• SEMINARI TINGGI ST. PAULUS LEDALERO

Teater dan Kota (Perspektif Filsafat Estetika)

Oleh Felix Baghi, SVD


1. Pengantar


Aletheia, kelompok peminat seni Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, meminta saya untuk berbincang-bincang tentang teater dan kota. Bincang-bincang ini diadakan dalam forum teater bersama Kahe - komunitas seni dari Maumere, Teater Tanya - kelompok seni para frater Seminari Tinggi St. Petrus Ritapiret - dan para peminat seni yang lain. Selain itu, bincang-bincang ini bertujuan untuk saling membagi pengalaman seni sambil tetap terbuka untuk belajar satu sama lain.


Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menarik garis penghubung antara teater dan kota? Perspektif apa yang bisa mempertemukan dua tema yang berbeda ini? Sebagai peminat seni, hal yang mungkin bagi saya adalah melihatnya dari perspektif filsafat, khususnya filsafat estetika yang mempunyai ruang untuk berbicara tentang teater, dan juga filsafat sosial yang melihat fenomen kota sebagai realitas dunia kehidupan.


Refleksi ini tidak menyajikan jawaban final karena yang ditawarkan di dalamnya hanyalah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Seni adalah kemungkinan dari yang mungkin.

2. Teater dan Kota: Dua Dunia


Teater dan kota adalah dua dunia yang antagonistik. Dunia teater adalah dunia imaji dengan banyak dimensi, sedangkan dunia kota adalah dunia pengalaman hidup (lived-experience) tempat orang mengubah mimpi jadi kenyataan.[1]


Dunia teater adalah dunia performance, tempat bermain drama, sedangkan dunia kota adalah dunia keseharian di mana orang tidak boleh bersandiwara di tengah kehidupan yang keras.


Dunia teater dicahayai oleh tata lampu, diwarnai oleh kostum, diperkaya oleh gestikulasi, ditunjuk oleh emosi, dilakonkan oleh aktor, dirancang oleh sutradara, ada musik, dan designer, sedangkan dunia kota memiliki rambu-rambu aturan, ada sirkulasi hidup dan kebisingan, ada jaringan bisnis, ada hingar-bingar dan hilir-mudik manusia siang dan malam.


Di satu pihak, teater menampilkan setting yang mengandung pesan dari suatu kejadian, misalnya the theater of crime yang menggambarkan situasi seram dan gelap, atau the theater of war yang menampilkan insting perang antara manusia sebagai serigala bagi sesama. Setting dari dunia adalah sistim kehidupan dan tatanan kota yang nyata.

Jika teater dihubungkan dengan momen-momen sosial yang besar seperti inaugurasi sebuah monumen historis, launching kapal, dan parade militer, maka kota dikaitkan dengan ruang publik, the common space, tempat di mana warga merayakan kehidupan secara bersama atas dasar norma tertentu.

3. Actor dan Spect-actor


Secara konkret, kalau kita bertolak dari kenyataan bahwa setiap orang beraktivitas, maka setiap aktivitas mengandung makna. Aktivitas adalah dimensi penting dalam teater. “Everybody acts. Everyone is an actor.”[2] Namun, kita perlu melihat bahwa aktivitas dalam teater adalah akativitas yang repetitif. Ada saat di mana kita kembali mendramatisir aktivitas hidup seperti mandi, makan, pergi ke sekolah, berenang di laut, bermain bersama dan lain sebagainya. Melalui seni, hal-hal yang biasa dapat menjadi yang luar biasa. Suatu aktivitas harian yang dianggap biasa saja, ketika aktivitas itu dipanggungkan, maka ia akan menjadi hal yang luar biasa dan bermakna.


Teater adalah seni memanggungkan kehidupan. Orang Prancis bilang faire du théâtre, semacam kesanggupan untuk mengubah keseharian menjadi hal yang baru. Secara esensial teater berkenaan dengan kapasitas yang dimiliki setiap orang untuk melihat, berpikir dan mengolah seluruh perasaan hidupnya. Demikanlah,


human is capable of seeing themselves in the act of seeing, of thinking their emotions, of being moved by their thoughts. They can see themselves here and imagine themselves there; they can see themselves today and imagine themselves tomorrow.[3]


Ini adalah kesanggupan untuk mengidentifikasi diri. Manusia mengidentifikasi diri di tengah dunia karena ia adalah actor dan spect-actor.


Di satu pihak, sebagai actor, manusia melihat segala apa saja, menangkap dimensi apa saja, menyelam ke dasar kehidupannya, mengeksplorasi emosi sampai ke titik terakhir. Sebagai aktor manusia melakukan penemuan yang membuatnya lebih human. Namun, di pihak lain, sebagai spect-actor, manusia adalah pengamat atau penyaksi. Dia sering menjadi outsider atau penonton. Yang menarik bahwa, semuanya, baik actor maupun spect-actor, terjadi di dunia, dan dalam kenyataan.

4. Seni: Alusi kepada Sesuatu


Lebih dari 2500 tahun yang lalu, Plato menghubungkan teater dengan filsafat, yang kemudian oleh Nietzsche, pengertian filsafat dilihat dalam konteks kelahiran tragedi.Yang menjadi pertanyaan adalah apa itu tragedi? Apa yang dilahirkan di dalam tragedi? Dalam mitologi Yunani, Dionisius dan Apollo adalah putera Zeus. Dionisius adalah simbol kekuatan insting, kesehatan mental. Dionisius adalah simbol kemanusiaan yang hidup menurut dorongan kodrati, dan selalu berkata ‘ya atas kehidupan.’ Sedangkan Apollo adalah simbol kekuatan imajinasi yang mencari keseimbangan dengan ukuran yang tepat.[4] Seni, bagi orang Yunani dibangun di atas semangat dionisius dan apollo, yaitu keberanian untuk berkata ‘ya atas kehidupan’ dan keseimbangan dalam ukuran yang tepat.


Ini adalah dua aspek esensial dalam hidup manusia. Kehidupan di kota dijalankan oleh siapa saja karena keberanian untuk berkata ‘ya atas kehidupan.’ Mungkin hal ini disebabkan karena orang tidak suka jatuh ke dalam ilusi? Hal yang menarik yaitu bahwa manusia sering menghadapi kenyataan hidupnya secara irasional, buta, membosankan, sakit dan destruktif, dan manusia ingin keluar dari situasi itu.


Seni adalah satu kemungkinan untuk membebaskan manusia dari situasi yang membosankan. Seni menawarkan jalan keluar dari kesakitan hidup. Seni bukan representasi. Seni adalah presentasi, karena seni bertujuan menghadirkan sesuatu yang baru.


Seni juga bukan sekedar foto kopi atau pengulangan yang tak bermakna. Secara radikal, seni menghancurkan realitas dengan tujuan untuk menemukan realitas baru yang lebih representatif. Seni menampilkan polisemi makna karena setiap ekspresi seni selalu mengandung lebih dari satu makna. Seni selalu tetap seni, namun hal yang menarik bahwa seni menghadirkan lebih dari satu makna di dalam dirinya. One word with many meanings.


Seni adalah kondensasi yang polifiguratif. Seni meleburkan banyak dimensi ke dalam satu dunia, namun dunia yang ditawarkan seni adalah dunia kaya makna. Ini menjadi alasan mengapa seni berbicara lewat metafora. Metafora seni adalah metafora banyak dimensi. Metafora itu mengundang kita untuk membuat konfigurasi dengan cara kembali ke realitas, mengamati segala situasi sebagai prefigurasi lalu mencipta untuk menemukan dunia baru. Dunia baru itu adalah dunia alusi. Tentu konfigurasi dalam dunia seni bersifat mimetik-kreatif, karena kerja adalah seni kerja kerja kreativitas untuk merekonstruski dunia baru.


Seringkali seniman tidak suka berbicara tentang karya seninya. Namun sebaliknya setiap karya selalu berbicara tentang penciptanya. Seni memiliki dunianya sendiri. Dunia seni adalah seni yang menjadi dunia tertentu. Kesunyian di dalam seni berbicara tentang suatu dunia. Lukisan berbicara tentang suatu dunia. Teater mengatakan sesuatu sebagai sesuatu yang tertentu.


Seniman itu sang penghancur. Ia mendeksontruksi dengan cara merekonstruksi. Seniman, lewat karya, berbicara tentang sesuatu. Ia berbicara sebagai alusi karena karya seni adalah alusi kepada sesuatu. Karya seni memiliki referensi kepada sesuatu, dan referensi itu membawa kita ke dunia yang lain.

5. Tugas Teater


Tugas teater adalah membuat konfigurasi dunia melalui suatu presentasi. Dunia yang dihadirkan teater adalah dunia yang dibayangi, dunia imajiner. Tentu, ini bukan imagined community, komunitas imajiner seperti yang dibayangkan Ben Anderson. Dunia imajiner dalam seni adalah dunia partikular dan dunia itu adalah rival dari dunia nyata ini.


Tugas teater mempresentasi dunia baru melalui banyak konfigurasi. Konfigurasi itu terjadi dalam permainan kreativitas untuk membentuk makna baru. Melalui teater, seniman menciptakan dunia lain sebagai antagonisme dunia nyata ini. Dunia adalah suatu pemberian dan tugas manusia adalah menemukan hal baru dari pemberian itu.


Melalui teater, kita menyadari banyak dunia manusia terbuka terhadap banyak kemungkinan. Boleh jadi, dewasa ini banya orang jenuh dengan cara-cara berpolitik, bosan dengan sistim demokrasi, tidak peduli dengan cara beriman, lalai dengan tatanan sosial. Semua sikap ini membuat orang lari ke dunia yang lain.


Teater, sebagaimana seni pada umumnya, menawarkan akses ke dunia baru. Seringkali akses itu terjadi melalui redeskripsi dan ironi. Seniman adalah seorang ironis. Ia sering mendatangkan polemik tentang kenyataan. Polemik itu, boleh jadi, adalah cara di mana sang seniman menawarkan pesan moral tertentu. Rousseau pernah menggambarkan teater sebagai tempat pengadilan moralitas karena teater membuka kedok kenyataan hidup yang sering dibungkus oleh realitas yang ambigu.


Lewat teater kita menemukan semacam a civic festival. Banyak orang berkumpul, dan mengekspresikan suatu kebersamaan yang kreatif. Siapa saja datang, melihat, mendengar, mengolah emosi, mengatur gestikulasi, dan mengunkapkan diri. Karena itu, teater selalu berbicara tentang a pure presence of a people assembling.[5]


Dewasa ini, banyak kelompok teater sering mendapat tantangan internal. Bagaimana mereka harus menghadirkan imaji tentang suatu dunia tanpa melalui suatu respresentasi. Teater menghadirkan imitasi kreatif dengan cara melampaui suatu representasi. Ada tensi antara ‘yang nyata’ dan ‘yang imaji’ atau tensi antara the real and form, the real and representation.[6]

6. Pandemik Corona: Teater Hidup?


Teater yang sesungguhnya adalah teater hidup. Teater hidup selalu memotret dari kehidupan. Festival yang paling besar di jaman sekarang adalah festival teatrikal. Misalnya situasi di mana semua orang diguncang oleh pandemik corona, orang digiring untuk menerka-nerka, meraba kesana kemari. Ada semacam sandiwara universal, suatu grand design yang dilihat seperti teater hidup. Orang menjadi ambigu dan terjebak ke dalam tragedi kehidupan.


Pertanyaannya, dalam situasi seperti ini, yaitu ketika semua manusia harus hidup seperti sandiwara, di mana batas antara yang riil dan yang imajiner tidak jelas, siapakah sutradara yang berada di belakang panggung pandemik? Siapakah yang menggerakkan para korban, pemerintah, dokter, para perawat, keamanan dan semua pihak untuk menjadi aktor di ruang publik?


Kita berbicara tentang teater, tetapi sebenarnya semua kita sedang bermain teater. Kita sedang berada di panggung dunia dengan seribu satu macam dekor yang alamiah dan yang artifisial. Di atas panggung ini, kita saksikan ekspresi emosi yang bermacam-macam, gestikulasi tubuh yang berbeda, raut muka yang bervariasi. Kita merasa apa yang dipikirkan orang, mendengar apa yang disampaikan, menjaga emosi dan menguasi tubuh, kita melihat dengan saksama semua kenyataan yang terjadi, kita menjaga memori dengan baik, menjaga jarak fisik. Kita memakai masker, mencuci tangan dengan gaya yang berbeda. Kita sepertinya sedang bermain teater di panggung dunia.


Ya, kita sebenarnya berbicara tentang teater dengan bermain teater. Kita bermain teater dalam ketidaksadaran kita. Ini adalah situasi kontemporer yang sedang menempatkan kita ke dalam suatu setting. Hal ini sedang terjadi di mana saja. Ada semacam diskursus umum, standar universal yang sedang mengatur kita secara signifikan dan orang mencari yang riil yang bisa menjawab persoalan hidupnya.


Pada masa Nietzsche, epos dan diskursus yang paling dominan adalah kristianitas termasuk seluruh moralitas, filsafat dan dogma kehidupannya. Ketika berkata ‘Allah telah mati’ sebenarnya yang Nietzsche maksudkan adalah kristianitas telah mati.


Pada masa sekarang, diskursus yang sedang menguasai ruang publik adalah pandemik covid-19. Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus kembali ke dunia nyata dan mencari yang imajiner dari kehidupan ini? Kita membutuhkan sikap kritis yang baik tentang segala kelemahan diskursus dan corak hidup kita di tengah dunia ini.

7. Teater: Seni Kemungkinan


Bagaimana teater itu memiliki daya tarik bagi semua orang? Saya teringat pernyataan Alain Badiou tentang daya tarik teater. Dunia teater adalah dunia pilihan dan pilihan itu tidak menentu. Teater hanya menghadirkan kemungkinan, dan kemungkinan itu memberi orientasi. Teater menempatkan spektator di hadapan hipotese dan sejumlah konsekuensi dari hipotese itu.


Teater tidak melayani dirinya dengan tujuan untuk memegahkan diri. Ini bukan preferensi teater. Teater tidak menyukai konvensi. Teater, seperti seni pada umumnya, sering memperlihatkan paradoks dan kontradiksi.


Teater adalah ‘seni dari suatu kemungkinan. An art of the possible. Kita perlu mengajarkan kaum bukan saja untuk melihat apa yang nyata, tetapi membaca apa yang mungkin., dan seni teater mengajarkan kemungkinan dari banyak yang mungkin.


Seorang aktor adalah seorang mediator dari banyak kemungkinan itu. Tugasnya adalah menunjukkan kepada kita dunia yang mungkin itu. Mari kita terus mengembangkan teater dan menjadikannya sebagai yang mungkin dari kemungkinan-kemungkinan lain.

[1] Marcel Hénaff, The City in the Making, London: Rowman and Littlefield,2016. [2] Augusto Boal, Games for Actors and non-Actors, London: Routledge, 2004, hal., 15. [3] Ibid. hal. 11-12, 15. [4] Giovanni Reale-Dario Antiseri, Storia della Filosofia, Dal Romanticismo ai Giorni Nostri, vol. 3., Brescia: Editrice Scuola, 1997, hal. 392 [5] Interwieved with Alain Badiou, by Quentin Margne of Inferno Magazine, Avignon, July 2012. [6] Ibid.

176 views

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

@2017 | Design by CH95 Website Design

VISITOR 

  • Facebook Social Icon
  • Google+ Social Icon
  • Twitter Social Icon