Dalam Ibadat Jumat Agung di Ledalero, Umat Diajak Menghayati Kasih dan Pengorbanan Kristus
- 10 minutes ago
- 2 min read

Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur, melaksanakan rangkaian ibadat Jumat Agung pada Jumat (3/4/2026) dalam suasana khidmat dan penuh penghayatan. Kegiatan diawali dengan jalan salib pada pagi hari, dilanjutkan dengan ibadat sengsara Tuhan pada sore hari.
Jalan salib dimulai pukul 09.00 WITA dengan rute dari Pendopo Timur menuju pelataran Kapela Agung. Meskipun cuaca cukup terik sejak pagi, para frater dan umat yang hadir tetap mengikuti seluruh perhentian dengan tertib. Sepanjang perjalanan, peserta merenungkan kisah sengsara Yesus Kristus menuju Golgota.
Setelah itu, umat kembali berkumpul pada pukul 15.00 WITA di Kapela Agung untuk mengikuti ibadat Jumat Agung. Umat yang hadir tidak hanya berasal dari lingkungan seminari, tetapi juga dari wilayah sekitar Ledalero dan Kota Maumere.
Ibadat dipimpin oleh Rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, Pater Yosef Keladu, SVD, didampingi Pater Kris Ibu, SVD. Seluruh rangkaian ibadat berlangsung dengan tertib dan diikuti umat dalam suasana hening.
Dalam homilinya, Pater Kris Ibu mengajak umat untuk merenungkan makna penderitaan dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Ia menekankan bahwa kematian Yesus merupakan wujud ketaatan kepada Allah Bapa sekaligus ungkapan kasih-Nya bagi manusia.
“Tangan Yesus yang terbuka di kayu salib menjadi tanda bahwa Ia merangkul manusia dalam segala pergumulan hidupnya,” ujarnya.
Menurutnya, peristiwa salib menunjukkan bahwa Tuhan tidak meninggalkan manusia dalam penderitaan, tetapi hadir dan menyertai setiap perjalanan hidup.
Suasana ibadat berlangsung penuh penghayatan. Doa-doa yang dipanjatkan umat menciptakan suasana reflektif, terutama saat penghormatan salib yang menjadi bagian utama liturgi Jumat Agung.
Rangkaian jalan salib dan ibadat Jumat Agung ini menjadi bagian penting dalam kehidupan iman komunitas seminari. Selain sebagai perayaan liturgi, kegiatan ini juga menjadi sarana pembinaan bagi para frater untuk semakin memahami makna pengorbanan dan pelayanan.
Melalui perayaan ini, umat diajak untuk meneladani kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan.*
*Fr. Adelbertoo W. Boko, SVD




Comments