JPIC SVD Ende, TRUK-F, dan Suster SSpS Salurkan Bantuan Korban Gempa di Desa Nitung Lea
- 16 hours ago
- 3 min read

Tim relawan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) SVD Ende, Perkumpulan Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F), dan Suster-suster SSpS Flores Timur, menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Desa Nitung Lea, kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bantuan itu diantar dan dibagikan secara langsung oleh rombongan yang beranggotakan 25 orang tersebut kepada para penyintas di wilayah Nitung Lea pada Minggu (23/08/2026).
Pembagian bantuan dilakukan dengan berbasiskan data yang telah diperoleh dari aparat desa. Hal ini bertujuan agar bantuan diperoleh secara adil dan merata oleh masyarakat yang membutuhkan. Ketua rombongan Pater Vande Raring, SVD mengungkapkan bahwa penyaluran bantuan yang tidak berbasis data sering kali menciptakan diskriminasi dan menimbulkan luka batin bagi para korban.
“Membagi bantuan itu berarti bekerja untuk kemanusiaan sehingga semua masyarakat, baik dari bayi sampai lansia mendapat hak yang sama. Bagi kami, keadilan itu memberikan apa yang menjadi hak warga di saat mereka menderita. Jadi, kami tidak mau menimbulkan ketidakadilan baru pada saat bencana seperti ini”, ungkap Pater Vande.
Berdasarkan data, total penerima bantuan di Desa Nitung Lea adalah 380 Kepala Keluarga (KK) dengan 952 jiwa. Angka tersebut merupakan jumlah penduduk yang menetap di desa, tidak termasuk warga yang merantau.
Dukungan kemanusiaan yang disalurkan mencakup bahan pangan, air mineral, obat-obatan, hingga perlengkapan khusus perempuan dan anak. Selain bantuan logistik, para suster dari kongregasi SSpS yang berprofesi sebagai perawat memberikan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis serta pendampingan pemulihan trauma (trauma healing) bagi anak-anak.
Rincian Distribusi Bantuan
Berikut rincian bantuan kemanusiaan yang disalurkan kepada masyarakat Desa Nitung Lea:
· Beras: sebanyak lima ton beras disalurkan dengan alokasi 5 kg per jiwa.
· Air mineral: sebanyak 600 dus air mineral dibagikan berdasarkan ukuran keluarga. KK beranggota hingga lima jiwa menerima satu dus, sedangkan KK dengan enam jiwa ke atas mendapat dua dus.
· Obat-obatan: dari seluruh warga yang menjalani pemeriksaan kesehatan, sebanyak 72 pasien yang memenuhi kriteria medis menerima paket obat-obatan.
· Perlengkapan kebutuhan perempuan dan anak: disalurkan sejumlah 94 paket perlengkapan kebutuhan perempuan dan 78 paket perlengkapan anak.

Dukungan Psikososial bagi Penyintas
Di samping menyalurkan bantuan logistik, tim relawan yang terdiri dari para pastor, frater SVD serta suster SSpS tersebut juga turut memberikan dukungan psikososial bagi para penyintas gempa bumi di Desa Nitung Lea.
Selama tiga hari berada di lokasi, para relawan berbaur langsung dengan warga melalui kunjungan ke rumah-rumah. Suasana kehangatan tercipta lewat interaksi hangat, canda gurau, hingga bernyanyi bersama para korban.
Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya trauma healing untuk membangkitkan kembali semangat dan optimisme warga pasca bencana.
Suara Penyintas: Bantuan Merata dan Sentuhan Kemanusiaan di Desa Nitung Lea
Kehadiran tim relawan membawa rasa syukur dan kegembiraan mendalam bagi warga terdampak bencana di Desa Nitung Lea. Bantuan yang diantarkan langsung ke pemukiman warga memberikan kemudahan dan kenyamanan di tengah kondisi darurat.

Mama Rayneldis Armida Sopu (38), yang akrab disapa Mama Ida, mengungkapkan rasa syukurnya karena tim relawan mendatangi langsung lokasi warga. Menurutnya, hal ini sangat membantu karena warga tidak perlu berjalan kaki menuju posko pusat distribusi.
Senada dengan Mama Ida, Bapak Konsalis Salu (66) mengapresiasi dukungan yang diberikan di tengah situasi sulit yang dialami warga.
"Sekarang ini kami susah. Rumah kami hancur, bak-bak air kami pecah semua karena gempa. Jadi, dengan bantuan ini kami betul-betul terbantu. Ini kali kedua saya menerima bantuan, dan saya senang karena kali ini jumlahnya besar. Kami ucapkan terima kasih banyak," tutur Konsalis.
Selain kemudahan akses, keadilan dalam pembagian bantuan juga menjadi catatan penting bagi warga. Bapak Gabriel Timu (46) dan Bapak Thomas Tongge (54) mengapresiasi skema penyaluran yang dinilai adil dan merata.
"Kami senang karena bantuan dibagikan secara adil untuk semua. Kami juga tidak perlu berjalan kaki ke posko untuk mengambil bantuan—hal yang sebelumnya harus kami lakukan dengan rasa takut karena masih trauma gempa. Bahkan, kami kadang tidak mendapat bantuan makanan karena sudah dihabiskan warga lain yang sampai lebih cepat," ungkap Gabriel dan Thomas.
Kehadiran fisik relawan di lapangan juga memberikan dukungan psikologis yang berarti bagi penyintas lanjut usia. Oma Maria Lanu (84) menyampaikan kesan emosional atas pendampingan dari tim relawan.
"Kamu datang itu, kamu hibur kami. Kalau kamu sudah pulang, kami sedih lagi karena ingat dengan gempa," pungkas Oma Maria.
Ditulis oleh: Fr. Laurentius Florido Atu, SVD




Comments