top of page

Tahbiskan 18 Diakon SVD, Uskup Agung Kupang: Jadilah Pelayan yang Mengasihi dan Mempersatukan

  • 8 hours ago
  • 4 min read

Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, saat memimpin Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon 18 Frater SVD di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.
Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, saat memimpin Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon 18 Frater SVD di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.

Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menahbiskan 18 frater Serikat Sabda Allah (SVD) menjadi diakon dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Tritunggal Mahakudus di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Minggu (31/5/2026).


Dalam homili dan sambutannya, Uskup Hironimus mengingatkan para diakon baru agar membangun pelayanan yang berakar pada kasih Allah, dekat dengan umat, serta siap diutus ke mana pun Gereja membutuhkan.


Perayaan yang berlangsung khidmat itu dihadiri para imam, biarawan-biarawati, keluarga para diakon, dan umat yang memenuhi Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.


Delapan Belas Diakon Baru SVD


Delapan belas diakon baru SVD berfoto bersama Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, seusai Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.
Delapan belas diakon baru SVD berfoto bersama Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, seusai Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakon di Kapela Agung Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero.

Adapun 18 diakon yang ditahbiskan dalam perayaan tersebut adalah Diakon Paulus Barekama Tukan, SVD; Diakon Salestinus Daga, SVD; Diakon Fransiskus Carli Ka'u, SVD; Diakon Yohanes Rudin, SVD; Diakon Hausufa Clitus Marselinus, SVD; Diakon Febronius Meni Subun, SVD; Diakon Simon Sina Kelen, SVD; Diakon Sabinus Bake Lado, SVD; Diakon Adrianus Tap, SVD; Diakon Wilfridus Oki, SVD; Diakon Beatus Didimus Gowing Moron, SVD; Diakon Donatus Iwad Mara, SVD; Diakon Rikardus Diku Da, SVD; Diakon Petrus Marianus G. Sogen, SVD; Diakon Kanisius Bauk, SVD; Diakon Yulianus Bertin Japa, SVD; Diakon Petrus Sandiawan Denatalis, SVD; dan Diakon Yosef Mario Ambasan, SVD.


Allah Tritunggal, Dasar Pelayanan Gereja


Dalam homilinya, Uskup Hironimus mengajak umat untuk memaknai Hari Raya Tritunggal Mahakudus sebagai perayaan kasih Allah yang hidup dalam relasi. Menurutnya, Allah bukan pribadi yang tertutup dalam diri-Nya sendiri, melainkan Allah yang terus mencurahkan kasih-Nya kepada dunia.


“Allah menciptakan dunia untuk mencurahkan kasih-Nya. Ia memilih umat-Nya agar menjadi berkat bagi semua bangsa dan membentuk satu keluarga besar umat manusia,” katanya.


Menurut Uskup Hironimus, dari misteri Tritunggal lahirlah pemahaman yang benar tentang manusia. Jika Allah adalah persekutuan kasih, maka manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah juga dipanggil untuk hidup dalam relasi, dialog, dan persaudaraan.


Karena itu, semua manusia adalah saudara dan saudari. Persaudaraan sejati tidak dibatasi oleh perbedaan budaya, bahasa, maupun bangsa.


Pelayanan Berakar pada Belas Kasih Allah


Secara khusus kepada para diakon yang akan ditahbiskan, Uskup Hironimus menegaskan bahwa pelayanan tidak boleh berangkat dari ambisi pribadi atau rasa superioritas.


“Pelayanan kalian dimulai bukan dari kekuasaan, kemampuan, kehebatan, atau prestasi pribadi, melainkan dari kasih dan belas kasih Allah,” tegasnya.


Ia mengingatkan bahwa Gereja tidak menahbiskan orang-orang yang sempurna. Gereja menahbiskan mereka yang telah mengalami kasih dan kesabaran Allah serta bersedia menjadi pelayan belas kasih itu bagi sesama.


Menurutnya, banyak orang saat ini memikul beban hidup yang tidak terlihat. Ada keluarga yang terluka, orang-orang yang kesepian, kehilangan harapan, dan mengalami kelelahan rohani. Dalam situasi seperti itu, seorang diakon dipanggil untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh belas kasih.


“Mereka sering kali tidak membutuhkan banyak nasihat. Yang mereka butuhkan adalah kehadiran seorang pelayan yang mau mendengarkan, mendampingi, dan mengasihi mereka dalam nama Kristus,” ujarnya.


Belajar dari Yesus, Bapa, dan Roh Kudus


Uskup Hironimus juga mengajak para diakon baru untuk merenungkan tiga anugerah besar yang terkandung dalam salam Santo Paulus kepada jemaat di Korintus: kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, cinta kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus.


Dari Yesus Kristus, para diakon diajak belajar kerendahan hati dan semangat melayani.

“Kristus datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Stola yang kalian kenakan harus selalu mengingatkan bahwa pelayanan kalian menyerupai handuk yang dipakai Yesus ketika membasuh kaki para murid-Nya,” katanya.


Dari Allah Bapa, mereka diajak belajar kasih yang setia dan murah hati. Sedangkan dari Roh Kudus, mereka belajar membangun persekutuan di tengah dunia yang sering dilanda perpecahan.

“Kata-kata kalian harus menyembuhkan. Pelayanan kalian harus mempersatukan orang di sekitar Kristus dan Gereja-Nya,” tegasnya.


Dekat dengan Umat dan Mereka yang Terluka


Dalam bagian lain homilinya, Uskup Hironimus mengingatkan bahwa pelayanan diakon tidak boleh berhenti di sekitar altar. Pelayanan harus menjangkau kehidupan nyata umat.


“Seorang diakon harus memiliki aroma umat yang dilayaninya: aroma rumah sakit, aroma kota dan desa, aroma penjara, ruang kelas, kantor paroki, dan rumah-rumah tempat keluarga berjuang untuk tetap setia,” katanya.


Ia menegaskan bahwa seorang diakon harus hadir di tengah kaum miskin, mereka yang tersingkir, dan orang-orang yang membutuhkan penghiburan serta harapan.


Pelayanan Gereja, menurutnya, harus menjangkau pasar, jalan-jalan, kawasan pinggiran, dan tempat-tempat di mana manusia mengalami luka dan pergumulan hidup.


Siap Diutus ke Mana Saja


Pada akhir perayaan, Uskup Hironimus kembali menekankan pentingnya semangat misioner dalam hidup para diakon baru. Ia meminta mereka tetap setia pada doa dan menjaga kedekatan dengan Kristus.


“Pelayanan tanpa doa akan menjadi hambar dan bahkan hampa. Sebaliknya, pelayanan yang lahir dari persatuan dengan Tuhan akan menghasilkan buah yang berlimpah,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan bahwa seorang misionaris harus siap diutus ke mana saja, bahkan ke tempat-tempat yang sulit.


Dengan nada ringan, ia menyinggung kenyataan bahwa banyak tempat pelayanan berada jauh dari berbagai fasilitas.


“Ada yang berpikir, ‘Di sana tidak ada sinyal.’ Tetapi saya yakin para diakon yang baru ditahbiskan ini siap ditempatkan di mana saja, ada sinyal ataupun tidak ada sinyal,” katanya yang disambut senyum umat.


Dalam sambutannya, Uskup Hironimus juga menyampaikan terima kasih kepada para orang tua, keluarga, para formator, dosen, pembimbing rohani, dan seluruh komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero yang telah mendampingi proses pembinaan para calon diakon.


Ia mengaku memiliki kedekatan khusus dengan Ledalero karena pernah menjalani masa pendidikan di tempat tersebut.


“Saya belajar di sini dari tahun 1989 sampai tahun 1997. Kami adalah angkatan terakhir dari Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Atambua, dan Keuskupan Weetebula yang menjalani pendidikan di sini sebagai calon imam diosesan,” kenangnya.


Provinsial SVD: Kalian Adalah Pelayan Sabda


Provinsial SVD Ende, Pater Emanuel Embu, SVD, saat menyampaikan sambutan.
Provinsial SVD Ende, Pater Emanuel Embu, SVD, saat menyampaikan sambutan.

Sementara itu, Provinsial SVD Ende, , mengingatkan para diakon baru agar tetap berakar pada Sabda Allah sebagai sumber kehidupan dan misi.


Menurutnya, tahbisan diakon merupakan pengukuhan sakramental bahwa hidup dan karya para diakon dibaktikan bagi pelayanan Sabda Allah dan misi Gereja.


“Kalian bukanlah Sabda dan bukan pula pemilik Sabda. Kalian adalah pelayan Sabda,” tegasnya.


Ia menekankan pentingnya kehidupan doa, Ekaristi, keheningan pribadi, dan kesetiaan membaca Kitab Suci sebagai fondasi hidup seorang misionaris SVD.*


*Fr. Febry Suryanto, SVD.



 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page