• SEMINARI TINGGI ST. PAULUS LEDALERO

Tahbisan Imam dan Lukisan yang Tak Biasa (Makna di Balik Van Gogh’s Starry Night)




Selalu ada yang tersembunyi di balik setiap peristiwa. Sabtu, 3 Oktober 2020 menjadi peristiwa berahmat bagi segenap komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Sebagai rumah formasi SVD terbesar di dunia saat ini, lagi-lagi rumah ini mempersembahkan 12 putra terbaiknya untuk ditahbiskan menjadi imam.


Perayaan tahbisan tentunya selalu menjadi momentum yang dinanti-nantikan oleh seorang calon imam. Dinanti-nantikan karena setelah menempuh pendidikan bertahun-tahun sejak di seminari menengah hingga seminari tinggi, momen inilah menjadi puncak dari perziarahan yang panjang itu.


Maka tak heran, saya mendapatkan aura sukacita dan kebahagiaan dari mereka yang ditahbiskan pada hari ini. Tentu perjuangan selama bertahun-tahun dengan onak dan durinya masing-masing telah mencapai garis finishnya pada perayaan hari ini. Kedua belas diakon yang ditahbiskan tersebut diutus ke berbagai belahan dunia untuk menjadi misionaris Tuhan.


Hiruk pikuk menjelang dan saat perayaan ini sangat tampak di Komunitas Ledalero. Sebagai perayaan tahunan, perayaan tahbisan kali ini dipimpin oleh Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota.


Hadir dalam perayaan ini Provinsial SVD Ende, Pater Lukas Jua, Provinsial SVD Ruteng, Pater Paulus Tolo, Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Pater Frans Ceunfin SVD, Ketua STFK Ledalero, Pater Otto Gusti Madung, para imam, para suster, para frater dan bruder Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, dan orang tua para diakon yang ditahbiskan menjadi imam.


Perayaan tahbisan imam tahun ini terbilang khusus. Kekhususan itu terjadi lantaran perayaan ini dibuat pada saat dunia sedang dilanda Pandemi Covid-19. Desas-desus apakah perayaan ini tetap dilaksanakan sempat beredar dan tercium di telinga anggota komunitas.


Namun karena tetap memperhatikan instruksi dan protokol dari pemerintah, perayaan ini pun berjalan dengan aman dan lancar.


Dari semua hal yang terjadi selama perayaan tahbisan imam tahun ini, saya terkesima oleh lukisan Van Gogh’s Starry Night. Lukisan ini dilukis kembali oleh Frater Karlos SVD yang saat ini sedang mengenyam pendidikan Filsafat pada STFK Ledalero.


Saya tidak tahu alasan utama Frater Elos (demikian kami sering menyapanya) memilih lukisan Van Gogh. Bagi saya, melalui pelukisan kembali karya termasyur Van Gogh ini sebenarnya menampilkan sosok Frater Elos sebagai seniman sekaligus individu yang berupaya menautkan pengalaman dan renungannya yang sangat personal dengan nasib umat manusia saat ini, atau sebaliknya pengalaman bersama warga dunia yang muram.


Kenyataan saat ini sangat berpengaruh terhadap cara Elos mengartikulasikan renungan dan perasaannya. Yang jelas, sependek amatan saya, hal semacam itu jarang ditemukan pada karya-karya Elos sebelumnya.


Tetapi saya juga tidak akan sedang mengulas Elos lebih lama lagi. Saya kembali kepada Van Gogh. Selama perayaan berlangsung, selain mendengarkan khotbah yang sangat menarik dari Uskup Sensi selaku selebran utama, saya begitu terpana dan termenung jauh perihal lukisan Van Gogh.


Bukan sebuah kebetulan Lukisan Van Gogh yang dibuat pada tahun 1889 ini dipilih Elos menjadi latar utama pada perayaan ini.


Sebagai salah seorang pencinta Van Gogh dan pernah sedikit menggumuli kisah hidupnya, saya merasa bahwa lukisan ini menorehkan makna tersendiri bagi peristiwa tahbisan imam tahun ini. Untuk orang yang memiliki jiwa seni yang tinggi tentu akan mengetahui makna dari lukisan tersebut, dan perasaan terasa ikut jauh menyelami makna yang digoreskan oleh seorang Van Gogh.


Karena itu, saat ini, saya tidak sedang mencoba menafsir goresan kuas-kuas dari tangan sang pelukisnya, tetapi saya coba menemukan benang merah lukisan Van Gogh’s Starry Night dengan momen tahbisan pada tahun ini.


Van Gogh: Tapak Hidup Sang Seniman


Van Gogh bukanlah pelukis kaleng-kalengan. Van Gogh adalah salah satu pelukis terbesar dalam sejarah seni Eropa. Saat ini lukisan-lukisannya termasuk dalam lukisan deretan termahal di dunia setelah sepeninggalannya.


Ia lahir di Belanda pada 30 Maret 1853, dan merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Ayahnya, Theodorus Van Gogh, adalah seorang pendeta, dan ibunya, Anna Cornelia Carbentus, adalah putri dari seorang penjual buku.


Sejak kecil Van Gogh memiliki suasana hati yang tidak stabil. Dia tidak menunjukkan bakat seninya selama masa kanak-kanak, dan ia juga tidak begitu berhasil di sekolah.


Pada tahun 1881, ia belajar pada Anton Mauve, seorang seniman terkemuka dari Aliran Seni Den Haag. Mauve, memperkenalkan kepadanya karya-karya pelukis Perancis, Jean Francois Millet, yang dikenal karena aliran realismenya yang mengambil subjek kehidupan para kaum buruh dan petani. Gaya Millet itulah yang mempengaruhi karya Van Gogh selanjutnya.


Van Gogh, pelukis mapan yang karyanya kerap tergolong dalam aliran neo-impressionism memang tak menyandang titel akademik apa pun. Pada tahun 1868, ia meninggalkan sekolah dan tidak pernah kembali lagi untuk mendapatkan pendidikan formal.


Pada tahun 1869, ia kemudian magang di Dealer Seni Internasional Goupil & Cie Paris dan akhirnya diterima bekerja untuk ditempatkan di Kantor Cabang Den Haag. Di sana, ia cukup sukses dalam karirnya sebagai art dealer dan bekerja di perusahan tersebut selama hampir satu dekade.


Karya-karya Van Gogh baru mulai terkenal selama dua tahun terakhir dalam hidupnya. Langkahnya tersebut dimulai dengan rencana membuat komunitas seniman baru di Arles. Ia bersama sahabatnya Paul Gauguin bekerja sama di Arles dan menyewa empat kamar sekaligus di Place Lamartine. Tempat ini kemudian dijuluki “The Yellow House”.


Meskipun produktivitasnya luar biasa, ia menderita ketidakstabilan mental. Pada tanggal 8 Mei 1889, setelah merasa kondisi mentalnya kian memburuk, ia dengan sukarela menyerahkan dirinya ke sebuah Institusi Psikiatri di Saint Remy, dekat Arles.


Setelah perkembangan mentalnya membaik dan lebih stabil, ia diizinkan untuk melanjutkan melukis. Periode inilah menjadi salah satu masa yang paling produktif. Ia menciptakan lebih dari 100 karya di Saint Remy, termasuk karyanya yang terkenal Starry Night (1889).


Bukan suatu kebetulan justru karya inilah yang dipilih untuk menjadi latar utama perayaan tahbisan imam tahun ini.


Pesan di Balik Van Gogh’s Starry Night


Lukisan Starry Night Van Gogh yang menjadi latar utama perayaan tahbisan imam tahun ini sekurang-kurangnya memberikan makna tertentu seturut tafsiran saya. Starry Night (Malam Berbintang) sering dianggap sebagai puncak karya Van Gogh.


Lukisan ini dibuat saat Van Gogh menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa Saint Paul de Mausole setelah ia memotong telinga kirinya. Lukisan tersebut menggambarkan pemandangan dari jendela yang menghadap ke arah timur dari kamar rumah sakit jiwa di Saint-Rémy-de-Provence, tepat sebelum matahari terbit, dengan tambahan sebuah desa yang diidealkan.


Tidak seperti kebanyakan karyanya, Starry Night dilukis dari ingatan dan tidak berdasarkan referensi alam. “Yang dia ‘bicarakan’ ialah batin ‘dirinya sendiri’, dengan sederhana. Penekanan pada kehidupannya yang emosional sangat jelas dalam penggambaran langitnya yang bergolak dan liar.


Sebagai pencinta lukisan-lukisannya, Frater Elos mengatakan, “Starry Night merupakan karya masyur Van Gogh saat dia mengalami situasi terasing, kehilangan sahabat, dan frustrasi hebat.”


“Kualitas karyanya betul-betul di luar ‘penjelasan’. Amat sedikit yang dapat dibahas dari karyanya, kecuali kesadaran bahwa kekuatan ‘intuisi’ yang luar biasa berada di pengujung kuasnya. Starry Night adalah gambaran kehidupan yang telah ia jalani seorang diri (dalam hal ini Van Gogh) yang menyimpan banyak kisah suka dan duka, tetapi juga berusaha menerima realitas,” tambah Elos.


Kedua belas diakon SVD ditahbiskan di saat dunia sedang dilanda Pandemi Covid-19. Pandemi ini telah menjadi duka bagi bumi manusia. Tak satu negara pun yang luput dari bencana global ini. Semua kota dan negara-negara besar di dunia terusik dan kasak-kusuk.


Tidak ada yang dapat menerangkan pula sebab akibat hingga menemukan solusi atas pandemi ini. Semua orang tidak dapat berbuat apa-apa untuk sementara selain mengikuti protokol dan instruksi dari pemerintah. Jaga jarak dan pakai masker kurang lebih menjadi tawaran solutif dari pemerintah.


Hingga detik ini jutaan nyawa di seluruh dunia telah lenyap gara-gara virus ini. Permasalahan ini lebih menjadi absurd karena ia bisa menyerang siapa saja tanpa mengenal usia, tua-muda, anak-anak hingga orang dewasa.

Peristiwa ini membuat saya kembali kepada wabah sampar dalam Novel Albert Camus. Penyakit sampar datang secara mendadak dan membuat seluruh penduduk kota cemas. Penduduk kota seakan tidak dapat berbuat apa-apa dan hanya dapat menerima saja.


Permasalahan menjadi absurd karena penyakit sampar bukanlah akibat dari suatu sebab. Apalagi penyakit ini pun membunuh anak-anak yang tidak berdosa. Jutaan manusia hilang pada masa itu. Pandemi Covid-19 dan penyakit sampar seperti perang yang menyerang manusia tanpa diketahui sebelumnya.


Dalam konteks dunia seperti inilah para imam baru akan diutus. Mereka akan diutus ke tengah dunia yang sedang dilanda bencana kemanusiaan yang hebat. Mereka memilih moto “Lalu Pergilah Mereka (Markus 6:12)”.


Moto ini merupakan penggalan dari teks Injil Markus tentang Yesus mengutus kedua belas rasul. Para Rasul diutus Yesus untuk pergi memberitakan Injil ke semua daerah dan kota-kota. Mereka diutus dengan tangan kosong dan tanpa membawa apa-apa. Mereka akan diutus seperti domba ke tengah-tengah serigala.


Ribuan tahun yang lalu Yesus mengutus kedua belas rasul, dan pada saat ini Yesus yang sama mengutus kedua belas misionaris SVD ke seluruh dunia. Mereka diajak Yesus untuk pergi.


Pater Leo Kleden melukiskan dengan sangat indah makna dan konotasi penting kata pergi seturut tafsiran Kitab Suci.

Pertama, pergilah, keluar dari diri, dari lingkup hidup yang kau kenal, menuju masa depan baru, menjumpai orang-orang lain, dengan kemungkinan yang tak terduga.


Kedua, pergilah ke diri sendiri, menemukan jati dirimu. “Jalan yang paling panjang dan sulit adalah jalan kepada jati diri” (Dag Hammarskjöld).

Ketiga, pergilah (untuk kita sekarang) dari seluruh sistem berhala baru yang mau mendominasi kemerdekaan manusia, dari ilusi kenikmatan palsu yang mau menjerat hidup manusia.


Keempat, pergilah menemui Allah yang sejati, sekalipun untuk itu kita juga harus melewati pelbagai macam kesulitan dan cobaan.


Barangkali keempat makna pergi di atas sudah dilewati oleh kedua belas imam baru yang ditahbiskan. Saatnya sekarang mereka pergi menemui Tuhan di tempat perutusan mereka masing-masing.


Tuhan yang akan mereka jumpai adalah Tuhan yang sedang takut dan gelisah dalam wajah-wajah manusia yang akan mereka layani. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku (Matius, 25:40)”.


Tuhan adalah muara utama pengembaraan sejati seorang misionaris. Sebab pada awal dan pada akhirnya segala kerinduan manusia yang mengembara dan mencari adalah kerinduan akan Tuhan.


Santo Agustinus menulis, “Engkau menciptakan kami untukMu, Tuhan, maka hati kami selalu gelisah sebelum ia menemukan istirahat dalam Engkau.”


Penulis: Fr. Har Yansen

311 views

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

@2017 | Design by CH95 Website Design

VISITOR 

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon