“Abadon” oleh Aletheia Ledalero Angkat Pergulatan Iman di Tengah Kekerasan Sosial
- 16 hours ago
- 2 min read

Halaman depan Kapela Agung Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Selasa (31/3/2026) malam, menjelma menjadi ruang refleksi yang hening sekaligus menggugah.
Pementasan teater bertajuk Abadon, yang dimulai pukul 20.15 WITA, menyedot perhatian anggota komunitas seminari.
Anggota komunitas tidak sekadar hadir sebagai penonton. Mereka seperti diajak masuk ke dalam pusaran pergulatan batin yang disajikan di atas panggung sederhana, tanpa jarak yang kaku antara pertunjukan dan pengalaman personal.
Pementasan yang digarap Teater Aletheia ini menampilkan naskah karya Mariano Payong, di bawah arahan sutradara Dangker, Rian, dan Mario.
Melalui empat adegan, Abadon mencoba membaca ulang realitas penderitaan manusia dalam terang iman, terutama dalam konteks menjelang Pekan Suci.
Adegan pembuka menghadirkan simbol “Rabu Trewa dan Rabu Abu”. Dentang seng yang dipukul keras memecah keheningan, menciptakan kesan dunia yang bising oleh ambisi, kekerasan, dan konflik.
Di saat yang sama, abu ditebarkan, sebuah tanda rapuhnya manusia sekaligus panggilan untuk kembali dan bertobat.
Kontras terasa kuat pada adegan kedua. Ritus perjamuan dipelintir menjadi “Perjamuan Malam Human Trafficking”.
Tiga tokoh laki-laki tampil sebagai pelaku perdagangan orang yang justru merayakan hasil kejahatan mereka. Panggung berubah menjadi cermin realitas sosial, ketika manusia direduksi menjadi komoditas.
Ketegangan memuncak saat konflik berkembang menjadi pengkhianatan. Salah satu tokoh direncanakan untuk dibunuh oleh rekannya sendiri.
Narasi ini mengingatkan pada kisah Yudas, tetapi dihadirkan dalam konteks yang lebih aktual, yakni praktik perdagangan manusia yang masih berlangsung.
Memasuki adegan ketiga, tempo pertunjukan melambat. Tiga perempuan hadir untuk membersihkan sisa kekacauan. Namun, tindakan itu perlahan berubah menjadi ruang dialog batin.
Percakapan mereka memuat kegelisahan iman tentang keadilan Tuhan, penderitaan yang seolah tak berujung, dan harapan yang kian menipis.
Adegan ini mencapai intensitasnya dalam ratapan berbahasa Nagi yang dilantunkan perlahan. Ratapan tersebut bukan sekadar elemen artistik, melainkan representasi suara mereka yang kerap tak terdengar, para korban yang “disalibkan” oleh keadaan.
Pertunjukan ditutup dengan monolog seorang pastor yang menyerukan pembebasan. Setelah rangkaian kegelapan yang ditampilkan, bagian ini menjadi semacam titik terang.
Seruan itu tidak menghapus luka, tetapi memberi arah bahwa di tengah penderitaan, selalu terbuka kemungkinan untuk bangkit.
Seluruh aktor, Veren, Sela, Ketrin, Elin, Nanda, Melan, Chia, Vindi, Kety, Helda, Satria, Bombang, Rede, Geri, Chiko, Tito, dan Tian, menampilkan penghayatan yang kuat.
Minimnya properti dan tata panggung tidak mengurangi daya gugah pertunjukan. Sebaliknya, kesederhanaan justru mempertegas pesan yang dihadirkan.
Bagi penonton, pementasan ini menjadi bagian dari proses refleksi bersama. Ketua Fratres Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Frater Loys Adiman, SVD, menilai teater tersebut sebagai bentuk pewartaan yang kontekstual.
“Pementasan ini membantu melihat bahwa sengsara Kristus bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi terus hadir dalam realitas hari ini, terutama dalam pengalaman mereka yang tertindas,” ujarnya.
Ia menambahkan, karya semacam ini penting dalam proses formasi calon imam.
“Dari sini tumbuh kesadaran bahwa panggilan tidak dapat dilepaskan dari kepekaan terhadap penderitaan manusia. Teater ini mengajak untuk tidak tinggal diam, melainkan berani terlibat,” katanya.*
*Sie Berita Ledalero




Comments