top of page

Jangan Terlalu Cepat untuk Menghakimi Sesama

6 hours ago
4 min read

Renungan Harian

Rabu, 16 September 2026 - Pekan Biasa ke-XXIV Tahun Genap


PW S. Kornelius, Paus, dan Siprianus, Uksup; Martir

Warna Liturgi: Merah

Bacaan I: 1Kor 12:31-13:13

Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-5.12.22

Bait Pengantar Injil: Yoh 6:64b.69b

Bacaan Injil: Luk 7:31-35


Bacaan I

1Kor 12:31-13:13

Sekarang tinggal iman, harapan dan cinta kasih,

namun yang terlihat ialah cinta kasih.


Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus

kepada Jemaat di Korintus:


Saudara-saudara,

berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama.

Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

Sekalipun aku dapat berbicara

dalam semua bahasa manusia dan malaikat,

tetapi jika tidak mempunyai kasih,

aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing.

Sekali pun aku mempunyai karunia bernubuat

dan aku tahu segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan;

sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung,

tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku,

bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar,

tetapi jika tidak mempunyai kasih,

sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.


Kasih itu sabar, murah hati, dan tidak cemburu.

Kasih tidak memegahkan diri,

tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan.

Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri,

tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran.

Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu,

mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan.

Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti,

dan pengetahuan akan lenyap.

Sebab pengetahuan kita tidak lengkap

dan nubuat kita tidak sempurna.

Tetapi bila yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna.


Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak,

merasa seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula.

Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa,

aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.

Sekarang ini kita melihat gambaran samar-samar seperti dalam cermin,

tetapi nanti dari muka ke muka.

Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna,

tetapi nanti aku akan mengenal secara sempurna,

sebagaimana aku sendiri dikenal.


Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih;

Namun yang terbesar di antaranya ialah kasih!


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 33:2-5.12.22

R:12b

Berbahagialah bangsa

yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.


*Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi,

bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!

Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru;

petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak dan sorai!


*Sebab firman Tuhan itu benar,

segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.

Ia senang pada keadilan dan hukum;

bumi penuh dengan kasih setia-Nya.


*Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan,

suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya!

Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami,

seperti kami berharap kepada-Mu.



Bait Pengantar Injil

Yoh 6:64b.69b

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.

Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.



Bacaan Injil

Luk 7:31-35

Hikmat Allah dibenarkan oleh orang yang menerimanya.


Inilah Injil Suci menurut Lukas:


Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak,

"Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?

Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru,

'Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari.

Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.'


Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang,

dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur,

kalian berkata, 'Ia kerasukan setan.'


Kemudian Anak Manusia datang,

Ia makan dan minum, dan kalian berkata,

'Lihatlah, seorang pelahap dan peminum,

sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.'

Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya."


Demikianlah sabda Tuhan.



Ranungan


Bapak-ibu, saudara dan saudari pencinta Sang Sabda.

Dalam Injil hari ini, Yesus mau menggambarkan hati manusia yang sulit menerima kasih Allah di dalam diri sesama dan selalu mencari alasan untuk menghakimi sesama. Yesus secara tegas mengecam mereka dengan berkata, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini?” Ketika Yesus datang, Ia makan bersama orang-orang yang dianggap berdosa dan menunjukkan belas kasih Allah kepada mereka. Namun, orang-orang ini justru mencari kesalahannya dan berkata: “Lihat, Ia sahabat orang berdosa.” Kisah Injil ini mau menjelaskan bahwa, ketika hati seseorang sudah dipenuhi prasangka negatif, maka apa pun kebaikan yang dilakukan orang lain akan selalu dianggap salah.


Bapak-ibu, saudara dan saudari pencinta Sang Sabda.

Bukankah hal seperti ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita? Terkadang kita mudah menilai seseorang hanya karena cara bicaranya. Kita menilai sesama karena kesalahannya di masa lalu. Kita menganggap bahwa seseorang tidak peduli kepada kita hanya karena ia tidak menunjukkan perhatian seperti yang kita harapkan. Bahkan dalam kehidupan bersama di keluarga, komunitas, atau lingkungan kerja, kita bisa menjadi seperti orang-orang dalam Injil yang sulit menerima kebaikan karena kita terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain. Terkadang, masalahnya bukan karena tidak ada kasih dan kebaikan di sekitar kita, tetapi karena hati kita tidak mau menerimanya.


Yesus berkata, “Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” Kebijaksanaan sejati bukan hanya kemampuan untuk berbicara atau menilai orang lain. Kebijaksanaan berarti mampu membuka hati, mendengarkan, melihat dengan jernih, dan menerima kehendak Allah.


Karena itu, Yesus, melalui Injil hari ini, mengajak kita untuk tidak terlalu cepat menghakimi sesama. Sebelum memberi label negatif kepada orang lain dengan berkata, Dia memang begitu. Cobalah berkata dalam hatimu, Mungkin ada sesuatu yang belum saya pahami dari dirinya. Sebelum menyalahkan orang lain, cobalah mendengarkannya terlebih dahulu. Sebelum menilai seseorang dari masa lalunya, berilah kesempatan kepadanya untuk berubah dan bertumbuh kembali. Dan sebelum melihat kesalahan orang lain, marilah kita bertanya: Apakah ada sesuatu dalam diri saya yang perlu diperbaiki?


Bapak-ibu, saudara dan saudari pencinta Sang Sabda.

Allah tidak meminta kita menjadi manusia yang sempurna. Allah menghendaki kita menjadi manusia yang mau belajar, mau bertobat, mau menerima, dan mau mengasihi sesama.


Hari ini Gereja Katolik sejagat memperingati Santo Kornelius dan Santo Siprianus, Uskup dan martir. Dua tokoh ini hidup pada masa Gereja mengalami tantangan dan penganiayaan. Mereka tidak memilih jalan yang mudah. Mereka tetap setia kepada Kristus dan berusaha menjaga persaudaraan umat beriman. Kesetiaan mereka pada iman akan Kristus akhirnya membawa mereka kepada kemartiran. Santo Kornelius mengajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal memiliki kedudukan, tetapi tentang kesetiaan, keberanian, dan kepedulian terhadap umat. Santo Siprianus pun menunjukkan bahwa iman tidak boleh berhenti pada kata-kata. Iman harus diwujudkan dalam kasih, persatuan, dan keberanian menghadapi kesulitan.


Semoga melalui Injil hari ini dan teladan hidup Santo Kornelius dan Santo Siprianus, hati kita menjadi lebih terbuka terhadap karya Allah. Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kesalahan orang lain sehingga tidak mampu mengenali kebaikan yang sedang Allah hadirkan dalam hidup kita. Mari kita belajar melihat bukan dengan mata yang suka menghakimi, melainkan dengan hati yang penuh kasih.

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page