Lidah Indonesia”juga harus mulai belajar untuk beradaptasi dengan cita rasa dan makanan di Jepang.

 

Pengalaman OTP di Jepang

a.) Kehidupan di Komunitas Xavier House

Selama menjalankan program OTP di Provinsi SVD Jepang, saya tinggal di komunitas Xavier House yang berada dalam kompleks Seminari (神言神学院 – Baca: Shingen Shingakuin) yang berlokasi di Nagoya, Jepang. Komunitas ini diperuntukan bagi para misionaris yang baru tiba di Propinsi SVD Jepang. Komunitas Xavier House dihuni oleh konfrater dari beberapa negara, misalnya Jepang, Filipina, Afrika (Ghana), Swis, India, Vietnam dan tentu saja Indonesia. Rutinitas di komunitas ini tidak jauh berbeda dengan komunitas seminari pada umumnya. Ada jadwal untuk ibadat pagi, misa harian, kerja, belajar, dan kegiatan-kegiatan lainnya seperti rekoleksi, ret-ret tahunan, dan kegiatan rekreasi. Namun, sebagian besar waktu digunakan untuk belajar bahasa Jepang.

 

Di Komunitas ini, saya dapat belajar untuk mengenal dan menerima perbedaan budaya dan latar belakang dari setiap konfrater, dan mempunyai kesempatan untuk belajar Jepang dan bahasa asing lainnya meskipun hanya sekedar sapaan sederhana. Sebagai seorang yang masih “gelap gulita” tentang bahasa Jepang, tentu saja saya tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang. Karena itu, saya dituntut untuk bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Kemampuan bahasa Inggris yang lemah terkadang menjadi kendala dalam berkomunikasi. Misalnya, keinginan untuk mengungkapkan ide terhalang hanya karena faktor keterbatasan bahasa. Perbedaan pola pikir atau pandangan di antara sesama anggota komunitas terkadang dapat memicu “konflik-konflik” kecil.

 

b.) Pengalaman Belajar Bahasa Jepang

Provinsi SVD Jepang mempunyai program belajar bahasa Jepang yang bagus. Tingkat kesulitan bahasa yang tinggi mengharuskan para misionaris baru dan frater OTP untuk belajar bahasa Jepang selama kurang lebih 2 tahun. Program belajar bahasa Jepang dilakukan di Universitas Nanzan, khususnya pada salah satu departemen khusus, yaitu Center for Japanesse Study. Namun sebelumnya, sebagai persiapan, saya juga belajar bahasa Jepang selama kurang lebih tiga minggu pada sekolah bahasa Jepang yang dikelola oleh Young Woman’s Christian Association (YWCA).

 

Ada cukup banyak hal positif yang saya dapatkan selama belajar bahasa Jepang, terlepas dari tantangan dan kesulitan yang harus saya hadapi. Misalnya, dari seorang yang tidak mampu berbahasa Jepang, perlahan-lahan dapat berkomunikasi dalam bahasa Jepang. Rasa stress pasti ada. Misalnya ketika banyak teman seangkatan yang sedang menjalankan praktek pastoralnya di Indonesia begitu aktif menjalankan berbagai kegiatan praktek pastoral bersama umat, atau bersama murid-murid di sekolah-sekolah, saya harus belajar berbicara, membaca dan menulis layaknya anak Sekolah Dasar. Bahkan seringkali dimarahi oleh guru ataupun diperlakukan layaknya anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

 

Selain belajar bahasa Jepang, universitas Nanzan juga menyediakan kesempatan yang luas untuk belajar budaya Jepang. Menurut hemat saya, belajar bahasa tanpa memahami dan menghidupi budaya setempat dapat menimbulkan ketimpangan atau ketidakseimbangan. Karena itu, selain belajar bahasa Jepang, saya juga mengambil beberapa kelas budaya, seperti kelas Tea Ceremony (茶道クラス), Flower arangement (生け花), Woodblock Printing (版画), dan beberapa kelas seminar berkaitan dengan kehidupan sosial-budaya di Jepang.

Belajar bahasa Jepang memang merupakan hal yang melelahkan, namun sekaligus juga menjadi pengalaman luar biasa. Belajar bahasa memang menuntut saya untuk kembali menjadi anak kecil, yang harus memiliki kerendahan hari untuk belajar, dianggap sebagai yang tidak tahu apa-apa, berani “turun tahta” ,“membuang”pride sebagai tamatan sarjana Filsafat dan menjadi lembaran kertas kosong yang siap untuk ditulis lagi dari awal.

 

 

c.) Pengalaman Homestay

Selama menjalankan program OTP, saya mendapat kesempatan untuk menjalankan program Homestay. Ini menjadi kesempatan yang sangat bagus untuk belajar bahasa Jepang sekaligus mengalami secara langsung kehidupan keluarga dan situasi sosial di Jepang. Kegiatan Homestay ini, dalam beberapa aspek tertentu, tidak jauh berbeda dengan kegiatan live in yang pernah saya alami dalam masa formasi di Indonesia. Misalnya, dalam hal tinggal dan menyesuaikan diri dengan kehidupan keluarga homestay. Meskipun demikian, cukup banyak perbedaan, yang sekaligus menjadi tantangan bagi saya, baik sebagai seorang pribadi maupun sebagai seorang frater OTP.

 

Tantangan pertama tentu saja faktor bahasa. Ketika menjalankan program homestay untuk pertama kalinya, dengan bekal bahasa yang seadanya, saya dituntut untuk mampu berkomunikasi dengan anggota keluarga tempat saya tinggal.

Tantangan selanjutnya adalah faktor adaptasi budaya dan kebiasaan. Masyarakat Jepang termasuk salah satu masyarakat yang sangat menjunjung tingggi nilai-nilai budaya dan kebiasaan-kebiasan yang telah dihidupi selama turun-temurun. Ini menjadi tantangan bagi orang asing seperti saya yang sedapat mungkin harus mampu beradaptasi dengan kebudayaan dan kebiasaan setempat.

 

Selain itu, salah satu tantangan yang tidak kalah sulitnya adalah bagaimana saya harus tinggal di keluarga yang non-Katolik, bahkan salah satu dari keluarga homestay dengan terbuka mengatakan kalau mereka tidak beragama. Jika selama program live in di Indonesia, saya tinggal di keluarga katolik, hal yang sebaliknya saya alami di Jepang. Terlepas dari tantangan perbedaan keyakinan yang ada, saya sungguh mengalami dukungan yang luar biasa dari keluarga homestay. Misalnya saja mereka selalu mengingatkan saya untuk pergi ke Gereja pada hari minggu. Bahkan, mereka dengan terbuka menyatakan dukungan mereka bagi saya untuk menjadi seorang Imam.

 

Pengalaman homestay merupakan pengalaman yang luar biasa. Saya teringat pada kata-kata St. Yosef Freinademetz bahwa bahasa yang melampaui bahasa lainnya adalah bahasa kasih. Meskipun banyak keterbatasan dalam bahasa Jepang, hal itu tidak menjadi halangan untuk merasakan suasana kekeluargaan. Meskipun saya datang sebagai orang asing, mereka menerima kehadiran saya dengan penuh keterbukaan dan cinta kasih.

 

d.) Menjadi Sukarelawan di tempat Gempa dan Tsunami

Secara umum, program OTP di provinsi SVD Jepang dapat dibagi ke dalam dua periode. Periode pertama adalah belajar bahasa Jepang (kurang lebih selama dua tahun) dan selanjutnya adalah praktek pastoral yang dilaksanakan di paroki yang dijalankan oleh SVD. Namun, semenjak peristiwa gempa dan tsunami yang terjadi di wilayah Jepang bagian utara pada tahun 2011, progam pastoral di Paroki digantikan dengan program baru, yaitu sukarelawan di wilayah gempa dan tsunami. Lima tahun sudah berlalu semenjak peristiwa gempa dan tsunami, namun tenaga sukarelawan masih dibutuhkan. Karena itu, Provinsi SVD Jepang memutuskan bahwa saya dan rekan OTP, Frt. Rendy, tetap melanjutkan program tersebut.

 

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama bekerja sebagai sukarelawan antara lain, membantu para petani dan nelayan korban bencana, penghijauan, membuka lahan pertanian atau perkebunan baru, mengunjungi para korban, dan lain-lain.

Beberapa tantangan yang dialami selama bekerja sebagai sukarelawan, antara lain, pertama jumlah kerja fisik yang sangat banyak dan sangat menguras tenaga.Terkadang dengan nada guyon, saya sering berujar, “Apa gunanya datang jauh-jauh dari Indonesia kalau pada akhirnya kerjaannya cuma pikul batu, potong rumput? Kalau memang seperti itu, tidak ada gunanya belajar filsafat sampai 4 tahun!” Akibat kerja yang sangat keras saya sempat kehilangan berat badan sekitar 10 kg.

 

Tantangan lainnya, yaitu pengalaman menjadi sukarelawan menjadikan saya “minus” pengalaman pastoral di paroki. Selama menjadi sukarelawan, saya bekerja layaknya sukarelawan biasa pada umumnya. Pada saat seperti itu, saya sering mengalami krisis identitas panggilan sebagai seorang religius-misionaris.

Terlepas dari berbagai tantangan yang ada, program sukarelawan ini juga memberikan banyak pelajaran yang berharga. Misalnya bekerja keras hampir setiap hari di bawah terik matahari mengajarkan saya bagaimana susahnya orang-orang biasa yang harus bekerja tiap hari untuk terus bertahan hidup. Mendengar kisah pilu tentang bencana tsunami dan kehilangan anggota keluarga membuka mata hati saya tentang betapa berharganya arti keluarga dan betapa sakitnya ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintai. Selain itu, melihat senyuman di wajah para korban juga menyadarkan saya tentang kekuatan para korban bencana alam untuk terus berjuang meskipun derita dan kesulitan harus mereka hadapi. Hal-hal di atas mengingatkansaya untuk tidak patah semangat. Pengalaman sukarelawan memang menyajikan tantangan yang berat. Namun di sisi lain, pengalaman ini membantu saya untuk “melihat wajah Allah” pada tangisan, tawa, dan senyuman mereka yang saya jumpai di tempat sukarelawan.

 

 

Catatan Akhir

Di akhir tulisan ini, saya hendak membagikan salah satu prinsip yang menjadi pegangan selama berada di Jepang sebagai seorang frater OTP SVD. Prinsip tersebut adalah「郷に入っては郷に従おう!」(Baca: Gou ni itte wa gou ni shitagaou!). Ini sebenarnya merupakan salan satu pepatah tua Jepang, yang dalam Bahasa Indonesia, artinya tidak jauh berbeda dengan pepatah “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Sebagai seorang asing yang datang dan tinggal di Jepang, menghormati dan menyesuaikan diri dengan nilai-nilai daerah setempat merupakan hal yang wajib hukumnya. Tentu saja itu bukan hal yang mudah, khususnya bagi hal-hal yang bukan hanya berbeda tetapi juga bertentangan dengan pandangan atau nilai-nilai yang telah saya hidupi sebelumnya. Di sini, kerendahan hati untuk belajar menjadi kunci untuk bertahan dan terus berkembang. Perjalanan di negeri ini memang masih panjang.  Yang menanti jauh di depan sana masih kabur.  Bahkan, saya sendiri tidak dapat memastikannya. Namun, saya percaya, Dia yang memanggil dan mengutus jauh lebih tahu apa yang terbaik bagi saya.

 

Jepang merupakan Negara dengan 4 musim, yaitu musim semi (春), musim panas (夏), musim gugur (秋), dan musim dingin (冬).

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive