top of page

Perayaan Kenaikan Tuhan di Kapela Agung Ledalero Angkat Realitas Kehidupan Para Migran dan Perantau

  • 4 minutes ago
  • 2 min read

Suasana Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Kamis (14/05/2026).
Suasana Perayaan Ekaristi Hari Raya Kenaikan Tuhan di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Kamis (14/05/2026).

Perayaan Hari Raya Kenaikan Tuhan di Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Kamis (14/05/2026), berlangsung khidmat.


Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Ignas Ledot, SVD, dengan petugas liturgi dari Unit Rafael dan koor oleh mahasiswi PKK Asrama Beata Josepha Ledalero.


Dalam homilinya, Pater Ignas mengangkat tema tentang para pekerja, perantau, dan misionaris. Ia banyak membagikan pengalaman pastoralnya ketika melayani misa Natal dan Paskah bersama para migran di Kampar, Malaysia.


Menurut Pater Ignas, pengalaman bersama para migran memberinya gambaran nyata tentang bagaimana iman dijalani dalam situasi hidup yang keras dan penuh ketidakpastian.


“Sering kali Natal kita hayati sebagai perayaan yang indah dan damai. Tetapi di Kampar, Natal hadir sebagai pengalaman iman yang menyayat hati,” ujar Pater Ignas.


Ia menceritakan bahwa para migran di sana merayakan Natal di tempat-tempat sederhana, bahkan di bawah tenda dan terpal plastik di sekitar area perkebunan.


Dalam kondisi seperti itu, rasa takut terhadap razia dan situasi kerja yang tidak menentu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.


Meski hidup dalam keterbatasan, para migran tetap berkumpul untuk berdoa dan merayakan iman bersama.


Pengalaman itulah yang, menurut Pater Ignas, memperlihatkan bahwa Tuhan hadir juga di tengah kehidupan orang-orang kecil dan terluka.


Refleksi itu kemudian dikaitkannya dengan perayaan Kenaikan Tuhan. Ia mengatakan, Yesus naik ke surga bukan sebagai pribadi tanpa luka, tetapi sebagai pribadi yang membawa bekas penderitaan-Nya.


“Kenaikan adalah perayaan tubuh yang terluka namun dimuliakan,” katanya.


Dalam homili tersebut, Pater Ignas juga menyinggung kehidupan para migran yang sering harus meninggalkan keluarga demi mencari penghidupan yang lebih baik.


Banyak dari mereka, katanya, pulang membawa pengalaman hidup yang berat, baik secara fisik maupun batin.


“Bekas luka di tangan para migran adalah harga yang dibayar agar anak-anak mereka bisa sekolah dan memiliki masa depan yang lebih baik,” ujarnya.


Selain berbicara tentang migran, Pater Ignas juga mengarahkan refleksinya kepada para frater, mahasiswa, dan mahasiswi yang sedang menjalani masa formasi.


Ia menegaskan bahwa proses pendidikan dan formasi bukan hanya soal pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kesiapan untuk melayani.


Ia mengingatkan bahwa pengalaman lelah, kegagalan, dan pergulatan selama masa studi merupakan bagian penting dalam proses pembentukan diri seorang calon misionaris.


“Seorang calon imam atau misionaris awam yang takut terluka oleh studi, suatu hari juga akan takut terluka oleh penderitaan umat,” katanya.


Di akhir homili, Pater Ignas mengajak umat untuk tidak takut menghadapi proses hidup yang sulit.


Menurut dia, pengalaman-pengalaman itu justru membentuk seseorang menjadi pribadi yang lebih mampu memahami dan mendampingi sesama.*


*Fr. Febry Suryanto, SVD.

 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page