top of page

RENUNGAN HARIAN || Rabu, 14 Oktober 2026 - Pekan Biasa ke-XXVIII Tahun Genap || Empat Seruan “Celakalah!”

11 hours ago
4 min read

PF S. Kalistus, Paus dan Martir

Warna Liturgi: Hijau

Bacaan I: Gal 5:18-25

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-2.3.4.6

Bait Pengantar Injil: Yoh 10:27

Bacaan Injil: Luk 11:42-46


Bacaan I

Gal 5:18-25

Barang siapa menjadi milik Kristus,

ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.


Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia:


Saudara-saudara,

Kalau kalian membiarkan diri dibimbing oleh Roh,

kalian tidak hidup di bawah hukum Taurat.

Perbuatan daging telah nyata, yaitu:

percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir,

percekcokan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri,

percideraan, roh pemecah dan kedengkian,

kemabukan, pesta pora dan sebagainya.

Mengenai semuanya itu kalian kuperingatkan,

seperti yang telah kulakukan dahulu

bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian,

ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.


Sebaliknya hasil Roh ialah:

kasih, sukacita, damai sejahtera,

kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,

sikap lemah lembut dan penguasaan diri.

Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.

Barangsiapa menjadi milik Kristus,

ia telah menyalibkan daging

dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.

Jika kita hidup oleh Roh,

baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.


Demikianlah sabda Tuhan.



Mazmur Tanggapan

Mzm 1:1-2.3.4.6

R:Yoh 8:12

Yang mengikuti Engkau, ya Tuhan, hidup dalam cahaya.


*Berbahagialah orang

yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,

yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,

dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;

tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,

dan siang malam merenungkannya.


*Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,

yang menghasilkan buah pada musimnya,

dan daunnya tak pernah layu;

apa saja yang diperbuatnya berhasil.


*Bukan demikianlah orang-orang fasik:

mereka seperti sekam yang ditiup angin.

Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,

tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.



Bait Pengantar Injil

Yoh 10:27

Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan,

Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.



Bacaan Injil

Luk 11:42-46

Celakalah kalian, hai orang-orang Farisi!

Celakalah kalian, hai ahli-ahli kitab!


Inilah Injil Suci menurut Lukas:


Sekali peristiwa

Yesus bersabda, "Celakalah kalian, hai orang-orang Farisi!

Sebab kalian membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran,

tetapi kalian mengabaikan keadilan dan kasih Allah.

Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan.

Celakalah kalian, hai orang-orang Farisi,

sebab kalian suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat

dan suka menerima penghormatan di pasar.

Celakalah kalian,

sebab kalian seperti kubur yang tidak memakai tanda;

orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya."


Seorang ahli Taurat menjawab,

"Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga."

Tetapi Yesus berkata lagi,

"Celakalah kalian juga, hai ahli-ahli Taurat,

sebab kalian meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang,

tetapi kalian sendiri

tidak menyentuh beban itu dengan satu jari pun."


Demikianlah sabda Tuhan.



RENUNGAN


Empat Seruan “Celakalah!”


Saudara/I yang terkasih

Yesus melontarkan empat seruan "Celakalah" dalam teks Injil Lukas yang kita dengarkan hari ini.


Tiga seruan “Celakalah” pertama ditujukan kepada orang-orang farisi sebagai kelompok orang yang sangat taat dalam melaksanakan hukum dan perintah agama; sedangkan seruan “Celakalah” keempat, ditujukan pada ahli taurat sebagai kelompok orang pintar, yang disegani karena sering tampil sebagai pengajar agama yang hebat.


Dalam Kitab Suci, kata "celakalah" ini penting. Ia tidak hanya sekadar dibaca sebagai sebuah ungkapan kemarahan atau kutukan yang keras, tetapi juga sebagai sebuah peringatan yang serius mengenai konsekuensi mengerikan yang menanti mereka yang terus hidup dalam dosa; sehingga dapat dikatakan bahwa ketika Yesus mengatakan “Celakalah”, pada saat itu Ia sebetulnya sedang berkata, "Betapa mengerikannya nasibmu jika engkau terus hidup dengan gaya hidup seperti ini."


Saya mengajak kita untuk merenungkan seruan “Celakalah” ini satu per satu.


Seruan "celakalah" yang pertama berkaitan dengan prioritas yang keliru. Orang-orang farisi memberi prioritas pada bayaran persepuluhan bahkan dari tanaman herbal terkecil di kebun, namun mengabaikan "keadilan dan kasih kepada Allah."


Seruan "celakalah" yang kedua berkaitan dengan hasrat akan kehormatan. Orang-orang farisi menyukai "tempat terhormat" beserta sapaan hormat yang diberikan di tempat umum. Dengan taat mengikuti praktik hidup beragama, alih-alih mengarahkan perhatian kepada Allah, mereka justru mulai mengarahkannya kepada diri mereka sendiri.


Seruan "celakalah" yang ketiga sangatlah mencolok. Yesus mengibaratkan orang-orang farisi seperti "kuburan yang tidak kelihatan, yang diinjak orang tanpa mereka sadari." Orang-orang farisi menjadi pedoman dan pijakan hidup dalam berlaku benar. Mereka menjadi sandaran hidup dan rujukan kekudusan bagi banyak orang, tetapi orang-orang tersebut tidak sadar kalau mereka sedang mengikuti pijakan atau sandaran tersebut. Kemunafikan orang-orang farisi justru membuat orang lain menjadi najis secara rohani tanpa orang-orang itu menyadarinya. Ini menjadi peringatan bagi siapa pun yang memiliki pengaruh rohani. Bahwa teladan seorang pemimpin rohani bisa menarik orang mendekat kepada Allah atau secara diam-diam menjauhkan mereka dari-Nya.


Seruan “celakalah” keempat dialamatkan Yesus kepada para ahli Taurat yang adalah pakar dalam menafsirkan Hukum Taurat, tetapi mereka mengubah pengetahuan itu menjadi beban bagi umat. Yesus menegur mereka, "Kamu membebankan hal-hal yang berat untuk dipikul kepada orang lain, tetapi kamu sendiri tidak mau menyentuh beban itu sedikit pun."


Saudara/I yang terkasih

Kata-kata peringatan Yesus ini keras, tetapi sebetulnya mengandung unsur belas kasih di dalamnya. Dalam seruan yang keras ini, Yesus sebetulnya sedang memberi kesempatan bagi orang berdosa untuk bertobat.


Peringatan Yesus kepada orang-orang farisi dan ahli-ahli taurat adalah awasan bagi kita bahwa Tuhan tidak memanggil kita untuk menjadi orang yang sekadar tampak saleh, tetapi Ia memanggil kita untuk memiliki hati yang penuh kasih. Itu berarti kita dituntut bukan untuk menjawab pertanyaan Seberapa salehkah saya di mata orang lain?, tetapi kita dituntut untuk tegas memberikan jawaban atas pertanyaan Seberapa jauh hidup saya telah menjadi tanda kasih Allah bagi sesama? Kesalehan tanpa kasih tidak berfaedah apa-apa.


Keempat seruan celaka ini juga mengajak kita untuk memeriksa cara kita menghayati iman. Penghayatan iman yang benar tidak hanya terlihat dari bibir yang berdoa, tetapi juga dari tangan yang menolong, hati yang mengampuni, dan keberanian untuk memperjuangkan keadilan. Segala kebaikan sebagai bentuk konkret dari penghayatan iman itu selalu dimulai dari kemurnian pikiran. Semoga Tuhan memurnikan pikiran dan hati kita agar setiap doa kita dapat melahirkan kasih, agar setiap pengetahuan iman kita menghasilkan kerendahan hati, dan agar semua pelayanan kita benar-benar membawa penghiburan bagi mereka yang menderita.


Semoga Tuhan memberkati kita. Bunda Maria mendoakan.


***


Fr. Frano Kleden, SVD


Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page