top of page

Dari Doa ke Perutusan: Triduum Hari Ketiga Menyongsong Pesta St. Yosef Freinademetz


Suasana Triduum Hari Ketiga menyongsong Pesta St. Yosef Freinademetz.
Suasana Triduum Hari Ketiga menyongsong Pesta St. Yosef Freinademetz.

Rangkaian triduum menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero ditutup pada hari ketiga dengan suasana doa yang khidmat, Rabu (28/1). Triduum hari ketiga dipimpin oleh Frater Jekly Begu, SVD.


Dalam kata pengantarnya, ia mengajak komunitas mengenang Santo Yosef Freinademetz sebagai pribadi yang hidupnya sepenuhnya diabdikan bagi Injil dan perutusan Gereja. Freinademetz dipandang sebagai misionaris sulung Serikat Sabda Allah yang kesetiaannya menjadi rujukan bagi hidup dan panggilan misioner hingga hari ini.


“Ia bukan hanya misionaris pertama SVD, tetapi murid Kristus yang membiarkan Injil membentuk seluruh hidupnya,” ujar Frater Jekly.


Dalam renungan, Frater Jekly menyoroti panggilan Yesus untuk menyangkal diri dan memikul salib sebagai inti hidup kristiani. Tema ini dikaitkan dengan perjalanan hidup Yosef Freinademetz yang berani meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, dan kenyamanan demi panggilan misi.


Ia mengingatkan bahwa keputusan Freinademetz untuk berangkat ke Cina bukanlah langkah yang menjanjikan kepastian manusiawi. “Ia berkata ya pada sebuah perjalanan yang tidak menjanjikan apa pun selain ketidakpastian,” katanya.


Di tanah misi, Freinademetz menghadapi berbagai kesulitan: perbedaan budaya, bahasa, penolakan, dan penderitaan. Namun ia memilih untuk tinggal, belajar, dan berjalan bersama umat. Dalam proses itu, ia tidak menempatkan dirinya sebagai orang luar, melainkan membiarkan hidupnya dibentuk oleh konteks perutusan.


“Ia tidak membawa Injil sebagai sesuatu yang asing, tetapi membiarkan Injil berakar dalam kehidupan umat,” lanjut Frater Jekly.


Kesetiaan Freinademetz juga tampak dalam cara ia memaknai keberhasilan misi. Ia tidak mengukurnya dari jumlah atau pengakuan, melainkan dari ketekunan untuk hadir dan melayani. Hingga akhir hidupnya, ia tetap setia mendampingi umat, bahkan ketika kesehatannya sendiri terancam.


Melalui triduum hari ketiga ini, komunitas Ledalero diajak untuk kembali menimbang makna panggilan misioner di tengah tantangan zaman. Hidup Santo Yosef Freinademetz dihadirkan sebagai teladan kesetiaan, pengabdian, dan keberanian untuk memberikan diri secara total dalam perutusan Gereja.


Rangkaian triduum ini menjadi bagian dari persiapan rohani menyongsong Pesta Santo Yosef Freinademetz pada 29 Januari sekaligus momentum pembaruan semangat misi bagi komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.*


*Fr. Febry Suryanto, SVD.


 
 
 

Comments


VISITOR 

Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero

average rating is 3 out of 5, based on 150 votes, Penilaian produk
bottom of page