Komunitas Ledalero Rayakan Misa Pesta St. Yosef Freinademetz, Misionaris Sulung SVD
- seminaritinggileda
- 34 minutes ago
- 2 min read

Komunitas Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero merayakan Pesta Santo Yosef Freinademetz, misionaris ulung Serikat Sabda Allah (SVD), dalam perayaan Ekaristi yang berlangsung khidmat di Kapela Agung Ledalero, Kamis (29/1) pagi. Misa dihadiri oleh seluruh anggota komunitas.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Lorens Woda, SVD, dan didampingi oleh sejumlah imam konselebran. Liturgi misa dilayani oleh para frater dari Unit Yosef, sementara koor dibawakan oleh frater-frater Unit Gabriel.
Dalam khotbahnya, Pater Lorens mengangkat tema “Anak Gunung Penebar Cinta”, sebuah ungkapan yang merangkum perjalanan hidup Santo Yosef Freinademetz. Ia menyinggung latar belakang Freinademetz sebagai putra desa pegunungan di Tyrol Selatan, Italia, yang dibentuk oleh iman sederhana, ketekunan hidup, dan kepekaan rohani yang kuat sejak masa kecil.
Freinademetz, menurut Pater Lorens, membawa “pengalaman gunung” itu ke tanah misi. Bukan sebagai romantisme asal-usul, melainkan sebagai proses pembentukan batin yang menuntunnya pada puncak panggilan: penyerahan diri total dalam karya perutusan. Tanah misi, dalam konteks itu, menjadi ruang konkret bagi kesetiaan iman yang dijalani hari demi hari.
Pater Lorens juga menyoroti pilihan Freinademetz yang meninggalkan kenyamanan hidup sebagai imam diosesan demi mengikuti panggilan misi. Keputusan itu lahir dari ketaatan pada Sabda Tuhan yang terus menggelisahkan batinnya. Ia berangkat ke Cina pada 1879 dan menjalani seluruh sisa hidupnya di sana tanpa pernah kembali ke tanah kelahirannya.
Dalam pelayanan di Cina, Freinademetz dikenal sebagai misionaris yang sungguh membaur dengan umat. Ia belajar bahasa setempat, menghayati budaya lokal, dan hidup senasib dengan masyarakat yang dilayaninya.
“Ia tidak datang sebagai orang luar yang membawa segalanya dari jauh, tetapi sebagai saudara yang belajar berjalan bersama umat,” ungkap Pater Lorens.
Kesetiaan itu tampak nyata ketika situasi misi diliputi penganiayaan dan ketidakpastian. Freinademetz memilih tetap tinggal bersama umat, bahkan ketika keselamatan dirinya terancam. Baginya, misi bukanlah proyek jangka pendek, melainkan panggilan hidup yang dijalani hingga akhir.
Perayaan Ekaristi ini sekaligus menjadi momen penting bagi komunitas Ledalero dengan penerimaan kembali tiga konfrater, yakni Frater Ertus Pangu, Frater Hendrik Making, dan Frater Ivan Mali, untuk memulai masa insersi. Ketiganya diterima kembali dalam komunitas sebagai bagian dari tahapan pembinaan dan pendalaman panggilan hidup religius-misioner.*
*Fr. Febry Suryanto, SVD.



Comments