top of page

Pandanglah,  Kau Tak Binasa

4 hours ago
4 min read

RENUNGAN HARIAN

Senin, 14 September 2026 - Pekan Biasa ke-XXIV Tahun Genap


Warna Liturgi: Merah

Bacaan I: Bil 21:4-9

Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38

Bacaan II: Flp 2:6-11

Bacaan Injil: Yoh 3:13-17


Bacaan I

Bil 21:4-9

Setiap orang yang dipagut ular,

jika memandang ular tembaga,

ia akan tetap hidup.


Bacaan dari Kitab Bilangan:


Ketika umat Israel berangkat dari Gunung Hor,

mereka berjalan ke arah Laut Teberau

untuk mengelilingi tanah Edom.

Bangsa itu tidak dapat menahan hati di tengah jalan.

Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa,

"Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir?

Supaya kami mati di padang gurun ini?

Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air!

Kami telah muak akan makanan hambar ini!


Lalu Tuhan menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu,

yang memagut mereka,

sehingga banyak dari orang Israel itu mati.

Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata,

"Kami telah berdosa,

sebab kami berkata-kata melawan Tuhan dan engkau;

berdoalah kepada Tuhan,

supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami."


Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu.

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa,

"Buatlah ular tedung dan taruhlah pada sebuah tiang;

maka setiap orang yang terpagut ular,

jika ia memandangnya, akan tetap hidup."


Lalu Musa membuat ular tembaga

dan menaruhnya pada sebuah tiang.

Maka jika seseorang dipagut ular,

dan ia memandang kepada ular tembaga itu,

tetaplah ia hidup.


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 78:1-2.34-35.36-37.38

R:7b

Jangan melupakan perbuatan-perbuatan Allah.


*Dengarkanlah pengajaranku, hai bangsaku,

sendengkanlah telingamu kepada ucapan mulutku.

Aku mau membuka mulut untuk mengatakan amsal,

aku mau menuturkan hikmah dari zaman purbakala.


*Ketika Allah membunuh mereka, maka mereka mencari Dia;

mereka berbalik dan mendambakan Allah;

mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka,

dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.


*Tetapi mulut mereka tidak dapat dipercaya,

dan dengan lidah mereka membohongi Allah.

Hati mereka tidak berpaut pada-Nya,

dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.


*Akan tetapi Allah itu penyayang!

Ia mengampuni kesalahan mereka

dan tidak memusnahkan mereka;

banyak kali Ia menahan amarah-Nya,

dan tidak membangkitkan keberangan-Nya.



Bacaan II

Flp 2:6-11

Yesus merendahkan diri,

maka Allah sangat meninggikan Dia.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus

kepada Jemaat di Filipi:


Saudara-saudara,

Yesus Kristus, walaupun dalam rupa Allah,

tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu

sebagai milik yang harus dipertahankan,

Sebaliknya Ia telah mengosongkan diri,

mengambil rupa seorang hamba,

dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia,

Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat,

bahkan sampai wafat di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia,

dan menganugerahi-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus

bertekuk-lututlah segala yang ada di langit,

dan yang ada di atas serta di bawah bumi,

dan bagi kemuliaan Allah Bapa

segala lidah mengakui "Yesus Kristus adalah Tuhan."


Demikianlah sabda Tuhan.



Bacaan Injil

Yoh 3:13-17

Anak Manusia harus ditinggikan.


Inilah Injil Suci menurut Yohanes:


Dalam percakapan-Nya dengan Nikodemus, Yesus berkata,

"Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga,

selain Dia yang telah turun dari surga,

yaitu Anak Manusia.


Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun,

demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya

beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,

sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa,

melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia

bukan untuk menghakimi dunia,

melainkan untuk menyelamatkannya"


Demikianlah sabda Tuhan.


Renungan

Bapa ibu saudara/i, para pencinta Sabda Allah yang terkasih.

Judul renungan kita pada hari ini adalah “Pandanglah,  Kau Tak Binasa”. Yesus dalam injil hari ini berbicara tentang Allah yang solider dan terus menawarkan keselamatan yang berasal dari pada-Nya di tengah situasi penderitaan umat manusia. Dalam percakapan dengan seorang guru Yahudi, Nikodemus, Tuhan Yesus secara tersirat menggambarkan bagaimana sejarah keselamatan manusia tidak pernah terlepas dari intervensi dan campur tangan Allah. Ia mencoba untuk kembali menghidupkan kenangan dan pengelaman indrawi bangsa Israel akan perjalanan umat pilihan  menuju tanah terjanji.


Bapa, ibu saudara/I yang terkasih dalam Sang Sabda.

Di tengah dunia yang sering kali terasa porak-poranda oleh bencana dan ketidakpastian hidup serta putus asa, kita sering kali bingung ke mana harus mengarahkan pandangan. Ketika badai hidup datang silih berganti, mata kita cenderung dan lebih mudah tertuju pada apa yang tampak sebagai akibat dari badai tersebut. Ketakutan, kehancuran dan keputusasaan itulah yang cenderung lebih mudah dilihat  dan tinggal dalam pandangan kita.

Namun, melalui injil Yohanes hari ini, Yesus memberikan sebuah analogi yang begitu kuat dari zaman Musa, “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di Padang Gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan supaya semua orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal”. Umat Israel kala itu sedang mengalami penderitaan oleh karna pagutan ular Tedung yang beracun. Solusi yang ditawarkan Allah terdengar cukup aneh secara logika. Musa harus membuat ular tembaga, dan siapa pun yang memandang ular tersebut ia akan hidup.


Hari ini, tiang itu telah digantikan oleh Kayu Salib, dan yang bergantung di situ bukan lagi ular yang adalah simbol kekalahan manusia atas dosa, melainkan yang bergantung di sana ialah Anak Manusia, Kristus sendiri, simbol Allah yang solider, dan penebus kita. Memandang Tuhan pada Salib sejatinya memiliki makna yang bukan hanya pandangan sekilas melainkan pandangan iman. Memandang Salib berarti mengalihkan fokus kita dari besarnya masalah kepada besarnya Kasih Allah. Ular tembaga tidak menyembuhkan. Yang menyembuhkan adalah ketaatan umat Israel untuk percaya kepada Firman Allah. Begitu pun dengan Salib. Keselamatan ada ketika kita menaruh kepercayaan penuh pada kurban Kristus itu sendiri. Salib menjadi bukti tertinggi bahwa Allah tidak ingin kita binasa oleh keadaan dunia. Di bawah Salib, ketakutan diubah menjadi kekuatan, dan putus asa menjadi harapan.


Selamat merayakan Pesta Salib Suci. Apa pun situasinya, jangan pernah memalingkan pandangan dari Dia yang bergantung di sana.

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page