Featured Posts

Janganlah Kamu Menangis

September 17, 2018

SELASA

Pekan Biasa XXIV

Bacaan I          : 1Korintus 12:12-14, 27-31a

Bacaan Injil     : Lukas 7:11-17

 

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, barangkali benar dikatakan bahwa menangis adalah cara mata berbicara tentang sesuatu kala mulut tak lagi mampu mengungkapkan apa yang membuat hati manusia terluka. Beragam situasi acapkali dialami, tak jarang mampu membuat kita bercucuran air mata. Rasa haru, kesedihan, kalut, dan sesak hati adalah sebagian perasaan ketika berpisah dengan orang yang dikasihi. Namun, manusia tidak dapat menyangkal realita hidup bahwa semua ada waktunya. Injil hari ini, menampilkan sosok Allah yang berbelas kasih. Ia datang melawat umatNya. Dalam lawatanNya, Ia menyempurnakan kesedihan dan kehilangan yang dialami seorang janda di Nain dengan sukacita melimpah. Di luar perkiraan dan logika manusia, Tuhan menunjukkan kuasaNya membangkitkan anak laki-laki tunggal dari ibu janda itu.

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, peristiwa pembangkitan pemuda itu terjadi atas dasar inisiatif dan sikap bela rasa Yesus terhadap orang yang berada dalam kesedihan dan kehilangan harapan. Karena itu, intensi utama tindakan kasih Yesus adalah Ia tidak mau umatNya berlarut-larut dalam kesedihan. Ia mengubah suasana hati manusia yang gunda gulana, sedih, menjadi sukacita, yang putus asa dan frustrasi diberinya pengharapan, dan yang tak berdaya, terisolasi dikuatkan dan dibangkitkan.

Pencinta Sang Sabda yang terkasih, situasi hidup yang dialami Janda dan anaknya mendeskripsikan situasi sosial masyarakat yang acapkali kita temukan dalam kehidupan kita. Klasifikasi sosial sangat nampak berimbas pada pola relasi vertikal antara masyarakat sederhana dan kaum elit. Ada kesenjangan sosial ekonomi dan budaya. Begitu umum terjadi, orang-orang kecil dan sederhana seringkali luput dari perhatian public masyarakat. Maka, sebagai pengikut Kristus, kita diajak untuk mengakar-kuatkan sikap peduli, empati dengan orang-orang yang dikucilkan dalam kehidupan bersama. Marilah, kita belajar dari Yesus yang selalu memperhatikan orang-orang kecil dan sederhana. Banyak orang yang membutuhkan bantuan dan pertolongan kita. Bersediakah kita menjadi penyelamat dan pembawa sukacita bagi mereka yang tak berdaya dan ditelantarkan.

 

DOA

 Ya Allah Tritunggal Mahakudus, jadikanlah kami pembawa kabar sukacita bagi semua orang yang tak berpengharapan, menguatkan yang layu-lemah, mengangkat mereka yang terisolasi dalam masyarakat kepermukaan kehidupan bersama, sehingga tercipta Surga yang nyata dalam dunia. Amin

 
 

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive