Featured Posts

Pesta Tahta Santo Petrus (22 Februari)

February 21, 2017

 

Kursi Santo Petrus (bahasa Latin: Cathedra Petri) yang juga dikenal sebagai Tahta Santo Petrus merupakan sebuah wadah relikui yang disimpan di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Wadah relikui hasil pahatan artis Benini tersebut merupakan kursi kayu yang menurut tradisi digunakan oleh Rasul Santo Petrus, pemimpin Gereja perdana di Roma dan secara resmi sebagai Paus pertama. Pada 2012, Paus Benediktus XVI menyebut kursi tersebut sebagai "sebuah lambang misi khusus Petrus dan suksesor-suksesornya untuk menaungi kawanan Kristus, menjaganya bersatu dalam kepercayaan dan kasih."

Pada tanggal 22 Februari, Gereja Katolik memperingati Pesta Tahta Santo Petrus. Pesta ini adalah penegasan terhadap otoritas yang diberikan Yesus kepada Petrus dan para penggantinya (paus) untuk memimpin Gereja di dunia ini. “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci kerajaan sorga. Apa yang kau ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kau lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga (Mat. 16:18-19).

          Maksud Pesta Tahta Santo Petrus adalah untuk menghormati Petrus sebagai wakil Kristus dan gembala tertinggi Gereja yang mempunyai kuasa rohani atas segenap anggota Gereja dan semua Gereja setempat. Dari tahta di Roma, Petrus dan para penggantinya (paus) memegang kunci dan mempertahankan persatuan Gereja dalam ajaran iman dan moral. Kuasa Petrus ini, yang lazim disebut Primat Petrus, diberikan langsung oleh Yesus sebelum kenaikan-Nya ke surga (Yoh. 21:15-19).

   

Peran Khusus Petrus

Bila merunut perikop-perikop biblis khususnya dalam Perjanjian Baru, tampak bahwa Petrus memiliki peran khusus. Teks tertua yang menyebut Petrus berasal dari Paulus (1 Kor. 15:3dst). Teks ini berbunyi, “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa kita… Bahwa ia telah dibangkitkan Allah pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, bahwa ia telah menampakkan diri kepada Kefas, dan kemudian kepada kedua belas murid”.

          Dalam teks ini, Pertus mendapat prioritas, ia disebut pada tempat pertama. Prioritas yang sama ini dapat disimpulkan juga dari teks Luk. 24:34, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan menampakkan diri kepada Simon”. Simon adalah saksi kebangkitan pertama. Kalau kita perhatikan betapa pentingnya penampakkan Tuhan untuk legitimasi seorang saksi iman akan Yesus Kristus, maka jelas bahwa prioritas dalam melihat Tuhan mengakibatkan suatu prioritas bagi Petrus sebagai saksi iman di antara jemaat perdana.

          Selain dua teks ini, beberapa teks lain dalam Kitab Suci menjadi tanda bahwa Petrus menduduki tempat pertama dalam kelompok kedua belas murid inti. Misalnya, semua teks yang mendaftar para rasul menyebut Petrus pada tempat pertama. Demikian pun jika Kitab Suci menyebut ketiga rasul yang paling akrab dengan Yesus, Petrus disebut pada tempat pertama sebelum Yakobus dan Yohanes. Petrus juga selalu berfungsi sebagai juru bicara para rasul, dan bila pihak luar ingin berhubungan dengan kelompok para rasul, seperti di dalam kasus para pemungut bea bait Allah, Petrus yang dihubungi.

          Simon juga satu-satunya murid yang namanya diubah oleh Yesus. Dalam Kitab Suci pemberian nama baru macam ini hanya terjadi pada tiga orang, yakni perubahan nama Abram menjadi Abraham (Kej.17:5), Sarai menjadi Sara (Kej.17:5) dan Yakob menjadi Israel (Kej. 32:28). Setiap kali perubahan nama itu, suatu janji menyangkut umat Allah dan dasarnya di sampaikan. Perubahan nama Simon menjadi Petrus dimengerti dalam konteks ini. Perubahan ini dibuat Allah karena Petrus dipilih menjadi dasar umat Allah yang baru.

          Salah satu teks yang selalu dikutip berkenaan dengan ini adalah Mat.16:13-19. Di dalam teks ini Yesus menjanjikan kepada Simon bahwa berdasarkan imannya yang ditanam Allah sendiri ia bakal menjadi dasar yang kuat. Dasar itu bisa dianggap sebagai wadas di atasnya umat Kristus bisa didirikan. Simon sekaligus menjadi pengurus rumah di dalam kerajaan Allah dan pemegang kuncinya. Ini berarti Simon mempunyai otoritas rohani yang diakui dengan sungguh oleh Allah di surga.

          Kepemimpinan rohani yang sama diserahkan Yesus kepada Petrus menurut Injil Yohanes dan Lukas. Dalam Yoh. 21 dikatakan bahwa Yesus mengangkat Petrus menjadi gembala atas kawanan-Nya. Dasar dari kekuatan Petrus sehingga ia bisa bertahan dalam tugasnya adalah doa Yesus. Di dalam Luk. 22:31-32, kita menemukan bahwa Yesus mendoakan Petrus agar imannya jangan menjadi lemah di bawah serangan musuh. Dengan kekuatan ini Petrus, setelah bertobat, mampu menguatkan saudara-saudaranya sehingga mereka menjadi kuat juga.

          Selain injil Matius, Yohanes dan Lukas, Kisah Para Rasul juga memberitakan peran khusus Petrus. Petrus dilihat sebagai pemimpin dan juru bicara. Ia menjadi pemimpin kedua belas murid di Yerusalem dan semua inisiatif yang penting untuk pekembangan umat mengalir dari Petrus.

          Meskipun demikian, kita tidak boleh memandang peran Petrus ini secara terpisah tanpa hubungan dengan para rasul dan umat lainnya. Kita mesti memperhatikan prinsip berikut yang bisa kita amati dalam Perjanjian Baru: apa yang diberikan kepada Petrus secara pribadi dan pada tempat pertama, kemudian diberikan juga kepada semua rasul dan sering juga kepada seluruh umat. Tidak ada satu milik eksklusif Petrus, tetapi selalu ada satu kemungkinan representasi. Para rasul bisa berfungsi sebagai representan Gereja dan Petrus bisa berfungsi sebagai representan para rasul. [disalin dari Georg Kirchberger, “Allah Menggugat. Sebuah Dogmatik Kristiani (Maumere: Ledalero, 2007), hlm. 582-584]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis :

Frater Kristo Suhardi, SVD

Please reload

Pewarta yang Setia

April 26, 2019

1/10
Please reload

Recent Posts

April 26, 2019

Please reload

Archive