Hari Raya Pentakosta, Umat Diajak Hidup dalam Roh Kudus
- 1 hour ago
- 2 min read

Perayaan Hari Raya Pentakosta berlangsung khidmat di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Minggu (24/05/2026).
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Vande Raring, SVD. Koor dibawakan oleh Unit Arnoldus Janssen, sedangkan ajuda ditanggung oleh Unit Yosef Freinademetz.
Dalam kata pengantar misa, Pater Vande mengajak umat untuk menyadari keterbatasan manusia dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Menurutnya, manusia sering merasa gelisah, khawatir, dan tertekan ketika berhadapan dengan tantangan hidup sehari-hari. Karena itu, manusia tidak dapat hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.
“Marilah kita membuka hati untuk menerima curahan Roh Kudus. Roh Kudus adalah sumber kekuatan dan sukacita yang membaharui hidup kita,” kata Pater Vande.
Ia juga berharap agar Roh Kudus memenuhi hati umat dengan damai, keberanian, dan pengharapan dalam menjalani tugas dan panggilan hidup masing-masing.
Sementara dalam homilinya, Pater Vande menegaskan bahwa Pentakosta bukan sekadar peristiwa sejarah tentang turunnya Roh Kudus atas para rasul.
Pentakosta, katanya, terus hidup dalam Gereja dan dalam kehidupan setiap orang beriman.
“Setiap kali kita membuka hati kepada karya Roh Kudus, Pentakosta menjadi nyata kembali dalam hidup kita,” ujarnya.
Menurut Pater Vande, dunia saat ini sedang menghadapi banyak persoalan, seperti kekerasan, polarisasi, egoisme, dan kekeringan rohani.
Dalam situasi seperti itu, Gereja membutuhkan pembaruan melalui karya Roh Kudus.
Ia mengingatkan bahwa Roh Kudus tidak bekerja dalam sikap malas, egois, atau acuh tak acuh terhadap sesama.
Sebaliknya, Roh Kudus menggerakkan manusia untuk hidup dalam kasih, tanggung jawab, dan semangat pelayanan.
“Kalau hidup kita dipenuhi kemalasan, sikap acuh tak acuh, dan egoisme, itu bukan karya Roh Kudus,” tegasnya.
Dalam homili tersebut, Pater Vande juga menyinggung spiritualitas Kongregasi SVD dan SSpS yang didirikan oleh Santo Arnold Janssen.
Ia menjelaskan bahwa dalam spiritualitas SVD, Roh Kudus dipahami sebagai Roh Misi yang menggerakkan pewartaan Injil ke berbagai tempat dan budaya.
Karena itu, para misionaris SVD dipanggil untuk terbuka terhadap sesama, membangun dialog, dan menghadirkan persaudaraan di tengah masyarakat.
“Para misionaris percaya bahwa Roh Kuduslah yang membuka jalan pewartaan dan menggerakkan hati manusia,” katanya.
Sementara itu, dalam spiritualitas SSpS, Roh Kudus dipahami sebagai Roh Pengudus dan Roh Kasih.
Oleh sebab itu, kehidupan doa dan adorasi menjadi sumber kekuatan dalam pelayanan para suster SSpS.
Pater Vande juga membagikan kisah tentang seorang misionaris yang melayani seorang Muslim yang sakit parah dengan penuh kasih tanpa mempersoalkan perbedaan agama.
Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan bahwa karya misi sejati lahir dari hati yang digerakkan oleh Roh Kudus.
“Pelayanan yang lahir dari Roh Kudus selalu menghadirkan kasih dan pengharapan,” ujarnya.
Menjelang akhir homili, Pater Vande kembali mengajak umat untuk terus membuka diri terhadap karya Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa doa dan pelayanan harus berjalan bersama.
“Pewartaan membutuhkan doa, dan doa harus melahirkan pelayanan,” katanya.*
*Fr. Febry, SVD.




Comments