top of page

Bedah Buku Pencuri Pisang: Suara Profetis tentang Kemiskinan dan Makna yang Diperdebatkan

  • 2 minutes ago
  • 4 min read

Sampul buku Pencuri Pisang, antologi cerpen dan puisi Komunitas Sandal Jepit, karya para frater Unit Arnoldus Janssen bersama sejumlah kolega, yang dibedah dalam kegiatan literasi pada 25 Februari 2026.
Sampul buku Pencuri Pisang, antologi cerpen dan puisi Komunitas Sandal Jepit, karya para frater Unit Arnoldus Janssen bersama sejumlah kolega, yang dibedah dalam kegiatan literasi pada 25 Februari 2026.

“Suara Kami Sederhana Saja”


“Lebih baik menulis daripada berbuat dosa,” demikian sabda Pater Fredy Sebho, SVD.


Bedah Buku di Komunitas Sandal Jepit


Pada 25 Februari 2026, Komunitas Sandal Jepit, Nitapleat, menggelar bedah buku berjudul Pencuri Pisang yang berlangsung di ruang makan Wisma St. Arnoldus Janssen. Kegiatan ini menghadirkan Pater Ve Nahak, SVD, dan Fr. Soni Kelen (Sonkel), SVD, sebagai narasumber, sementara jalannya diskusi dipandu oleh Fr. Randi Laja, SVD, yang bertindak sebagai moderator.


Suasana bedah buku Pencuri Pisang di Wisma St. Arnoldus Janssen. Tampak Pater Ve Nahak, SVD (pemateri), Fr. Soni Kelen, SVD (pemateri), dan Fr. Randi Laja, SVD (moderator) memandu jalannya diskusi.
Suasana bedah buku Pencuri Pisang di Wisma St. Arnoldus Janssen. Tampak Pater Ve Nahak, SVD (pemateri), Fr. Soni Kelen, SVD (pemateri), dan Fr. Randi Laja, SVD (moderator) memandu jalannya diskusi.

Buku Pencuri Pisang merupakan antologi puisi dan cerpen karya para frater Unit Arnoldus Janssen bersama beberapa kolega lainnya. Seluruh tulisan yang termuat di dalamnya telah melalui proses kurasi panjang dan seleksi ketat oleh para kurator. Dari ratusan puisi dan cerpen yang terkumpul, akhirnya terpilih 70 puisi dan 7 cerpen untuk diterbitkan.


Tragedi Nong Tinus dan Tafsir Sosial


Menurut Pater Ve Nahak, SVD, cerpen Pencuri Pisang mengisahkan tragedi yang dialami Nong Tinus saat berjuang mendapatkan pisang bagi bayinya yang kelaparan. Upaya tersebut justru berakhir tragis. Nong Tinus tewas ditebas parang oleh sahabatnya sendiri, tokoh “Aku” dalam cerita.


Kematian Tinus kemudian berlanjut menjadi tragedi berantai ketika sang pelaku memilih mengakhiri hidupnya. Dua kematian itu, dalam kisah, ditafsirkan oleh tua adat sebagai kutukan leluhur, ditandai dengan pisang-pisang yang isinya menghitam seperti darah kotor.


Bagi Pater Ve, cerpen ini mengandung makna polisemik. Ia tidak layak ditafsirkan secara tunggal hanya dari sudut pandang moral, sekadar menilai tindakan tokoh “Aku” sebagai baik atau buruk. Peristiwa dalam cerita perlu dipahami sebagai konsekuensi dari tatanan nilai dan struktur sosial yang melingkupinya.


Dalam kerangka itulah, cerpen ini memuat makna tentang tragedi kemiskinan dan keputusasaan yang mendorong manusia bertindak di luar nalar. Tindakan Nong Tinus mencuri bukan semata-mata karena kejahatan, melainkan karena keadaan yang melandanya. Kemiskinan yang menekan kehidupannya membuat ia berada dalam situasi serba salah.


Tindakan “mencuri” di sini dapat dimaknai sebagai upaya mempertahankan hidup, naluri seorang ayah yang hendak menyelamatkan bayinya dari kelaparan. Situasi Nong Tinus ibarat makan buah simalakama: mencuri salah, tidak mencuri anaknya terancam mati. Dalam posisi itu, keputusannya tampak rasional, meski tetap keliru secara moral dan hukum.


Namun, keputusan rasional yang lahir dari cinta justru berujung pada kematian dan menyeret sahabatnya sendiri ke dalam lingkaran tragedi. Di sinilah ironi kehidupan muncul. Kemiskinan dan tekanan sosial mampu meruntuhkan nilai persahabatan, kemanusiaan, bahkan akal sehat.


Selain itu, cerpen ini juga memuat kritik terhadap cara pandang masyarakat dalam memaknai musibah. Kematian Nong Tinus dan bunuh diri tokoh “Aku” ditafsirkan sebagai kutukan leluhur. Tafsir tersebut menggambarkan kecenderungan melihat tragedi sebagai takdir mistis, alih-alih menelusuri akar persoalan seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan rasa bersalah manusia. Karena itu, cerpen ini memuat makna sosial dan simbolik tentang penderitaan, rasa bersalah, serta benturan antara realitas dan kepercayaan tradisional.


Diskusi dan Ragam Tafsir


Dalam sesi diskusi yang berlangsung setelah pemaparan utama, para narasumber menghadirkan pembacaan yang beragam atas puisi dan cerpen Pencuri Pisang. Diskusi di ruang makan itu memperlihatkan bagaimana satu karya sastra dapat melahirkan tafsir yang variatif dan saling berkelindan.


Fr. Afri Juang, SVD, menilai Pencuri Pisang sebagai bentuk perlawanan simbolis terhadap kekuasaan negara yang tidak berpihak pada rakyat. Menurutnya, baik puisi maupun cerpen dalam buku tersebut menghadirkan suara profetis terhadap sistem yang menindas. Namun, ia juga menyoroti persoalan makna yang terkandung dalam tulisan-tulisan itu.


Peserta bedah buku Pencuri Pisang mengikuti jalannya diskusi dengan penuh perhatian di Wisma St. Arnoldus Janssen.
Peserta bedah buku Pencuri Pisang mengikuti jalannya diskusi dengan penuh perhatian di Wisma St. Arnoldus Janssen.

“Makna terasa problematis dan polisemik: di satu sisi tampak sebagai emansipasi, tetapi di sisi lain menjadi konstruksi diskursif yang membingkai, bahkan membatasi tafsir,” ujarnya.


Sementara itu, Fr. Fian Sangguk, SVD, menawarkan pembacaan berbeda. Ia melihat makna dalam cerpen dan puisi Pencuri Pisang justru muncul setelah kematian Nong Tinus dan bunuh diri tokoh “Aku.”


Dalam tafsirnya, tragedi kemiskinan yang nyata kemudian dibungkus sebagai kutukan leluhur, ditandai pisang yang menghitam. Tafsir tersebut hadir belakangan, seolah memberi penjelasan, tetapi sekaligus menutup kemungkinan untuk melihat akar persoalan yang sesungguhnya: kemiskinan, kelaparan, dan ketidakadilan sosial. Di sini, makna bekerja secara diskursif, bukan membebaskan, melainkan membungkus tragedi dengan mitos.


Karena itu, Fr. Fian menegaskan bahwa seperti puisi, makna tidak seharusnya hadir hanya sebagai respons setelah tragedi. Ia tidak cukup menjadi “obat” setelah luka terjadi. Makna dalam puisi perlu hadir lebih awal, seperti “payung sebelum hujan”: menyadarkan, mengantisipasi, dan membuka kesadaran kritis sebelum kematian dan penderitaan diterima sebagai takdir.


Dengan demikian, puisi dan cerpen tidak hanya menafsirkan tragedi, tetapi juga berpotensi mencegahnya melalui daya emansipatoris yang hidup dalam kesadaran pembaca.


Fr. Fian pun mempertanyakan, apakah sesuatu masih layak disebut “makna” jika ia baru hadir setelah tragedi terjadi? Haruskah puisi dan cerpen selalu lahir sebagai penghibur setelah luka? Mungkin, menurutnya, sastra tidak sekadar menjadi obat ketika sakit datang, melainkan seperti payung yang telah tersedia sebelum hujan turun.


Dinamika dan Ketegangan Intelektual


Perbedaan pandangan antara kedua frater, yang adalah calon imam SVD, membuat diskusi bedah buku berlangsung hangat dan sempat menimbulkan ketegangan intelektual. Namun, dinamika itu justru menegaskan bahwa karya sastra tidak pernah berdiri dalam satu tafsir tunggal. Ia selalu terbuka terhadap pembacaan yang kritis, reflektif, dan kontekstual.*


*Oleh: Fr. Vano Jemadin, SVD.

 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page