Dari Realitas ke Panggung, dari Panggung ke Kesadaran: Rekreasi dan Pendampingan Kelompok Teater Aletheia Ledalero
- Apr 12
- 2 min read

Kelompok Teater Aletheia, salah satu kelompok minat di Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, menggelar kegiatan bimbingan belajar di Pantai Krokowolon, Desa Namangkewa, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, pada Minggu (12/4/2026). Kegiatan ini menjadi wadah pembentukan karakter sekaligus menjaga kekompakan dalam tubuh anggota teater.
Teater tidak hanya sekadar kelompok seni pertunjukan, melainkan juga cermin pembentukan karakter individu secara utuh. Dalam prosesnya, Teater Aletheia menuntut para anggotanya untuk menjadi pribadi yang jujur, disiplin, berani, serta mampu melihat dan merefleksikan diri secara mendalam.
Oleh karena itu, kegiatan di alam terbuka dipilih sebagai salah satu bentuk pengembangan metode latihan yang lebih kontekstual, sekaligus sarana untuk mengenal lebih dalam sejarah Teater Aletheia.
Pemilihan Pantai Krokowolon sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Alam dipandang sebagai ruang yang jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan pengalaman batin yang lebih mendalam.
“Panggung adalah dunia kecil yang merekam dunia besar. Di sini, setiap dialog adalah potret kehidupan. Adegan-adegan adalah cerminan zaman,” ujar Fr. Grey saat membuka rangkaian kegiatan.
Kegiatan ini berlangsung di ruang terbuka dan diikuti oleh seluruh anggota komunitas Teater Aletheia. Dengan latar panorama Pantai Krokowolon, para peserta menjalani kegiatan dengan penuh sukacita. Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh Shella Ana Wulang, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Fr. Yohan selaku ketua komunitas teater.
Dalam sambutannya, Fr. Yohan menjelaskan sejarah munculnya nama Teater Aletheia. “Sebelum munculnya teater ini, sudah ada kelompok kecil bernama Teater Seru. Dalam perjalanan waktu, dengan mempertimbangkan berbagai aspek, nama itu kemudian diubah,” ujarnya.
Ia juga memaparkan perkembangan komunitas, mulai dari awal berdiri hingga struktur kepemimpinan saat ini. Informasi tersebut diperolehnya dari wawancara dengan P. Yohan Wadu, SVD, ketua pertama Teater Aletheia Ledalero.
“Aletheia bukan hanya kelompok yang hidup di atas panggung, tetapi juga membantu membentuk karakter para anggotanya,” tambahnya.
Senada dengan itu, moderator Teater Aletheia, P. Felix Baghi, SVD, menekankan pentingnya pembentukan mental pemeran serta hubungan antara realitas dan pementasan melalui tema besar “Dari Realitas ke Panggung, dari Panggung ke Kesadaran”.
Dalam refleksinya, ia menegaskan bahwa teater merupakan representasi dari dunia nyata yang diangkat ke atas panggung untuk membantu penonton memaknai kembali realitas tersebut.
Ia juga mengaitkan hal ini dengan konsep tiga mimesis menurut Paul Ricoeur, yakni prafigurasi (kenyataan hidup), konfigurasi (realitas yang disusun dalam bentuk pementasan), dan refigurasi (proses memahami dan menafsir kembali).
Di tengah suasana alam terbuka, para anggota tidak hanya membangun kekompakan, tetapi juga diajak membaca realitas sosial yang sedang terjadi, terutama di tengah dunia yang semakin kehilangan nilai-nilai moral.
Kegiatan ini turut diwarnai penampilan dari salah satu anggota, Fr. Alfan Lamatokan, yang membacakan puisi berjudul “Kau Ini Bagaimana dan Aku Ini Harus Bagaimana” karya Gus Mus. Pembacaan puisi ini menjadi bentuk refleksi atas pengalaman hidup dan realitas sosial yang masih terus dialami masyarakat.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa Teater Aletheia bukan semata-mata ruang seni pertunjukan, melainkan juga medium pembinaan mental dan karakter. Alam Pantai Krokowolon menjadi cermin yang jujur, tempat para anggota diuji untuk berani tampil, sekaligus belajar memahami diri sendiri dan sesama.*
*Fr. Berlin Lein, SVD




Comments