Featured Posts

Siapakah Ibu dan Saudara-Saudaraku?

SELASA

Pekan Biasa XVI

Bacaan Pertama : Mi. 7:14-15,18-20

Bacaan Injil : Mat. 12:46-50

 

Apa yang terlintas dalam batin kita ketika usaha kita untuk bertemu dengan orang yang kita kasihi tetapi yang kita peroleh adalah jawaban bernada penolakan atau pertanyaan yang mempersoalkan keberadaan kita? Secara manusiawi, kita tentu merasa sedih, kecewa dan bahkan sakit hati. Timbulnya perasaan seperti ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat diri kita sebagai manusia tentunya membutuhkan pengakuan terutama dari orang yang dekat atau yang kita kasihi. Peristiwa seperti ini juga dialami oleh Yesus, Maria ibu-Nya dan saudara-saudara Yesus sebagaimana yang digambarkan penginjil Matius. Tentunya kita juga bisa membayangkan bagaimana perasaan Maria, ibu Yesus serta saudara-saudara-Nya ketika mereka berusaha menemui Dia dan malah yang didapat mereka adalah pertanyaan :”Siapakah ibu-Ku? Dan siapa saudara-saudara-Ku?” Sepintas pertanyaan Yesus ini serasa tidak sopan dan kasar karena mempertanyakan ibu-Nya sendiri.

          Situasi sebagaimana yang digambarkan oleh penginjil Matius tersebut sejenak membuat kita berpikir mengapa sampai Yesus bersikap demikian. Namun, ketika kita merenungkan lebih jauh, tindakan Yesus sebenarnya mau menunjukkan siapa sebenarnya ibu dan saudara-saudara-Nya itu. Pertanyaan yang Yesus ucapkan itu sebenarnya mau mengangkat peran ibu serta saudara-saudara-Nya. Karena Maria, ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya merupakan pribadi yang sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa di surga. Di sini Yesus mau menekankan bahwa siapa yang sungguh-sungguh melakukan kehendak Bapa berarti memiliki relasi khusus dengan diri-Nya dan Bapa sebagaimana yang disabdakan-Nya, “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku,” Melakukan kehendak Bapa berarti menjalin persekutuan yang akrab dengan Bapa, setia menjalankan kehendak-Nya serta hidup dalam kebenaran-Nya sendiri. Sebagai seorang yang beriman kepada-Nya, kita pun pantas disebut ibu dan saudara-saudara Yesus sendiri.

 

DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, mampukanlah diri kami agar selalu setia menjalankan kehendak-Mu dengan berusaha menjalin persekutuan yang erat dengan Dikau dan menyata dalam kehidupan kami setiap hari. Amin.

 

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive