Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero Hadiri Tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Larantuka
- 1 day ago
- 5 min read

Komunitas Seminari Tinggi Santo Paulus Ledalero turut ambil bagian dalam perayaan tahbisan episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Keuskupan Larantuka yang berlangsung di Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu (11/2/2026).
Pater Rektor bersama beberapa pater serta utusan frater dari setiap unit hadir dalam perayaan yang diikuti ribuan umat tersebut. Pater Pice Pice Dori, SVD, salah satu anggota Dewan Rumah Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, menilai perayaan tahbisan berlangsung dengan liturgi yang tertata baik dan sarat makna.
“Bagi saya, liturgi memperhatikan hal-hal esensial, tidak bertele-tele dan indah, mengekspresikan dengan jelas bidang keahlian uskup terpilih,” ujarnya.
Ia juga melihat tahbisan ini sebagai peristiwa yang menyatukan kembali umat dalam wilayah Keuskupan Larantuka yang bercorak kepulauan.
“Peristiwa ini, setelah sekian lama dalam sejarah dioses Larantuka berhasil mengumpulkan dan mempersatukan kembali umat Allah dalam dioses dengan wilayah kepulauan; umat dari berbagai latar belakang suku, agama dan ras dalam terang moto uskup terpilih: Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes,” katanya.
Menurut Pater Pice, tahbisan yang berlangsung di Gereja lokal memiliki makna rohani yang mendalam bagi umat.
“Tahbisan yang terjadi langsung di Gereja lokal adalah kesempatan berahmat untuk membaharui dan memperkuat rasa cinta dan rasa memiliki Gereja Katolik yang secara konkret terungkap melalui Gereja lokal,” tuturnya.
Ketua Fratres, Frater Loys Adiman, SVD, juga menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro. Menurutnya, momen ini bukan hanya peristiwa gerejawi, tetapi juga peristiwa formatif bagi para frater.
“Kami para frater melihat tahbisan ini sebagai kesaksian bahwa panggilan Tuhan sungguh nyata dan terus bekerja dalam Gereja. Tahbisan Mgr. Hans menjadi inspirasi bagi kami untuk mempersiapkan diri dengan lebih sungguh, rendah hati, dan setia dalam proses formasi,” ungkapnya.
Ia berharap agar kepemimpinan Uskup Hans semakin meneguhkan persatuan umat, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial seperti kemiskinan, ketidakadilan, dan krisis ekologis yang juga disoroti dalam homili penahbisan.
“Semoga Bapa Uskup senantiasa dikuatkan Roh Kudus untuk menjadi gembala yang merangkul semua, terutama mereka yang kecil dan tersisih. Kami di Ledalero berkomitmen untuk terus mendukung dalam doa dan kesetiaan pada panggilan misi Gereja,” tambah Frater Loys.
Tahbisan Uskup Larantuka
Ribuan umat memadati Gereja Katedral Reinha Rosari Larantuka, untuk menyaksikan tahbisan episkopal Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Keuskupan Larantuka. Perayaan yang berlangsung sekitar empat jam itu menjadi momentum penting bagi Gereja lokal sekaligus ruang perjumpaan antara Gereja dan pemerintah.
Mgr Hans Monteiro resmi ditunjuk Paus Leo XIV pada 22 November 2025 untuk menggantikan Mgr. Fransiskus Kopong Kung. Dalam perayaan tersebut, Mgr. Fransiskus Kopong Kung bertindak sebagai uskup penahbis utama, didampingi dua uskup ko-konsekrator, yakni Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden dan Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu.
Perayaan dihadiri puluhan uskup dari berbagai keuskupan di Indonesia, termasuk Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, Kardinal Ignatius Suharyo, serta sejumlah uskup emeritus. Tercatat pula sekitar 300 imam ambil bagian dalam perayaan tersebut. Hadir mewakili Takhta Suci, pejabat Nuntio Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Michael A. Pawlowicz.
Dari unsur pemerintah, tampak Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Ketua DPRD NTT Emelia Nomleni, anggota DPR RI Melchias Mekeng, para bupati dan wakil bupati se-Flores, serta sejumlah pejabat daerah lainnya. Umat dari berbagai agama juga hadir, memperlihatkan kuatnya nuansa persaudaraan dalam masyarakat Lamaholot.
“Gereja Harus Jadi Sakramen Keselamatan”
Dalam khotbahnya, Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden menyoroti berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, mulai dari kemiskinan ekstrem, kekerasan terhadap anak, praktik pinjaman online dan koperasi harian yang mencekik, hingga perdagangan orang dan kerusakan lingkungan.
Ia mengulas moto episkopal Uskup Hans, Unum Corpus, Unus Spiritus, Una Spes (Satu Tubuh, Satu Roh, Satu Harapan), sebagai panggilan untuk menjaga persatuan di tengah realitas sosial yang terbelah.
“Memberi perhatian yang istimewa kepada anak-anak dan kelompok orang dewasa dari berbagai bentuk kekerasan dan kemiskinan. Kemiskinan harta, kemiskinan relasi, kemiskinan empati, kemiskinan perhatian dan waktu. Menjaga kesatuan berarti menumbuhkan kepekaan bagi mereka yang berada di ujung keputusan terutama anak-anak. Kita turut bertanggung jawab atas luka kemiskinan yang menyayat,” ujar Mgr. Budi.
Ia juga mengingatkan tentang jurang lebar antara mereka yang hidup dalam kelimpahan dan masyarakat yang terjerat kemiskinan ekstrem.
“Antara yang berada di pusat kekuasaan dan yang terpental di wilayah pinggiran. Kita sering membangun tembok pemisah dari orang yang berbeda suku dan pilihan politik. Kita hidup dalam kecurigaan yang laten terhadap mereka yang berkeyakinan lain,” katanya.
Menurutnya, Gereja tidak boleh hanya menjadi struktur yang tertata rapi, melainkan harus menjadi sakramen keselamatan bagi mereka yang mengalami ketidakadilan, termasuk dalam kasus pencemaran air dan eksploitasi kekayaan alam yang merusak ekosistem.
Paus Memilih untuk Mengasihi
Pejabat Nuntio Kedutaan Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Michael A. Pawlowicz, menyampaikan pesan Takhta Suci sekaligus ucapan terima kasih kepada Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung atas pengabdian panjangnya.
“Monsinyur Hans, Paus Leo XIV memilih Anda sebagai uskup untuk mengasihi Gereja Kristus dan untuk menjadi gambaran kasih Bapa yang hidup bagi kita semua. Saya percaya bahwa Anda akan melakukan hal ini dengan semangat dan kemurahan hati,” ujar Michael.
Sementara itu, Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin mengajak umat untuk tetap bersatu sebagai satu tubuh, meskipun berbeda latar belakang.
Mgr. Fransiskus Kopong Kung pun meminta seluruh umat, para imam, biarawan-biarawati, serta pemerintah daerah untuk mendukung kepemimpinan Uskup Hans dalam membangun Gereja lokal.
Sinergi dengan Pemerintah
Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menilai tahbisan ini sebagai momentum mempererat sinergi antara Gereja dan pemerintah daerah.
Ia menekankan pentingnya solidaritas dan kepedulian sosial sejalan dengan moto episkopal Uskup Hans. Menurutnya, “harta karun Gereja” adalah mereka yang hidup miskin dan terpinggirkan.
Gubernur juga mengajak Gereja untuk terus terlibat dalam upaya pemberdayaan masyarakat, termasuk mendukung program pemerintah seperti promosi UMKM melalui NTT Mart.
“Saya Datang sebagai Pelayan”
Dalam sambutannya, Mgr. Hans Monteiro menegaskan bahwa tahbisan episkopal bukanlah kehormatan pribadi, melainkan panggilan pelayanan.
“Saya datang bukan sebagai pemilik Gereja, tetapi sebagai pelayan persekutuan umat,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa menjadi uskup adalah panggilan dan rahmat Allah melalui Gereja, bukan ambisi pribadi. Dalam terang ajaran Konsili Vatikan II Lumen Gentium 21, episkopal adalah kepenuhan sakramen tahbisan yang menempatkan seorang uskup dalam kesinambungan para rasul sebagai tanda kehadiran Kristus di tengah umat-Nya.
Secara khusus, Katedral Larantuka memiliki makna mendalam baginya. Di gereja itu ia menerima sakramen baptis, komuni pertama, tobat pertama, krisma, ditahbiskan menjadi imam, dan kini menerima kepenuhan imamat sebagai uskup.
“Hari ini saya menerima kepenuhan rahmat imamat,” ujarnya.
Ia juga menyapa para penyintas erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki yang masih tinggal di hunian sementara serta warga di sekitar Gunung Ile Lewotolok di Lembata.
“Dalam situasi ini Gereja dipanggil untuk hadir, mendengarkan, dan menemani dengan kasih,” kata Mgr. Hans.
Dengan kehadiran berbagai unsur Gereja, pemerintah, dan umat dari beragam latar belakang, tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro bukan hanya menjadi tonggak baru bagi Keuskupan Larantuka, tetapi juga penegasan bahwa Gereja terus berjalan bersama umat, dalam satu tubuh, satu roh, dan satu harapan.*
*Fr. Febry Suryanto, SVD




Comments