Menjadi Sukses di Era Penuh Kompetisi? Mengapa Anak Muda Mesti Belajar dari Sosok St. Yosef Freinademetz?
- seminaritinggileda
- 2 hours ago
- 4 min read

Oleh: Fr. Sandry Anjelinus
Sobat Soverdian, hari ini terasa istimewa bukan hanya bagi segenap keluarga Soverdian di seluruh dunia, tetapi juga bagi siapa saja yang pernah mendengar atau membaca kisah hidup St. Yosef Freinademetz. Sosok yang fenomenal bagi dunia dan Gereja, khususnya Gereja Katolik di China, terlebih sejak Paus Yohanes Paulus II mengkanonisasikannya sebagai santo pada 23 Oktober 2003. Hari ini menjadi istimewa karena dirayakan sebagai hari pestanya. Lalu, bagi kaum muda, nilai apa yang bisa “di-copy” dari sosok misionaris ulung ini?
Kita hidup di zaman yang sangat kompetitif. Kesuksesan kerap diukur dari kecepatan, kecerdasan strategis, popularitas digital, jabatan prestisius di usia muda, penghasilan besar melalui kerja tanpa henti, konsumsi barang dan gaya hidup mewah demi status sosial dan privilese, bahkan tubuh yang dianggap ideal dan memesona. Dunia hari ini barangkali tepat jika didefinisikan sebagai dunia kompetisi tanpa jeda; hiruk-pikuk, serba instan, dan melelahkan.
Di tengah situasi itu, St. Yosef Freinademetz justru tampil sebagai paradoks yang mengganggu logika modern. Ia bukan lahir dari keluarga berprivilege, bukan figur yang viral, dan bukan pribadi yang mengejar kemenangan instan. Ia adalah seorang misionaris yang memilih jalan sunyi: meninggalkan tanah air, identitas superior Eropa, dan kenyamanan demi panggilan yang tidak menjanjikan apa pun selain kesetiaan.
Tulisan ini tidak sekadar mengulas siapa St. Yosef Freinademetz, melainkan mencoba menjawab apa arti sukses dan mengapa anak muda perlu belajar dari nilai-nilai hidup seorang misionaris sejati di tengah dunia yang memuja hasil cepat dan kepuasan sesaat. Freinademetz mengajukan pertanyaan radikal: apakah hidup tentang menang, atau tentang makna?

Jejak Hidup Sang Misionaris
St. Yosef Freinademetz lahir pada tahun 1852 di Oies, sebuah desa kecil di Tyrol Selatan, Italia. Ia berasal dari keluarga petani sederhana dan tumbuh dalam kultur kerja keras, disiplin, serta iman yang mendalam. Setelah ditahbiskan sebagai imam diosesan, ia merasa bahwa hidup yang nyaman belum cukup menjawab panggilan batinnya. Ia lalu memilih bergabung dengan Serikat Sabda Allah (SVD), sebuah kongregasi misi yang baru berdiri dan penuh ketidakpastian.
Pada tahun 1879, ia diutus ke China, sebuah dunia yang asing dan kerap memusuhi orang Barat. Jejak kolonialisme membuat kehadiran orang Eropa dipandang penuh kecurigaan. Di sana, ia menghadapi kesulitan bahasa, penolakan sosial, konflik politik, kemiskinan ekstrem, dan ancaman kekerasan. Bahkan dalam satu kisah yang amat getir, ia pernah dipaksa makan kotorannya sendiri oleh penguasa setempat karena dituduh sebagai provokator. Meski tuduhan itu akhirnya terbukti fitnah, St. Yosef tidak membalas dengan dendam, melainkan dengan cinta.
Alih-alih menjaga jarak, Freinademetz justru melebur dalam budaya lokal. Ia belajar bahasa Mandarin secara intensif, mengadopsi gaya hidup masyarakat setempat, dan berkata, “Aku ingin menjadi orang Cina di antara orang Cina.” Pernyataan ini bukan sekadar strategi misi, melainkan pilihan eksistensial. Ia tidak membawa Eropa ke China, tetapi menghadirkan Injil melalui bahasa dan pengalaman hidup orang China.
Ketika ia wafat pada tahun 1908 karena tifus, orang-orang China berkata, “Ia bukan orang asing. Ia adalah salah satu dari kami.”
Selama pelayanannya di tanah misi, Freinademetz mengalami diskriminasi budaya, penolakan sosial, kemiskinan ekstrem, dan tekanan politik. Namun, ia berhasil membaptis kurang lebih tiga puluh ribu orang, mendidik katekis, serta terlibat dalam karya sosial dan kesehatan.
Keberhasilannya bertumpu pada integritas diri yang kokoh: hidup doa yang mendalam, ketekunan dalam pelayanan, kedisiplinan, kesabaran, dan kesetiaan. Nilai integritas inilah yang menjadi “berlian” langka dan berharga untuk diteladani oleh anak muda masa kini.
Dunia Modern: Kompetisi Tanpa Ampun
Jika St. Yosef Freinademetz hidup hari ini, ia akan berhadapan dengan dunia yang tak kalah keras. Dunia digital membuka peluang tanpa batas, tetapi sekaligus menciptakan kompetisi yang nyaris tidak manusiawi. Anak muda hidup di bawah tekanan untuk cepat, unggul, dan relevan, atau tersingkir.
Data menunjukkan realitas tersebut. Dilansir Antara News (19 Juni 2025), tingkat pengangguran pemuda usia produktif di Indonesia masih signifikan, sekitar 8 persen, sementara di Asia Tenggara mencapai sekitar 13,1 persen. Kompetisi di sektor ekonomi digital pun semakin ketat. Secara global, ekonomi digital menciptakan jutaan peluang kerja, tetapi hanya sebagian kecil yang menikmati stabilitas. Mayoritas pekerja hidup dalam ketidakpastian dan tekanan performa tinggi.
Artinya, generasi muda bukan hidup dalam kekurangan peluang, melainkan dalam kelebihan pesaing. Dunia tidak lagi bertanya siapa yang baik, tetapi siapa yang paling cepat, paling adaptif, dan paling tahan banting. Di tengah realitas inilah Freinademetz tampil provokatif: ia tidak mengejar kecepatan, melainkan kesetiaan; bukan popularitas, melainkan kedalaman; bukan kemenangan, melainkan makna.
Spiritualitas Ketekunan: Sebuah Kritik terhadap Mentalitas Instan
Budaya digital melahirkan ilusi bahwa kesuksesan dapat diraih secara instan. Media sosial membentuk imajinasi bahwa hidup adalah panggung kompetisi, di mana yang tampak menang dianggap berhasil. Namun Freinademetz menunjukkan bahwa hidup yang bermakna justru dibangun dalam kesunyian, kegagalan, dan kesetiaan yang tak terlihat.
Ia merepresentasikan etika kebajikan Aristoteles: kebajikan bukan peristiwa spektakuler, melainkan hasil latihan panjang yang membentuk karakter. Ia juga mencerminkan orientasi Plato tentang kebaikan tertinggi, hidup yang diarahkan bukan pada kepuasan sesaat, tetapi pada nilai yang melampaui diri.
Bagi anak muda, Freinademetz adalah kritik keras terhadap mentalitas instan. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan tanpa ketekunan itu rapuh, dan ambisi tanpa makna itu kosong. Di era kompetisi, yang bertahan bukan hanya yang paling pintar, tetapi yang paling setia.
Apa Itu Sukses?
St. Yosef Freinademetz mengajarkan bahwa sukses bukan semata hasil, melainkan proses. Hidup yang bermakna tidak selalu tampak berhasil menurut ukuran dunia. Di dunia yang memuja kecepatan, ia mengajarkan kesabaran. Di dunia yang memuja kecerdasan, ia meneladankan kerendahan hati. Di dunia yang memuja kemenangan, ia menghidupi kesetiaan.
Barangkali hari ini banyak anak muda bertanya bagaimana bertahan di era kompetisi. St. Yosef Freinademetz menjawab dengan sederhana, namun mengguncang: jangan hanya berusaha menang, tetapi beranilah setia. Sebab dalam kesetiaan itulah manusia menemukan makna.




Comments