Featured Posts

Berguru Pada Kemartiran Yohanes Pemandi

August 28, 2018

RABU

Pekan Biasa XXI

Peringatan Wajib Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir

Bacaan Pertama : Yer. 1:17-19

Bacaan Injil : Mrk. 6:17-29

 

Di dalam tradisi Gereja Katolik, hanya ada 3 orang yang kita kenang kelahiran dan kematiannya secara liturgis. Mereka adalah, Tuhan Yesus (setiap 25 Desember dan setiap Jumat Agung), Bunda Maria (setiap 8 September dan diangkat ke surga setiap 15 Agustus), dan Yohanes Pembaptis yang mana kita kenang kelahirannya pada setiap 24 Juni dan kematiannya pada hari ini. Yohanes Pempabtis adalah pribadi yang tak gentar melawan, pribadi yang tak gentar bersuara tentang kebenaran, pribadi yang tak gentar ketika berhadapan dengan penguasa, meski, ia sendiri tahu bahwa kematianlah resiko yang ia hadapi.

Kematian tragis yang dialami Yohanes Pembaptis seperti dalam bacaan Injil hari ini berawal dari suara nan lantang tentang kebenaran. Kebenaran itu nampak dari koreksi yang ia berikan. Ia tak gentar untuk mengoreksi pemimpinnya yang sedang mengalami krisis moralitas. Dalam kasus Herodes Antipas, ia tak segan mengecam tindakan sang Herodes yang bertindak tak bermoral. Bagi seorang Yohanes Pembabtis, sebenarnya Herodes Antipas yang adalah seorang public figure mesti berprilaku layak dan patut. Dengan mengambil istri saudaranya, Herodes Antipas tidak saja melawan moralitas perkawinan tetapi serentak mencoreng nama baiknya sebagai seorang pemimpin di mata masyarakat. Bagi Yohanes Pembaptis, kebenaran mesti dibela. Moralitas mesti dijunjung.

Memperingati kematian Yohanes Pembaptis sebetulnya adalah ajakan bagi kita umat beriman untuk tak gentar ketika berhadapan dengan penguasa yang jahat, tidak bermoral, dan tidak manusiawi. Untuk konteks kita ada banyak praktik ketidakadilan yang dibuat penguasa kita, seperti korupsi, kolusi, dan nepotisme, praktik ketidakadilan hukum yang tumpul ke atas tajam ke bawah, human trafficking, dll. Kita masti bangkit dan melawan. Kita mesti berani bersuara dan berani memberi koreksi meski itu mengancam pribadi kita. Yohanes Pembaptis membuka jalan tentang arti sebuah keberanian tanpa kegentaran. Berguru pada kemartirannya adalah ajakan yang pas untuk kita. Kita tak perlu gentar, apalagi takut.

 

DOA

Allah Tritunggal Mahakudus, tambahkanlah iman kami kepada-Mu agar kami mampu menyuarakan kebenaran dan menjadi suara bagi mereka yang tertindas dan terpinggirkan. Amin

 

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive