Menjadi Misionaris dari Padang Gurun: Rekoleksi Prapaskah di Seminari Tinggi Ledalero
- 2 days ago
- 2 min read

Bersamaan dengan hembusan angin senja pada Sabtu, 21 Februari 2026, Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero kembali memasuki masa refleksi melalui kegiatan rekoleksi Prapaskah yang berlangsung di Kapela Agung seminari. Kegiatan ini menjadi bagian dari agenda pembinaan rohani tahunan yang bertujuan menyiapkan para frater menghayati masa tobat sebagai jalan pembaruan panggilan dan perutusan.
Rekoleksi dibawakan oleh Pater Kalix Lega, SVD, konfrater senior yang saat ini tinggal di Biara Simeon Ledalero. Dengan gaya penyampaian yang hangat, komunikatif, dan diselingi humor, ia mengajak para peserta mendalami tema: “Sebuah Padang Gurun Yohanes dan Pertobatan Israel.” Tema tersebut dikontekstualisasikan dalam perjalanan panggilan sebagai anggota Serikat Sabda Allah (SVD), khususnya dalam kehidupan komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero.
Dalam pemaparannya, Pater Kalix menguraikan tiga esensi dasar makna “padang gurun”. Pertama, rumah formasi sebagai ruang pembentukan yang integral, tempat para frater dibimbing untuk memahami esensi hidup sebagai calon imam dan religius misionaris, terutama dalam kesadaran akan tugas dan tanggung jawab perutusan. Kedua, panggilan untuk menghayati hidup sederhana tanpa keluhan, serta komitmen untuk mewartakan Injil Kristus dengan keberanian dan kesetiaan. Ketiga, kepekaan terhadap dinamika sosial, termasuk realitas ketidakadilan dan ketimpangan yang terjadi di tengah masyarakat, sebagai bagian dari tanggung jawab profetis seorang misionaris.
“Inilah pilar yang harus kita tekankan selama masa pertobatan tahun ini, agar keberadaan kita sungguh menjadi sumber damai sejahtera bagi banyak orang. Karena itu, hati kita mesti selalu diilhami oleh cahaya Roh Kudus,” tegasnya.
Pada bagian refleksi personal, Pater Kalix membagikan pengalaman imannya sebagai imam SVD. Ia mengawali dengan pertanyaan retoris, “Bagaimana kita memaknai padang gurun kita masing-masing?” Dari pertanyaan tersebut, ia menggarisbawahi dua kunci utama dalam menghidupi ‘padang gurun’ panggilan.
Pertama, keluarga sebagai fondasi awal pembentukan nilai-nilai spiritual: pengorbanan, identitas diri, ketaatan rohani, kesederhanaan hidup, kemurnian hati, dan belas kasih tanpa pamrih. Kedua, Ekaristi dan doa sebagai pusat identitas hidup imam dan calon imam, yang menghadirkan kebebasan sejati dari berbagai keterikatan manusiawi serta meneguhkan kesetiaan dalam panggilan.
Di sela-sela penyampaian materi, cerita-cerita humor yang dibagikan membuat suasana rekoleksi tetap hidup, cair, dan penuh semangat. Antusiasme peserta tampak dari perhatian dan keterlibatan aktif sepanjang kegiatan.
Beberapa frater menyampaikan kesan mereka. Fr. Bernadus, SVD, penghuni Wisma Arnoldus Janssen Nitapleat, mengungkapkan, “Baru kali ini saya merasakan rekoleksi yang rileks, sehingga pesan-pesannya mudah terserap.” Sementara itu, Fr. Fian Sangguk, SVD, menambahkan, “Rekoleksi kali ini sungguh hidup dan juga selesai tepat waktu, tanpa bertele-tele.”
Rekoleksi ini diikuti oleh para frater dari berbagai unit komunitas, serta dihadiri pula oleh anggota Asrama St. Agustinus dan Beata Yosefa. Beberapa suster dari Kongregasi SSpS turut ambil bagian, memperkaya suasana kebersamaan dalam semangat persaudaraan religius.
Kegiatan rekoleksi ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh Pater Kalix. Dalam suasana hening dan penuh refleksi, para peserta diajak menyerahkan kembali perjalanan panggilan mereka kepada Tuhan, agar masa Prapaskah ini sungguh menjadi waktu rahmat untuk memperdalam komitmen sebagai religius dan misionaris SVD.*
*Fr. Gonsi Kusman, SVD




Comments